banner 728x90

Mengenal Al Busyra (Part 1) Basnur !

Mengenal Al Busyra (Part 1) Basnur !

Ketika masih TK, anak-anak sering ditanya, “ kalau besar nanti mau jadi apa ? ” Banyak yang menjawab jadi Guru, Dokter, Pilot, Polisi dan lain-lain. Seiring berjalannya waktu, cita-cita yang terpikir di kepala anak-anak TK semakin beragam, mulai banyak yang ingin menjadi Youtuber dan Gamer Professional.

Saya rasa cukup jarang di tataran anak TK yang mempunyai cita-cita untuk menjadi Duta Besar. Hal ini mungkin karena kurangnya informasi di kepala mereka, utamanya ‘ duta besar ‘ bukan suatu profesi yang bisa dilihat dalam kegiatan sehari-hari macam Dokter atau Guru.

Memangnya apa itu Duta Besar ?

Duta Besar adalah pejabat diplomatik yang ditugaskan oleh negara untuk mengabdi bagi negara di pemerintahan asing yang berdaulat atau ke sebuah organisasi internasional untuk bekerja sebagai pejabat mewakili negerinya.
Salah satu Duta Besar (Dubes) yang menarik perhatian saya adalah Duta Besar Indonesia untuk Ethiopia merangkap Djibouti dan African Union, Al Busyra Basnur.

Beliau adalah Duta Besar yang berasal dari daerah Anding Limbanang, mempunyai latar belakang sebagai jurnalis, hobi menulis sejak SMA dan sempat ditawarkan menjadi dosen. Beliau adalah contoh nyata tokoh sukses yang lahir dengan semangat dari daerah untuk internasional.

Secara politik, beliau bertugas menjalin dan meningkatkan hubungan diplomatik dan kerjasama bidang politik, keamanan, hukum dan HAM antara Indonesia dan Ethiopia, Djibouti dan African Union.
Secara hubungan kemanusiaan, tugasnya menjalin komunikasi dan kerjasama sosial, budaya dan pendidikan antar dua negara.

Dalam wawancara eksklusif yang dilaksanakan secara online oleh Yuliandre Darwis di laman youtube-nya, Al Busyra Basnur menceritakan sepotong bagian hidupnya. Kita mengetahui, untuk menjadi Dubes bukan perkara yang mudah, ketika ditanya bagaimana ceritanya menjadi Dubes, beliau menjawab,
“ jadi singkatnya, saya juga nggak tahu bisa jadi dubes, gak kebayang lah kok bisa jadi dubes, itulah rahasia Tuhan ! ”

Al Busyra Basnur atau biasa dipanggil “ Al ” mengawali kisah dengan menceritakan kampung halamannya, Anding Limbanang yang lokasinya kurang lebih 18 km dari Payakumbuh. Lokasinya cukup terpencil, Al mengatakan baru ada mobil yang bisa melintas ketika beliau berusia 12 tahun, kurang lebih tahun 1972 an.

Ketika SD, Al bersama teman-temannya mempunyai hobi untuk mengejar mobil yang melintas dan menggantung/menggandul di bagian belakang mobil yang melintas.
Kesehariannya diisi dengan mandi di kali dan memanjat pohon, eh ujung-ujungnya bisa menjadi Dubes.

Dahulu, orang tua Al mengharapkan Al Busyra untuk menjadi dokter. Ayahnya, Basarudin adalah pegawai Depag dan Ibunya, Nurlela adalah pimpinan madrasah. Orang tuanya beranggapan dengan menjadi dokter, maka dapat menolong orang yang sakit artinya dapat meringankan beban atau penderitaan orang-orang yang sedang kesulitan karena masalah kesehatan.

Lalu, Al melanjutkan pendidikan SMP ke Dangung-Dangung, kecamatan yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota. SMP tersebut berjarak 9 km dari rumah Al, jarak tersebut ditempuh selama kurang lebih 1 jam menggunakan sepeda.

Tahun pertama, Al menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah, sistem PP/pulang pergi, bahasa Sundanya ‘ dugdag ‘. Teman yang menemaninya pergi dan pulang sekolah paling banyak hanya 2 sampai 3 orang.
Ada hal menarik, jarak antara rumah Al dan sekolah cukup jauh, beliaupun hanya bermodal sepeda sebagai transportasinya untuk ke sekolah, tetapi Al bisa dipercaya sebagai ketua OSIS dikala SMA.
Kegiatan beliau cukup padat, beliau juga ikut ekstrakulikuler pramuka.

Akhirnya, orang tua Al menyuruh beliau untuk ngekost.
“ Al, kamu tinggalkan rumah ini, kamu harus nge-kost yah, merantau ! ”
Saya memandang masa SMP beliau cukup ripuh dengan jarak yang jauh dan kondisi jalan yang berbatu (di masa itu belum beraspal). Tidak jarang Al terjatuh dari sepeda karena jalan berbatu, stang sepedanya pun sampai bengkok karena menerima guncangan tingkat tinggi setiap hari karena melewati jalan berbatu.

Sesampainya di sekolah yaa, badan dan keningnya berkeringat. Maka dari itu kedua orang tua Al menginstruksikan agar Al mencari tempat tinggal di dekat sekolah, mengingat kegiatan beliau yang cukup padat.
“ Kamu harus belajar hidup mandiri ! ” ucap orang tua Al.

Orang tua AL menganggap pengetahuan agama yang diberikan di tingkat keluarga sudah cukup dan mereka yakin Al tidak akan meninggalkan sholat.
Selain itu, Al juga sudah bisa memasak. Ketika kelas 2 sampai kelas 3 SD, Al sering membantu ibunya untuk memasak, terutama menggiling/ngulek cabai di cobek.

Di masa kecilnya, Al setiap pagi bertugas untuk mencari air. Kampung halamannya merupakan daerah berbukit, tidak ada air di sana. Orang-orang yang membutuhkan air harus turun ke bawah ke tempat mata air berada, jalan kaki kurang lebih 600 meter.

Mandi, mencuci dan sholat Shubuh dilaksanakan di dekat mata air. Ketika naik kembali, berjalan ke rumah, tangan kanan Al membawa ember berisi air minum untuk digunakan keluarga dan tangan kirinya membawa cucian, termasuk cucian ibunya.
Akses jalan yang dilewati berupa tangga seperti tangga jenjang seribu yang terdapat di Ngarai Sianok.

Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap hari ketika Al masih kecil. Tidak jarang betis Al terluka terkena sabetan dari ember alumunium yang dibawanya, ember-ember di masa itu masih terbuat dari alumunium.
“ Ini masih ada bekasnya mas kalau mau lihat ! ” ujar Al Busyra sambil menunjuk kakinya.

Bersambung…

Cimahi, Minggu, 22 November 2020

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan