banner 728x90

Masa Depan Pendidikan Bangsa, Di Tengah Masa Pandemi Covid-19

Masa Depan Pendidikan Bangsa, Di Tengah Masa Pandemi Covid-19

Seperti yang kita ketahui bersama, awal tahun 2020 muncul virus baru yang disebut dengan coronna virus disease 19 atau covid-19 yang awalnya menyebar di Kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok.

Awal bulan Maret virus itu semakin merajalela dan memasuki wilayah Indonesia. Alhasil, pertengahan Maret di tengah melonjaknya kasus covid-19 di Indonesia Pemerintah menerapkan sistem 2 minggu di rumah saja untuk menghentikan penyebaran virus ini.

Awal April akhirnya Pemerintah Indonesia menerapkan sistem PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Sistem tersebut diadopsi dari lockdown. Semua instansi, termasuk sekolah dan kampus atau lembaga pendidikan lainnya terpaksa mengadakan kegiatan belajar mengajar di rumah berbasis daring atau dalam jaringan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan TVRI dan beberapa lembaga pendidikan online sebut saja seperti ruang guru juga bekerja sama dengan beberapa provider penyedia layanan jasa internet untuk memberikan akses internet secara gratis agar siswa atau mahasiswa dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara daring dengan baik dan bisa memberikan layanan pendidikan lainnya dengan menggunakan layanan penyiaran di TVRI selama masih berada di rumah saja.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan standar pembelajaran secara daring tidak bisa disamakan dengan tatap muka di sekolah. Target kurikulum selama pandemi Covid-19 juga berbeda dengan kegiatan belajar dalam kondisi normal.

” Memang kita tidak bisa menuntut kualitas terhadap target kurikulum di masa pandemi. Karena yang menjadi tujuan utama adalah menjaga keselamatan dan kesehatan peserta didik, keluarga dan guru, ” ujar Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sri Wahyuningsih, dalam diskusi virtual selasa (16/6)

Berdasarkan survei dari UNICEF atau United Nations Children’s Fund salah satu organisasi PBB yang memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan kesejahteraan jangka panjang kepada anak-anak dan ibunya di negara-negara berkembang, hasilnya menyatakan bahwa pada awal Juni dari 4.016 responden di 34 Provinsi dengan rentang usia 14 – 24 tahun sebanyak 69% merasa bosan belajar dirumah.

Selama BDR atau belajar di rumah, responden mengalami 2 tantangan utama yakni 35% kesulitan akses internet dan 38% kurang bimbingan guru. Kemudian 62% membutuhkan dukungan kuota internet dan 26% membutuhkan dukungan guru. Sementara itu, 87% responden ingin segera kembali ke satuan pendidikan dengan berbagai alasan. Di antaranya, senang metode pembelajaran tatap muka 61% rindu teman 51% dan bosan di rumah 48% sedangkan 59% responden mengaku belum ingin kembali ke satuan pendidikan karena khawatir terpapar virus Covid-19. Sekitar 12% tidak memiliki biaya dan 1% takut perundungan.
Walaupun banyak yang ingin segera kembali ke satuan pendidikan, 50% responden menilai pembelajaran tatap muka sebaiknya dimulai setelah kasus Covid-19 menurun. Adapun 25% berpendapat belajar tatap muka dimulai sa’at tahun ajaran baru.

UNICEF memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan satuan pendidikan, terutama pada jenjang tahun ajaran baru di tengah pandemi Covid-19 untuk memastikan kesiapan satuan pendidikan dalam menerapkan protokol kesehatan dalam kenormalan baru.
Baik dari segi sumber daya maupun sarana dan prasarana. Perlu ada sosialisasi yang masif tentang pembukaan satuan pendidikan melalui cara online dan offline. Sehingga, kekhawatiran orang tua dapat diminimalkan dan tidak terjadi misinformasi. Selain itu, kapasitas pendidik dan peserta didik harus ditingkatkan, agar dapat menyesuaikan diri dalam kondisi darurat.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mengeluarkan buku panduan pembelajaran di tahun ajaran dan tahun akademik 2020/2021 di tengah pandemi yang diumumkan Senin 15 Juni 2020 lalu dinilai belum menyentuh persoalan pokok. Yakni proses dan kualitas belajar dan mengajar selama siswa belajar dari rumah.

” Proses pengajaran dan pembelajaran yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh pihak manajemen sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan peserta didik tidak disentuh sedikitpun, ” terang Pemerhati dan Praktisi Edukasi 4.0 dari CERDAS (Center Of Education Regulations and Development Analysist), Indra Charismadji dalam keterangannya, Rabu 17 Juni 2020.

[ Bicara mutu pendidikan di Indonesia selama puluhan tahun secara tatap muka ‘offline’ sulit maju dan tidak berkembang.
Yang kelihatan maju dan marak hanya pembangunan fisik semata ]

Menurutnya, proses belajar mengajar yang masih belum optimal ini tidak berubah sejak surat edaran mendikbud nomor 36962/MPK.A/KHK/2020 diterbitkan Maret lalu. Harusnya, pada kesempatan kali ini Kemendikbud sudah mengantongi hasil evaluasi bagaimana kegiatan belajar mengajar berjalan selama tiga bulan terakhir.

Pada masa pandemi ini, mutu pendidikan Indonesia menurun. Hal ini terjadi karena ekosistem pendidikan Indonesia belum mencapai kondisi ideal seperti yang didesain oleh Ki Hajar Dewantara. Ekosistem pendidikan ideal itu harus terdiri dari tiga pusat pendidikan yakni sekolah, masyarakat dan rumah.

” Nah begitu sekarang kita dipaksa untuk belajar dari rumah, terlihat sekali ternyata rumah selama ini tidak dijadikan sebagai sentra pendidikan. Lebih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap pendidikan itu diserahkan semua ke sekolah, guru, bimbingan belajar, guru les dan pihak lainnya. Ini sangat berbeda dengan negara dengan pendidikan maju seperti di Finlandia, ” lanjutnya.

Dijelaskan Indra, dalam sistem pendidikan di Finlandia, anak tidak pernah diberi pekerjaan rumah dari sekolah. Siswa berada di sekolah hanya 3 jam karena mereka tetap belajar meski ada di rumah dan di tengah masyarakat.

Maka dari itu, masa pandemi ini adalah sa’atnya bagi Indonesia untuk memperbaiki ekosistem pendidikan agar tidak lagi bergantung pada sekolah. Dengan demikian, Indonesia bisa menjadikan rumah dan masyarakat bagian dari sentra pendidikan.
Jadi harapan ke depan kualitas pendidikan di Indonesia akan semakin baik dan semakin maju.
Sesuai dengan tema Hari Pendidikan Nasional 2020 yakni ” Belajar dari Covid-19 “

[ hanya satu yang harus serius pemerintah dalam hal ini Kemendikbud lakukan yaitu arah kebijakan pendidikan nasional menopang dan berbasis pada pemuliaan Tanah, Air dan Udara Indonesia.
Bukan merusak dan mengeksploitasi atas nama pembangunan ]

Jombang, Kamis, 16 Juli 2020

Manda CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan