banner 728x90

Revolusi Industri dan Keluarga Zaman Pertengahan (part 2)

Revolusi Industri dan Keluarga Zaman Pertengahan (part 2)

Selama dua abad terakhir, revolusi industri memberikan (pada) pasar suatu kekuatan baru yang luar biasa besar. Pasar menyediakan cara komunikasi dan jenis transportasi baru bagi negara.
Hal ini menempatkan pasukan juru tulis, guru, polii dan pekerja sosial di bawah pemerintah.

Di awal perjalanannya, pasar dan negara dihalangi oleh keluarga dan masyarakat tradisional yang tidak menyenangi intervensi dari luar. Orang tua dan tokoh masyarakat enggan membiarkan generasi muda di kampung atau di wilayahnya diindoktrinasi oleh sistem pendidikan nasional, dijadikan prajurit dan tentara nasional atau diubah menjadi proletar perkotaan tak berakar.

Seiring berjalannya waktu, negara dan pasar menggunakan kuasanya yang semakin besar untuk melemahkan ikatan-ikatan tradisional keluarga dan masyarakat.
Negara mengirimkan petugas polisi-polisinya untuk menghentikan konflik antar keluarga dan perselisihan yang melibatkan balas dendam. Negara menggantinya dengan keputusan pengadilan.

Pasar mengirimkan pedagang-pedagangnya untuk menghapus tradisi-tradisi lokal yang telah bertahan dari zaman ke zaman, menggantikannya dengan tren komersial yang terus berubah setiap waktu.

Negara dan pasar mendekati orang-orang dengan suatu tawaran yang tidak bisa ditolak.
“ Jadilah individu ”, mereka bilang.
“ Nikahilah siapapun yang kamu inginkan, tanpa meminta izin orangtuamu. Pilihlah pekerjaan apapun yang cocok bagimu, meskipun para tokoh masyarakat mencibirmu. Tinggalah dimanapun kamu mau, bahkan kalau karenanya kamu tidak bisa menghadiri makan malam keluarga setiap minggu. Sekarang kamu tidak lagi bergantung pada keluarga dan masyarakatmu.
Kami, negara dan pasar akan mengurusmu sebagai gantinya. Kami akan menyediakan makanan, tempat berlindung, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan pekerjaan. Kami akan menyediakan pensiun, asuransi dan perlindungan. ”

Sastra dan cerita-cerita masyarakat seringkali menjadikan individu sebagai seseorang yang terperangkap dalam pergelutan melawan negara dan pasar. Hal tersebut sangat jauh dari kenyataan.

Negara dan pasar adalah ibu dan ayah individu. Seorang individu hanya bisa bertahan hidup berkat keduanya. Pasar menyediakan pekerjaan, asuransi dan pensiun bagi individu. Bilamana seorang individu ingin mempelajari suatu profesi, sekolah-sekolah pemerintah siap mengajarinya.
Bila ingin mendirikan suatu bisnis, bank meminjamkan uang.

Andaikata seorang individu ingin membangun rumah, perusahaan konstruksi membangunnya dan bank meminjamkan KPR, dalam sebagian kasus disubsidi atau diasuransikan oleh negara. Bila terjadi kerusuhan dan tindak kekerasan, polisi melindungi individu. Bila kita sakit sampai berbulan-bulan, jaminan sosial datang membantu.
Petugas pajak memperlakukan seseorang sebagai individu, juga tidak mengharapkan kita membayar pajak tetangga. Pengadilan juga memandang seseorang sebagai individu, tidak pernah menghukum kita karena kejahatan sepupu-sepupu kita.

Selain itu, yang diakui sebagai individu tidak hanya laki-laki dewasa, melainkan juga perempuan dan anak-anak. Dalam sebagian besar masa sejarah, perempuan seringkali dianggap sebagai harta milik keluarga atau masyarakat.

Di era moderen, negara memandang perempuan sebagai individu yang menikmati hak ekonomi dan hukum secara terpisah dari keluarga dan masyarakat. Perempuan boleh mempunyai rekening bank sendiri, memutuskan mau menikah dengan siapa bahkan memilih untuk bercerai atau melajang.
Meski begitu, kemerdekaan individu ada biayanya. Banyak diantara kita yang kini meratapi hilangnya keluarga dan masyarakat yang kuat, merasa terkucil dan terasing serta terancam oleh kekuasaan negara dan pasar nirpribadi atas hidup kita. Kehidupan masyarakat semakin teralienasi dan individualistis.

Di lain pihak, kesepakatan antara negara, pasar dan individu tidaklah lancar. Negara dan pasar tidak saling sepakat mengenai hak dan kewajiban masing-masing, individu mengeluh karena negara dan pasar meminta terlalu banyak, tapi memberi terlalu sedikit.

Dalam banyak kejadian, individu dieksploitasi pasar, sementara negara menggunakan tentara, polisi dan birokrasi untuk menindas, bukan untuk membela individu.
Ajaibnya, meskpun tidak lancar, kesepakatan tersebut tetap bisa berjalan walau tak sempurna.

Kesepakatan antara negara, pasar dan individu melanggar banyak sekali tatanan sosial manusia yang sudah dibentuk dari generasi ke generasi. Jutaan tahun evolusi manusia telah membentuk kita untuk hidup dan berpikir sebagai bagian atau anggota masyarakat. Dalam dua abad, kita telah menjadi individu-individu teralienasi.
Inilah bukti terbaik mengenai dahsyatnya kekuatan budaya.

Cimahi, Jumat, 16 Oktober 2020

-Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan