banner 728x90

Sejak Nusantara Sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia : Perebutan Kekuasaan dan Tahta Adalah Nyata !

Sejak Nusantara Sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia : Perebutan Kekuasaan dan Tahta Adalah Nyata !
Masa Kolonial di Indonesia (Kemendikbud.go.id)

Raja meneruskan kekuasaan dan tahta ayah (& ibu) dan atau pamannya merupakan sebuah kewajaran, biasa.

Benarkah bumi atau dunia ini ALLOOH Tuhan YME dicipta hanya demi dan untuk seorang atau seseorang bahkan keluarga yang biasa manusia sebut raja, ratu atau dinasti (keluarga/keturunan) kerajaan ?

Adakah putra mahkota (calon penerus/pengganti raja berkuasa) itu ?

Kalaulah benar bahwa bumi atau dunia beserta isinya hanya milik raja atau ratu, maka manusia selain mereka yang sering orang sebut rakyat ‘rahayat’ atau masyarakat atau penduduk atau warga negara dan apapun istilah yang ter-/di-sematkan punya hak dan bisa jadi pemilik dan penguasa bumi atau dunia beserta isinya ?

ALLOOH benar menciptakan bumi atau dunia beserta isinya hanya dan demi untuk para raja atau ratu saja, maka DIA pasti hanya menciptakan manusia secukupnya sesuai kebutuhan dan sampai bumi/dunia ini hancur lebur atau qiamat.

Satu hal yang pasti dan wajib terjadi yaitu manusia, raja dan ratu serta keturunannya tidak akan pernah bersengketa, berseteru, berebut dan berlawanan karena kekuasaan dan tahta.
Faktanya Nabi Adam ‘Alaihis-Salaam (AS) dan Siti Hawa tidak pernah bertengkar dan bersengketa sedikitpun ketika hidup di alam surgawi. Begitupun setelah diturunkan ke alam dunia.

Masalah mulai muncul ketika Nabi Adam dan Siti Hawa beranak pinak.
Peristiwa pembunuhan yang Qobil lakukan atas Habil adik kandungnya sendiri merupakan tonggak sejarah awal pembunuhan yang manusia lakukan karena masalah kekuasaan.
Setelah peristiwa ini, maka pembunuhan atas dasar berebut kekuasaan dan tahta senantiasa mewarnai perjalanan sejarah manusia sepanjang masa.

Manusia, kebudayaannya dan peradabannya silih berganti.
Peristiwa, tragedi dan dramatisasi pembunuhan pun senantiasa setia menemani atas nama penegakan keadilan.

Para Raja Nusantara menjadi bagian pelakon pembunuhan atas dasar perebutan kekuasaan dan tahta.
Secara langsung berperang antar sesama keluarga maupun dengan lintas raja dari kerajaan yang berbeda.

Seorang anak membunuh bapak, bapak membunuh anak, kakak membunuh adik dan adik membunuh kakak, paman membunuh keponakan dan keponakan membunuh paman sampai suami – isteri juga saling bunuh.
Apalagi pembunuhan antar raja dan kerajaan yang berbeda sama sekali.

Jayadharma seorang Raja Sunda dibunuh oleh adik kandungnya sendiri, maka sang adik pun jadi Raja Sunda.
Jayadharma punya anak bernama Raden Wijaya dari seorang ibu yang keturunan dari Ken Arok/Angrok dan Ken Dedes penguasa Kerajaan Singhasari.
Akhir penderitaan Raden Wijaya membawa keberkahan jadi pendiri dan penguasa Kerajaan Majapahit.

Catatan Kerajaan Islam Nusantara pun sangat kelam.
Sultan Agung Mataram yang sangat anti VOC Belanda (inipun berlatar perebuatan kekuasaan) mempunyai anak bernama Amangkurat I.
Setelah Amangkurat I naik tahta, ternyata dia menjelma jadi sosok Raja yang kejam.
Bertolak belakang dengan bapaknya, dia pro VOC Belanda dan membunuh lebih dari 6.000 para ‘Ulama dan pengikut setia Sultan Agung Mataram (bapaknya).
Termasuk paman dia sendiri.
Diapun berseteru dan bersengketa dengan anak kandungnya sendiri.

Anaknya mengkudeta Amangkurat I (bapaknya), tapi gagal.
Begitupun Amamgkurat I meracuni anaknya supaya mati, tapi gagal juga.

Bisakah seorang rakyat jelata biasa jadi seorang raja dan penguasa ?

Bisa, sejarah Nusantara telah mencatat bahwa sudah terjadi seorang rahayat biasa dan miskin papa berhasil jadi salah seorang raja besar Nusantara dan jadi legenda.

Ken Arok/Angrok adalah seorang miskin papa, keturunan tidak jelas, penjahat kriminal tukang judi peminum dan perampok.
Terakhir jadi target operasi buruan utama fihak Kerajaan Kadiri.

Perjalanan hidup telah mengubah nasibnya.
Dia bisa jadi prajurit dan pengawal pribadi/kepercayaan Adipati Tunggul Ametung bawahan Kadiri.
Akhirnya dia bisa membunuh langsung Tunggul Ametung dan memperisteri Ken Dedes (isteri Tunggul Ametung).
Jagonya Ken Arok/Angrok, Tunggul Ametung terbunuh yang jadi tersangkanya adalah teman dekatnya sendiri sesama pengawal kepercayaan. Dia bunuh temannya dan jadilah pahlawan.
Cikal bakal Ken Arok/Angrok jadi pendiri dan penguasa Kerajaan Singhasari.

Adakah nasib Kerajaan Besar Nusantara yang hancur lebur porak poranda oleh bangsa asing VOC Belanda dan Inggris ?

Ada yaitu Kerajaan Besar Sunda.
VOC Belanda telah berhasil menghancur leburkan kebesaran dan keberadaan Kerajaan Sunda.
Sejak VOC Belanda berkuasa, maka mereka telah berhasil memburu dan membunuh para raja dan keturunan kerajaan Sunda sampai Jepang menguasai Nusantara.
Begitupun multi peninggalan kebesaran Kerajaan Sunda dihilangkan mulai artefak, manuskrip sampai sejarahnya telah berhasil mereka hilangkan dan sesatkan.

Ini penyebab utama Kerajaan Sunda dan Urang Sunda sudah ratusan tahun kehilangan kebesaran peradabannya sejak VOC Belanda berkuasa sampai sa’at ini.

Bisakah rahayat dan Urang Sunda biasa yang bukan raja dan keturunan raja menguasai dan berkuasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

Bandung, Senin, 23 November 2020

Muhamnad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan