banner 728x90

Stress ! Normalkah ?

Stress ! Normalkah ?

Izinkan saya bertanya pada anda. Apakah belakangan ini tidur anda tidak nyenyak ?

Anda mudah marah dan sering murung, sering melupakan hal-hal kecil, serta merasa kewalahan dan terisolasi ?

Jika jawabannya iya, jangan cemas. Kita semua pasti pernah merasakannya. Kemungkinan anda hanya terkena stress. Yaa, mungkin terdengar sedikit menakutkan, tetapi perlu dicermati bahwa stress tidak selalu buruk.
Stress dapat berguna untuk meluapkan kelebihan energi dan fokus, seperti ketika kita bermain olahraga yang kompetitif atau ketika harus berbicara di depan umum. Namun, jika stress pada diri anda terjadi terus menerus dan terjadi setiap hari, hal ini dapat mengubah otak kita.

Stress Kronik, seperti terlalu banyak bekerja atau pertengkaran dalam rumah tangga secara intensif, dapat mempengaruhi ukuran otak, strukturnya dan cara kerja otak kita, bahkan hinga pada tingkatan gen.

[ Barangkali ini penyebabnya bangsa Indonesia hari ini sulit maju, karena selama puluhan tahun seluruh anak bangsa wajib ikut sistem pendidikan yang membuat para pelajar sejak SD sampai SMA/K dan mahasiswa terkondisi tegang dan stress rutin setiap hari ]

Stress diawali dengan sesuatu yang disebut Hypothalamus Pituitary Adrenal Axis (sumbu HPA), yaitu serangkaian interaksi antara kelenjar endokrin di dalam otak dan pada organ ginjal. Rangkaian interaksi ini mengontrol reaksi tubuh anda terhadap stress.
Ketika otak mendeteksi adanya situasi yang dapat memicu stress, sumbu HPA anda akan langsung diaktifkan dan mengeluarkan hormon yang bernama kortisol sehingga tubuh dapat bereaksi dengan cepat.

Meski begitu, pengeluaran hormone kortisol dalam jumlah banyak dan waktu lama dapat mendatangkan malapetaka bagi otak anda. Stress kronis meningkatkan level aktivitas dari jumlah sambungan saraf di dalam kamigdala (pusat rasa takut dalam otak anda). Seiring dengan meningkatnya jumlah hormon kortisol, sinyal elektrik dalam hippocampus menjadi semakin memburuk.

Hippocampus adalah bagian otak yang memproses pelajaran, ingatan dan kendali stress. Hippocampus menghambat aktivitas sumbu HPA. Jadi, ketika aktivitas sumbu HPA melemah, maka kemampuan anda dalam mengontol stress juga akan melemah.

[ sangat wajar setelah kondisi tertekan dan tegang selama di kelas sekolah dan bangku kuliah, maka begitu keluar langsung cari hiburan apapun bentuknya, termasuk pekerjaan dan profesi ]

Hormon kortisol dalam jumlah banyak dapat menyebabkan ukuran otak anda mengecil. Terlalu banyak hormon kortisol mengakibatkan hilangnya koneksi sinapsis antar saraf dan menyusutnya prefrontal anda.
Prefrontal adalah bagian dari otak yang mengatur perilaku, meliputi konsentrasi, pengambilan keputusan, penilaian dan interaksi sosial.

[ ini pula penyebab generasi muda hari ini banyak pengidap ‘ a-sosial ‘ alias anti sosial, penyendiri sejati ]

Stress berkepanjangan juga menyebabkan berkurangnya jumlah sel otak baru yang diproduksi hippocampus. Artinya stress kronik dapat membuat anda kesulitan dalam belajar dan mengigat sesuatu. Ini juga bisa menjadi permulaan dari masalah kejiwaan yang lebih serius seperti depresi dan pada akhirnya menjadi penyakit azheimer.

[ pantas saja hampir sebagian besar bangsa Indonesia khususnya generasi muda sebagai penghobi berat ‘ gamer ‘ ]

Dampak dari stress dapat mempengaruhi DNA otak anda. Sebuah percobaan menunjukan bahwa beberapa induk tikus yang merawat anaknya yang baru lahir berperan dalam menentukan bagaimana si anak tikus merespon stress ketika dia dewasa.
Anak tikus yang dirawat dengan oleh ibunya lebih tidak sensitif terhadap stress. Hal ini disebabkan karena mereka mengembangkan lebih banyak reseptor kortisol yang mengikat hormon kortisol dan meredam respon stress.

Sementara itu, anak tikus dari induk yang mengabaikannya memiliki hasil yang berlawanan. Si anak tikus menjadi lebih sensitive terhadap stress sepanjang hidupnya. Temuan ini disebut Epigenetic Changes atau perubahan Epigenetic, artinya perlakuan si induk tikus berdampak pada ekspresi gen tanpa mengubah kode genetik anak tikus secara langsung. Perubahan ini dapat dibalik jika induknya ditukar.

[ Bayangkan anda sejak usia 2 tahun sampai hari ini, jempol dan telunjuk serta seluruh tangan anda juga focus fikiran dan jiwa hanya bersentuhan dengan hp/gadget/komputer dan lap top.
Hasilnya adalah … tidak ada dan jempol maupun telunjuk anda toh tetap saja lemah dan rapuh ]

Meski begitu, ada hasil yang lebih mengejutkan. Suatu perubahan epigenetic yang disebabkan oleh seekor induk tikus, ternyata diwariskan ke banyak generasi setelahnya. Walaupun begitu, tulisan ini belum berakhir. Ada banyak cara untuk membalikan apa yang dilakukan kortisol ke otak anda yang mengalami stress.

Senjata yang paling ampuh adalah olahraga dan meditasi, dimana kedua hal tersebut melibatkan pernapasan yang dalam dan fokus. Kedua aktivitas tersebut dapat menurunkan tingkatan stress anda dan memperbesar ukuran hippocampus, dan dengan demikian dapat meningkatkan kemampuan ingatan anda.

[ Menulis adalah cara efektif supaya tetap focus dan bisa menyendiri yang bermanfa’at ]

Terakhir, jangan pernah merasa kalah karena tekanan hidup sehari-hari. Kontrol stress anda sebelum stress mengontrol anda.

Cimahi, Selasa, 10 November 2020

Dari orang yang sedang mengalami stress,
Rizal Ul FIkri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan