banner 728x90

Perjalanan ke Ciwidey : Evaluasi Kejadian di Taman Wisata Alam Cimanggu Ranca Upas

Perjalanan ke Ciwidey : Evaluasi Kejadian di Taman Wisata Alam Cimanggu Ranca Upas

Di penghujung bulan Oktober, tepatnya pada tanggal 31 Oktober 2020 saya bersama CEO CJI, Muhammad Zaki Mubarrok mengunjungi salah satu tokoh lingkungan di Kabupaten Bandung, Eyang Memet Achmad Surahman. Dalam kunjungan tersebut, banyak dibahas evaluasi tentang eksekusi pelaksanaan Hari Sumpah Pemuda 2020 di Taman Wisata Alam Cimanggu pada tanggal 28 Oktober 2020. Dalam diskusi tersebut juga hadir Wa Haji.

Hal pertama adalah koordinasi antar panitia kurang maksimal, banyak dari panitia yang tidak memegang dan mengetahui ‘rundown’ acara, termasuk bagian penerima absen. Lalu, pelaksanaan acara yang terlalu petang, acara baru dimulai pukul 15.00 sore, hal tersebut sebenarnya kurang disarankan mengingat musim hujan di bulan Oktober dan badai la nina.

Meski begitu, ada hal baik dan menarik yang terjadi juga yaitu bagaimana seorang Bupati, Dadang Nasser ditolak oleh penyelenggara dan peserta acara untuk masuk dan melakukan pembukaan. Hal tersebut terjadi lantaran beliau menggunakan kendaraan yang mempromosikan salah satu paslon Calon Bupati Kabupaten Bandung. Hal ini patut diapresiasi karena mereka (penyelenggara dan peserta) bisa menunjukan sikap yang positif dan netral di musim pilkada.

Alhasil dilakukan negosiasi di Emte Highland Resort antara Eyang Memet, Dadang Nasser dan panitia. Setelah dilakukan negosisasi, berhasil dicapai kesepakan bahwa Dadang Nasser boleh masuk asalkan tidak membawa atribut kampanye, apapun bentuknya.

Pembicaraan berlangsung seru hingga sore hari ditemani oleh hujan dan dinginnya dataran tinggi khas Bandung Selatan. Di sore hari, dialog kenegaraan dengan Eyang Memet selesai dan perjalanan dilanjutkan ke Soreang.

Berkunjung ke Ustadz Buya, salah satu anggota dari Kawargian Abah Alam yang berdomisili di daerah Soreang.
Saya dan CEO, sangat meyakini bahwa silaturahmi bisa memperpanjang umur, melapangkan rizki dan menambah saudara.

Bertempat di Gading Tutuka Residence Blok J3 No. 16, Soreang, Kabupaten Bandung, kembali terjadi dialog kenegaraan antara CEO CJI dan Ustadz Buya. Ustadz Buya merupakan staf ahli dari Kemenkumham, beliau pernah mempelajari berbagai aliran dan mahzab dalam agama Islam.

Mulai dari kisah Nabi Adam AS yang diturunkan ke bumi karena melanggar perintah dari Allooh S.W.T. yaitu memakan buah Kholdi. Alhasil Nabi Adam AS diturunkan ke Bumi.
Ada hal yang menarik, dari sumber yang dipelajari oleh Ustadz Buya yaitu ada kemungkinan bahwa Nabi Adam AS dahulu ketika diturunkan ke bumi, diturunkannya di Indonesia.

Hal ini mengacu kepada jenis daun yang digunakan Nabi Adam AS yang ternyata ciri-cirinya mendekati salah satu daun yang ada di Suku Baduy Banten, walloohu a’lam bishshowab.

Pembicaraan lalu berlanjut tentang nama saya, Rizal Ul Fikri. Ustadz Buya berkata bahwa secara ‘Gharib’ nama Rizal memiliki arti seseorang dengan ilmu tertinggi.
Lalu, menurut tafsir dari Q.S An Nisa ayat 34, tepatnya pada bagian Ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisa, menurut ustadz Buya bahwa kata Rijal memiliki arti pimpinan,
artinya ada doa bahwa siapapun yang diberi nama Rizal atau Rijal akan menjadi pimpinan. Menjadi pimpinan artinya memiliki ummat, minimal bisa memimpin dirinya sendiri, aamiiin.

Nama Rizal Ul Fikri, diberikan oleh ibu saya yang artinya anak laki-laki yang berfikir. Dengan tambahan informasi dari Ustadz Buya, saya mendapat pemahaman baru bahwa arti nama saya merupakan Seorang Pimpinan yang Berilmu tinggi dan seorang pemikir.

Pembicaraan berlangsung seru ketika mulai masuk ke bahasan tentang kejayaan Bangsa Sunda, Candi Jiwa dan toleransi beragama. Candi Jiwa diperkirakan dibangun pada abad 1 – 2 Masehi, lebih tua daripada Candi Borobudur.
Candi Jiwa memiliki arsitektur yang megah dan merupakan Candi bercorak Budha, terletak di tatar Sunda (Jawa Barat) tepatnya daerah Batujaya Kabupaten Karawang yang di masa itu dikuasai oleh Kerajaan Sunda yang beraliran Hindu. Hal ini sangat menarik, melihat bagaimana di masa itu kebebasan beragama difasilitasi.

Ditemani hujan di areal Soreang, pembicaraan berakhir pukul 21.00. Sungguh, sebuah diskusi yang menarik untuk mengakhiri bulan Oktober.

Cimahi, Selasa, 3 November 2020
Rizal Ul Fikri, CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan