banner 728x90

Kekuatan “ Mind-Set ” : Antara Keyakinan dan Kesuksesan (part 3, Last)

Kekuatan “ Mind-Set ” : Antara Keyakinan dan Kesuksesan (part 3, Last)

Berapa banyak dari kita yang sering menganggap diri kita tidak punya keahlian di bidang matematika, tidak kreatif, tidak ahli dalam komunikasi sosial, tidak atletik dan lain sebagainya ?

Jika kita ingin memaksimalkan potensi yang kita miliki, kita harus memulainya dengan memperbaiki pola pikir atau mindset kita. Kita harus sadar bahwa kita tidak terikat dengan kemampuan kita sa’at ini.
Neurosains menunjukan bahwa otak kita sangat elastis, ibarat otot, dapat dibentuk dan dilatih. Kita dapat mengubah kemampuan kita sendiri untuk berfikir dan melakukan sesuatu.

Faktanya, banyak dari orang paling berhasil di dunia, pernah diperkirakan oleh para ahli tidak mempunyai masa depan.
Orang-orang seperti Charles Darwin, Lucille Ball, Marcel Proust dan masih banyak lagi. Meski begitu, mereka bersama dengan semua orang yang berprestasi seperti Mozart hingga Einstein, mempunyai suatu kesamaan yaitu mereka membangun kemampuan mereka dengan baik.

Intinya, ketika kita menyadari bahwa kita dapat mengubah kemampuan kita sendiri (menjadi lebih baik) dan ketika kita memiliki pola pikir “ growth mindset ”, maka kita membawa permainan kita ke level yang baru. Lantas, bagaimana pola pikir “ growth mindset ” melakukanya ?

Ternyata, ada yang disebut sebagai manifestasi fisiologis pola pikir. Hasil pemindaian terhadap otak seseorang yang memiliki pola pikir “ fixed mindset ”, menunjukan otak menjadi lebih aktif ketika menerima informasi mengenai bagaimana performa dari orang tersebut (berorientasi terhadap hasil) seperti nilai atau skor yang didapat. Sedangkan untuk orang yang memiliki pola pikir “ growth mindset ”, menunjukan otak menjadi lebih aktif ketika menerima informasi tentang hal-hal apa saja yang bisa dilakukan untuk menjadi lebih baik, bisa melalui feedback atau evaluasi.

Hal ini menunjukan bahwa orang dengan pola pikir
“ fixed mindset ” khawatir terhadap penilaian orang lain terhadap mereka dan hasil yang mereka dapat. Sedangkan, orang dengan pola pikir “ growth mindset ” fokus terhadap pembelajaran dan evaluasi.

[ bangsa Indonesia telah puluhan tahun sejak tahun 1970 an menerapkan sistem pendidikan berpola ” fixed mindset ” … hari ini sedang panen raya menjadi para PNS/ASN dan TNI.Polri ]

Orang-orang dengan pola pikir “ fixed mindset ” memandang usaha sebagai hal yang buruk, sesuatu yang dilakukan dan dibutuhkan orang-orang dengan kemampuan rendah.
Sedang di lain pihak, orang-orang dengan pola pikir “ growth mindset ” memandang usaha sebagai sesuatu yang membantu kita menjadi lebih pintar dan lebih baik.

[ arah kebijakan negara selama puluhan tahun telah tersesat, sehingga sektor ril secara sistematis ditinggalkan… sektor jasa dan keuangan diserbu dan dipuja, sedangkan
sektor pertanian – perikanan dibenci anak bangsa ]

Ketika menemui suatu kegagalan, orang-orang
“ fixed mindset ” cenderung menyimpulkan bahwa mereka tidak mampu menyelesaikannya/incapable. Jadi, untuk melindungi ego mereka, maka mereka kehilangan minat atau menarik diri.
Kita sering menganggap hal tersebut sebagai
“ demotivasi ”, padahal itu merupakan ciri-ciri dari “ fixed mindset ”.

Orang-orang “ growth mindset ” memahami kegagalan sebagai bagian dari pertumbuhan. Jadi ketika mereka menemui kegagalan, maka mereka akan senantiasa belajar dan mencari cara (jalan) untuk menyelesaikannya.
Seperti yang dilakukan Josh Waltzkin ketika mengalami kekalahan di bidang catur dan ilmu bela diri.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Prof. Carol Dweck dan Dr. Claudia Muller, mereka meneliti anak-anak dengan memberikan mereka puzzle dan memberikan nilai, lalu mereka memuji anak-anak tersebut.

Kepada sebagian anak-anak tersebut mereka memberikan pujian
“ wah skor yang hebat, kamu pasti pintar sekali dalam menyelesaikan puzzle ! ”.
Ini pujian ala “ fixed mindset ” karena berfokus pada hasil.

Kepada sebagian anak yang lain, mereka mengatakan
“ wow, skor yang bagus, kamu pasti sudah bekerja keras ! ”.
Ini pujian ala “ growth mindset ” karena berfokus kepada proses.

Lalu, mereka menanyakan anak-anak tersebut,
“ sekarang, mau memilih mengerjakan puzzle yang mudah atau yang sulit ? ” Mayoritas anak-anak yang mendapatkan pujian ala
“ fixed mindset ” memilih puzzle yang lebih mudah, sedangkan anak-anak yang mendapatkan pujian ala
“ growth mindset ” memilih untuk menantang diri mereka sendiri, memilih puzzle yang sulit.

Setelah itu, para peneliti memberikan semua anak puzzle yang sulit. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh kesulitan terhadap kinerja/performa mereka. Anak-anak yang dipuji dengan pujian ala “ growth mindset ” mendapat skor yang lebih baik.
Di akhir, mereka ditanya tentang skor yang mereka dapat. Anak-anak dengan pujian “ fixed mindset ” mayoritas berbohong tentang skor yang didapat, rata-rata (mengaku) 3x lebih besar atas skor sebenarnya.
Artinya, mereka tidak dapat menghadapi kegagalan mereka.
Sedangkan anak-anak dengan pujian ” growth mindset ” tidak berbohong tentang skor mereka.

[ hari ini hasil didikan puluhan tahun yang lalu (sejak 1970 an) sedang jadi pejabat dan penguasa di Republik Indonesia…sangat pantas jadi para pendusta, pembohong dan pengkhianat bangsa dan negara ]

Jadi, seberapa sering kita memuji anak-anak kita atas prestasi yang mereka dapat ?
Kamu pintar, kamu hebat dan lain sebagainya ?

Kita menganggap hal ini sebagai sarana untuk mengangkat harga diri mereka, padahal ini membimbing mereka untuk mempunyai pola pikir “ fixed mindset ”.
Alhasil mereka menjadi takut akan tantangan, juga mereka kehilangan rasa percaya diri ketika keadaan menjadi sulit.

Josh Waitzkin berkata,
“ akan sangat baik bagi orang tua, jika memasukan feedback terkait proses dalam memberikan pujian atau kritikan terhadap anak. ”

Hal terpenting dari tulisan ini adalah, “ kita dapat mengubah mindset kita. ” Saya yakin bahwa kita semua mempunyai pola pikir “ fixed mindset ” tentang sesuatu. Karena, seperti yang kita ketahui, mindset sangat penting dalam mencapai tujuan dan kesuksesan.

Jadi bagaimana caranya mengubah mindset ?

  1. Pahami bahwa “ growth mindset ” tidak hanya menguntungkan, tetapi juga didukung oleh sains dan penelitian.
    Neurosains menunjukan bahwa otak kita dapat berubah dan menjadi lebih baik ketika kita bekerja keras untuk memperbaiki kekurangan kita.
  2. Pelajari dan ajarkan orang lain tentang bagaimana kita meningkatkan kemampuan kita. Pelajari tentang latihan yang dibutuhkan dan cara mengefektifkan usaha kita didalamnya. Ketika kita mengerti bagaimana caranya untuk mengembangkan kemampuan kita, kita memperkuat keyakinan kita untuk menjadi lebih baik.
  3. Terakhir, ketika anda mendengarkan kata-kata “ fixed mindset ” dari otak anda seperti “ saya tidak bisa melakukannya ”, maka balas dengan kata-kata “ growth mindset ” seperti “ saya belum bisa melakukannya, saya akan mencari cara untuk melakukannya. ”

[ semoga pandemi Covid-19 bisa jadi sarana bagi bangsa Indonesia mengubah secepatnya pola mindset dari ” fixed mindset ” ke ” growth mindset ” ]

Cimahi, Selasa, 17 November 2020

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan