banner 728x90

Pernak Pernik Generasi ‘ Lulusan ‘ Corona

Pernak Pernik Generasi ‘ Lulusan ‘ Corona

Sebagai lulusan angkatan corona 2020 atau lebih tepatnya lulus di era pandemi Covid-19 yang berkecamuk di tahun 2020, menyusun perencanaan karir bisa dibilang susah-susah gampang. Berbagai sektor industri babak belur terhantam dampak dari pandemi.
Ada yang terhantam, tumbang dan malah ada yang berkembang. Meski kalau dihitung relatif banyak juga industri yang tumbang.

Mencari pekerjaan yang pada dasarnya cukup sulit menjadi lebih sulit. Orang-orang “ fresh graduate ” harus bersaing dengan orang-orang berpengalaman yang di PHK oleh perusahaannya (karena terhantam covid) untuk memperebutkan berbagai posisi yang tersedia.

Perguruan tinggi pun nampak tidak baik-baik saja. Mereka terus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Jangankan menjamin lulusan dan mahasiswanya, menjamin keberlangsungan dan kegiatan operasionalnya pun nampak tidak jelas.

Yaa, sudah bukan masanya menyalahkan perguruan tinggi atas apa yang terjadi. Ini mungkin hanya bentuk kekesalan saya (secara) pribadi yang merasa tidak berkembang dengan baik di kampus.
Dahulu, di kampus saya mengambil jurusan pariwisata. Disukai atau tidak dunia pariwisata merupakan salah satu sektor industri yang paling terhantam oleh pandemi Covid-19.

Sedangkan ijazah D-3 Program Studi Usaha Perjalanan Wisata merupakan senjata saya yang paling pamungkas untuk bersaing di dunia kerja. Yaa mungkin dilengkapi dengan sertifikat-sertifikat dan surat keterangan pendamping ijazah yang entah bakal berguna atau tidak.

Jujur saja, untuk bersaing di industri saya masih merasa belum siap tempur. Saya belum memiliki keahlian lapangan yang mumpuni, saya mengakui selama kuliah saya tidak belajar dengan serius. Semua sertifikat yang saya punya hanya menunjukan bahwa saya pernah mengikuti kegiatan atau pelatihan, bukan menunjukan bahwa saya sudah mengimplementasikan suatu ilmu, keahlian dan keterampilan.

Jikapun disuruh untuk berwirausaha, saya tidak punya pengalaman serius di bidang kewirausahaan. Mata kuliah pengantar bisnis dan mata kuliah kewirausahaan hanya sebatas formalitas untuk mendapatkan nilai. Teori-teori yang diajarkan tidak ditindaklanjuti dan juga tidak melibatkan uang sungguhan, semuanya hanya pengandaian dengan kata ” jika “, ” bilamana “, ” andaikata ” dan lain sebagainya.

Telinga semakin panas. Orang rumah dan tetangga sekitar terutama di Indonesia senang sekali menanyakan nasib seseorang, baik ke individunya maupun ke keluarganya,
“ sekarang sudah kerja dimana ? ”
“ Gajinya berapa ? ”
dan lain lain.

Seolah-olah kadar atau tingkatan tentang “ siapa ” seseorang dinilai dari pekerjaanya, uang dalam dompetnya dan pakaian apa yang dipakainya.
Padahal, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya untuk mendapatkan kata “ ooh ”.

Keadaan menjadi semakin ‘ stressful ‘ ketika anggaran mingguan dari orang tua dipotong secara bertahap hingga akhirnya diberhentikan. Hal ini dilakukan sebab alokasi anggaran diprioritaskan untuk biaya pendidikan adik atau kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Selama beberapa minggu saya memutar otak, mencari recehan dan bertahan dengan uang belasan ribu di kantong. Tidak ada lagi nongkrong-nongkrong gak jelas, tidak ada lagi jajan buku (dialihkan menjadi pinjam) bahkan tidak ada lagi jajan ke warung, bahkan untuk sekedar beli permen atau jajanan, sebab setiap ribu sangat berarti dan terasa.

Itulah sekelumit cerita terkait angkatan Corona 2020. Meski begitu, guru saya pernah mengajarkan,
“ Kepercayaan adalah modal terbesar di sa’at kita tidak mempunyai apa-apa. Doa adalah upaya spritiual sebagai ciri seorang manusia. ”

Hal tersebut sejalan dengan yang diajarkan ayah saya, masalah ada bukan untuk diratapi, tetapi untuk dicarikan solusi.

Maka dari itu, saya mengerti bahwa di dunia dan bumi manusia segala sesuatu harus diusahakan. Dalam berusaha, kepercayaan adalah modal terbesar, maka saya percaya bahwa saya akan sukses dan menghasilkan sesuatu yang hebat. Segala hal tersebut harus imbangi dengan doa, doa pribadi ditambah dengan meminta doa dari orang tua.
Saat ini pun saya sedang mengusahakan apa yang bisa lakukan untuk meng-upgrade diri dan memetakan peluang yang ada.

Intinya menggunakan filosofi Copet,
“ Melihat Peluang dan Bergerak di Saat Bersamaan ”.

To be continued…

Cimahi, Minggu, 5 Desember 2020

Angkatan Corona 2020,
Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan