banner 728x90

Pangan Adalah Kebutuhan Dasar Manusia !

Pangan Adalah Kebutuhan Dasar Manusia !

Dalam Undang Undang No. 7 Tahun 1996, telah diamanatkan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Roma 1996.

Selain berperan sebagai kebutuhan dasar dan salah satu hak asasi manusia, pangan mempunyai arti dan peran penting bagi keberlangsungan hidup suatu negara. Ketersediaan pangan dapat mempengaruhi kestabilan ekonomi suatu negara. Berbagai gejolak sosial, politik dan kerusuhan bisa terjadi jika kebutuhan pangan di suatu negara terganggu. Kondisi pangan yang kritis menurut BULOG dapat membahayakan stabilitas ekonomi serta stabilitas nasional.

Di Indonesia, pangan sering diidentikkan dengan beras. Hal ini disebabkan karena beras merupakan makanan pokok utama di Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa beras mempunyai nilai strategis sebagai makanan pokok utama di Indonesia.
Beras memiliki pengaruh yang besar dalam bidang ekonomi meliputi penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi pedesaan.

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) dalam satu hari kebutuhan makan satu orang terhadap beras adalah 240 gram.
Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) kebutuhan beras masyarakat Indonesia adalah 312 gram per orang per hari. Dengan perhitungan orang awam, maka sederhananya data jumlah konsumsi tersebut dikalikan dengan jumlah warga negara Indonesia.

Berdasarkan Data Kependudukan Semester I 2020 dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, jumlah total penduduk Indonesia per 30 Juni 2020 mencapai 268.583.016 jiwa.

[ plus warga negara yang tidak tercatat resmi bisa mencapai jumlah keseluruhan 270 juta bahkan lebih ]

Dengan mengacu data dari SUSENAS, maka 240 gram dikalikan dengan 268.583.016 jiwa hasilnya
= 64.459.923.840 gram
= 64.459.924 kilogram
= 64.460 ton kebutuhan beras dalam satu hari.

64.460 ton dikalikan 30 hari untuk mendapatkan data kebutuhan beras per bulan, hasilnya 1.933.800 ton kebutuhan beras per bulan.

1.933.800 ton dikalikan 12 bulan untuk mendapatkan data kebutuhan beras per tahun, hasilnya 23.205.600 ton kebutuhan beras per tahun.

Dengan perhitugan 1 ton sama dengan 1000 kilogram dan harga beras rata-rata pada tahun 2020 menurut BPS adalah Rp. 10.082/kilogram, maka untuk menemukan jumlah biaya yang dibutuhkan untuk penyediaan beras sebanyak itu per tahun adalah 23.205.600 ton beras x (Rp 10.082 x 1000 kilogram). Hasilnya adalah
Rp 233.9 triliun yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan beras nasional di Indonesia. Rp 233.9 triliun anggaran atau uang yang harus disiapkan secara akumulatif baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

[ sungguh luar biasa jumlah kebutuhan pangan/beras dan dana yang harus pemerintah dan masyarakat keluarkan ]

Perhitungan tersebut merupakan perhitungan kasar, ada beberapa faktor yang tidak diperhitungkan. Contohnya konsumsi beras untuk bayi tidak mungkin setara dengan orang dewasa. Maka disarankan ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan seperti usia, jenis kelamin, lokasi (sebab provinsi yang berbeda memiliki karakteristik yang berbeda dalam konsumsi beras), pekerjaan dan aktivitas. Tentunya para peneliti baik dari tataran kampus dan lembaga pemerintah mempunyai metode dan perhitungan yang berbeda untuk menentukan konsumsi beras penduduk Indonesia.

Intinya adalah, kebutuhan beras kita besar, jika bicara dalam bahasa ekonomi artinya ada potensi ekonomi yang besar dalam pengadaan beras di Indonesia. Itu baru berbicara perkara beras, kebutuhan pangan tidak hanya beras. Ada daging ayam, daging sapi, sayur mayur, kacang-kacangan, ikan dan buah-buahan.
Jika digarap dengan serius, banyak tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menggarap itu semua. Itu baru dari sektor produksi, belum dari distribusi dan pemasarannya. Pangsa pasar untuk komoditi pangan sangat besar di Indonesia.

Sayang sekali, generasi muda terutama generasi milenial tidak banyak yang tertarik ke industri pangan. Adapun yang tertarik banyak berkutat di sektor konsumsi, yaitu pengembangan resep dan varian produk untuk konsumsi. Bagian produksi, di sektor petani dan peternak masih didominasi oleh orang tua yang sudah sepuh. Generasi muda banyak beranggapan bahwa sektor pertanian dan peternakan merupakan industri yang kotor (secara harfiah), bau, repot, hasilnya sedikit, menguras tenaga, melelahkan, tidak menarik dan tidak bergengsi. Mereka lebih tertarik ke industri digital, perbankan dan jasa.

Hal ini sangat disayangkan. Dengan mengacu kepada hukum ekonomi, semakin banyak barang maka harga akan semakin murah.
Akan sangat menyenangkan jika hidup di suatu negara dengan pangan melimpah, untuk perkara makan bisa segala murah. Untuk mencapai hal ini, tentunya peran dan dukungan dari mahasiswa sangat diperlukan untuk mengawal industri pertanian, peternakan dan perikanan untuk mencapai swasembada pangan.

Dengan melimpahnya ketersediaan pangan, maka tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspor. Syukur-syukur bisa menjadi lumbung pangan dunia.

Bandung, Kamis, 10 September 2020

-Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan