banner 728x90

“Describe Your Personality”

“Describe Your Personality”

“Describe your personality”, itu bukan ungkapan yang asing bagi seseorang yang sedang menjalani suatu wawancara kerja atau seleksi untuk bergabung dengan suatu organisasi tertentu. Pertanyaan tersebut dapat diartikan ke (dalam) bahasa Indonesia sebagai “Deskripsikan kepribadian anda”, biasanya digunakan oleh bagian ‘Human Resources Development’ (lebih dikenal istilah HRD) untuk mengetahui kepribadian seorang calon karyawan. Yaa, kepribadian, kata yang sangat bernuansa psikologis.

Jadi apa itu kepribadian ?

Kepribadian atau ‘personality’ berasal dari bahasa Latin, “persona”. Hal ini merujuk kepada topeng teater yang dikenakan oleh para pemain peran untuk memproyeksikan peran yang berbeda atau menyamarkan identitas mereka. Pada dasarnya, kepribadiaan merupakan pola karakteristik dari pikiran, perasaan dan tingkah laku suatu individu. Kepribadian dipercaya muncul dari dalam (diri) individu dan melekat kuat sepanjang hidup. Kepribadian dapat diartikan sebagai kombinasi karakteristik dan kualitas tertentu yang membentuk karakter khas individu.

Jadi, kembali lagi, saya adalah seorang Rizal Ul Fikri. Secara fisik saya adalah seorang manusia. Secara kepribadian….. sulit untuk dideskripsikan secara spontan. Meskipun dikatakan bahwa kepribadian melekat pada diri kita masing-masing, yang artinya jaraknya sangat dekat dengan diri kita. Sulit rasanya untuk mendiagnosis secara mandiri bagaimana kepribadian kita yang sebenarnya (opini). Sebagaimana kita memandang sesuatu dengan jarak yang terlalu dekat, saking dekatnya jarak sesuatu tersebut dengan mata kita sa’at kita melihat, penampakan sesuatu tersebut jadi terlihat tidak jelas, tidak jarang malah terlihat blur (kabur).

Disinilah fleksibilitas kita untuk berpikir sebagai individu diuji, kita diberkahi dengan akal serta kemampuan untuk berpikir. Dari pemikiran tersebut, didapat beberapa opsi untuk mengetahui kepribadian kita.

Pertama, mencari secara mandiri teori dan sumber rujukan yang mendukung dan kredibel terkait kepribadian dan bagaimana menentukannya. Atau, jika anda bukan penganut didikan ilmiah bisa dengan melibatkan perasaan melakukan ‘self discovery’ secara mandiri. Hal ini dilakukan dengan membuka memory kita tentang bagaimana pola kita berpikir, menggunakan perasaan dan kita bertingkah laku.

Opsi lain, manusia sebagai makhluk sosial bisa pergi menuju psikolog atau pihak ketiga maupun relasi yang dirasa kredibel untuk menentukan bagaimana kepribadian kita. Hal ini bisa terjadi dengan atau tanpa pengorbanan. Pengorbanan disini bisa berupa waktu, uang, energi dan lain sebagainya.
Terakhir, dengan memanfaatkan teknologi yaitu mencari tes menentukan kepribadian secara daring yang bisa diakses secara gratis dan tidak bertele tele.

Sebagai individu yang diberkahi dengan kemampuan berfikir, serta diberikan sedikit sifat serakah, saya memilih untuk melakukan kombinasi dari beberapa opsi yang tersedia tersebut. Saya mencari teori terkait kepribadian, saya melakukan ‘self discovery’ terhadap diri saya serta mengikuti tes untuk mengetahui kepribadian saya secara daring.

Hasilnya ?

Kepribadian saya teridentifikasi sebagai ENTP A, atau bahasa umunya kepribadian seorang “Pendebat”. Saya mengakui dan tidak menyakalnya, saya memang seorang Debater. Debater memiliki beberapa karakteristik yang menjadi kelebihan dan kelemahan.

Kelebihan :

  1. Berpengetahuan.
    Debater jarang melewatkan kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Segala informasi yang diperoleh dapat menjadi perbendaharaan yang berharga. Kita tidak pernah tahu kapan akan menggunakannya, semakin banyak semakin baik.
  2. Pemikir Cepat.
    Debater memiliki pemikiran yang fleksibel. Dapat beralih dari satu ide ke ide lain tanpa usaha.
  3. Otentik.
    Dengan perbendaharaan informasi yang melimpah, seringkali debater dapat merumuskan ide-ide baru yang berani, cenderung unik dan aneh (out the box ?).
  4. Pemikir yang baik. Debater mempunyai kesenangan tersendiri dalam menganalisis suatu masalah dari berbagai sudut pandang untuk menemukan solusi terbaik.
  5. Energik.
    Seringkali debater mempunyai dedikasi dan antusiasme yang mengesankan. Mereka tidak ragu untuk menghabiskan siang dan malam yang panjang untuk menemukan solusi.

Kelemahan :

  1. Argumentatif.
    Debater mempunyai kegemaran yang lumayan merepotkan yaitu berdebat dan beradu argumen. Tidak semua orang senang berdebat, terutama dalam urusan manajerial yang bersifat hirarkis.
  2. Tidak peka.
    Saking rasionalnya, kepribadian ini sering salah dalam menilai perasaan orang lain dan mendorong debat mereka jauh melampaui tingkat toleransi orang lain.
  3. Intoleran.
    Kecuali jika seseorang dapat mendukung ide-ide mereka dalam putaran perdebatan mental, debater cenderung menolak tidak hanya ide, tetapi sampai pada level pribadi itu sendiri.
  4. Sulit Fokus.
    Dengan fleksibilitas berfikir yang tinggi, debater sering tidak fokus dalam memaksimalkan suatu ide. Di tengah proses pengerjaan sesuatu, sering kali tiba-tiba terbesit ide baru atau penyelesaian terkait masalah yang lain.

Yaa, hasil diatas sebagian besar benar. Tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Hal yang paling penting adalah melalui mengetahui kepribadian kita, kita dapat mengenal diri kita sendiri. Dengan mengenal diri kita sendiri, maka kita dapat mengenali lingkungan kita. Dari pengenalan lingkungan, kita dapat memetakan dimana seharusnya kita berada.

Cimahi, Minggu, 13 September 2020

-Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan