banner 728x90

Alkohol : Bagian Kebudayaan Manusia dan Komoditas Bisnis Dunia

Alkohol : Bagian Kebudayaan Manusia dan Komoditas Bisnis Dunia

Dewasa ini, minuman beralkohol sudah menjadi salah satu bagian dari kebudayaan manusia dan menjadi salah satu komoditas bisnis yang penting di dunia. Padahal, minuman beralkohol berawal dari proses fermentasi pada buah yang matang berlebih. Lalu, seiring berjalanannya waktu, konsumsi minuman beralkohol menjadi bagian dari kebudayaan manusia dan dikembangkan dengan berbagai varian dan teknik pengolahan.
Hal tersebut lalu mulai melebur ke dalam pola pikir, kebiasaan dan menjadi bagian dari kebudayaan manusia.

Minuman fermentasi (beralkohol) kuno memiliki kandungan alkohol yang relatif rendah. Pada tingkatan kadar alkohol sekitar 13 %, produk sampingan dari ragi liar yang dihasilkan selama fermentasi menjadi racun dan membunuh mereka.

[ makanan tradisional ‘ peuyeum ‘ sangat jelas mengandung alkohol kadar rendah, terutama air ‘ peuyeum ketan ‘ sangat terasa rasa alkoholnya ]

Ketika ragi mati, maka proses fermentasi terhenti dan kadar alkohol menjadi turun.
Jadi, selama ribuan tahun minuman beralkohol dikonsumsi oleh umat manusia dikonsumsi dalam hitungan kandungan alkohol yang terbatas.

Hal tersebut berubah dengan penemuan dalam proses pengolahan alkohol yang bernama distilasi. Tulisan Arab abad ke-9 menggambarkan tentang cairan fermentasi yang didihkan untuk menguapkan alkohol di dalamnya.

Alkohol mendidih pada suhu yang lebih rendah dari air, sehingga menguap lebih dulu. Uap ini ditangkap dengan menggunakan alat kimia khusus dan didinginkan, maka yang tersisa dari reaksi kimia tersebut adalah alkohol cair, lebih pekat daripada minuman fermentasi apapun.

Pada awalnya, alkohol cair pekat yang lebih kuat ini hanya digunakan untuk tujuan pengobatan. Seiring berjalannya waktu, alkohol cair ini menjadi komoditas bisnis yang penting.

Hal ini dikarenakan alkohol cair ini tidak mudah rusak seperti bir dan anggur (wine). Alkohol cair ini semakin lama semakin berkembang jenisnya, ada Rum yang dibuat dari gula yang ditanam koloni-koloni Eropa di Karibia, yang dalam sejarahnya menjadi kebutuhan pokok para pelaut.

Bangsa Eropa mengembangkan Gin dan Brendi, lalu memperdagangkannya di Afrika untuk ditukar dengan budak, tanah dan barang-barang seperti minyak sawit dan getah karet. Alkohol cair hasil distilasi ini menjadi barang berharga di sana.

Di masa pelayaran dan ekspansi bangsa Eropa, alkohol cair hasil distilasi memainkan peran penting dalam pelayaran jarak jauh. Pelayaran dari Eropa ke Asia Timur bisa memakan waktu berbulan-bulan dan menjaga air tetap segar untuk dikonsumsi para kru kapal merupakan suatu tantangan.

Menambahkan seember Brendi ke gentong air menjaga agar air tetap segar untuk waktu yang lama, hal ini karena alkohol merupakan bahan pengawet yang membunuh mikroba berbahaya. Maka, sejak ditemukan, alkohol telah menjadi bagian kebudayaan dan memicu perdagangan dan eksplorasi global (bersama dengan konsekuensi yang dibawanya).

Seiring berjalannya waktu, kehadiran dan peranan alkohol dalam dunia peradaban manusia menjadi lebih rumit ketika berbicara dalam tataran perdagangan global dan regulasi pemerintahan suatu negeri.

[ belum lagi berhubungan dengan hukum Islam yang mengharamkan zat alkohol ]

Saya akhiri tulisan saya dengan kutipan dari Mary Wilson Little,
“ hampir segala hal bisa diawetkan dalam alkohol, kecuali kesehatan, kebahagiaan dan uang. ”

Cimahi, Selasa, 17 November 2020

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan