banner 728x90

Mengenal Kiai Politik di Jalur Fikih

Mengenal Kiai Politik di Jalur Fikih

K.H. Bisri Syamsuri merupakan kakek dari Presiden Republik Indonesia ke-4 Abdurrachman Wachid atau Gus Dur. Beliau lahir di Kabupaten Pati Jawa Tengah pada tanggal 18 September 1886. Lebih tepatnya di Tayu. Daerah itu memiliki kultur Islam yang kuat dan baik layaknya di pesisir Pulau Jawa.
Beliau juga merupakan tokoh dan Kiai Nahdlatul Ulama. Ayahnya bernama Syamsuri dan ibunya bernama Mariah.

Pernah melakukan pendidikan di Pesantren lokal antara lain pada K.H. Abdul Salam di Kajen, K.H. Fathurrahman bin Ghazali di Sarang Rembang, K.H. Kholil di Bangkalan dan K.H. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang.
Dalam melakukan proses pendidikan, beliau juga mengenal rekan santri lainnya yakni Abdul Wahab Chasbullah yang kelak juga menjadi tokoh Nahdlatul Ulama.

Ia kemudian lebih banyak lagi mendalami ilmu keagamaan ke Makkah dan juga belajar kepada sejumlah tokoh ‘ulama terkemuka di Makkah. Antara lain Syeikh Muhammad Baqir, Syeikh Muhammad Sa’id Yamani, Syeikh Jamal Maliki, Syeikh Ibrahim Madani, Syeikh Akhmad Khatib Padang, Syeikh Syu’aib Daghistani dan K.H. Mahfuz Termas. Ketika berada di Makkah, Bisri Syamsuri menikahi adik perempuan dari Abdul Wahab Chasbullah.

Selanjutnya, anak perempuan dari Bisri Syamsuri menikah dengan Wachid Hasyim dan menghasilkan keturunan diantaranya yakni Abdurrachman Wachid dan Sholahuddin Wachid.

Sepulangnya dari Makkah, beliau menetap di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur bersama mertuanya. Kemudian pada tahun 1917 Bisri Syamsuri mendirikan sendiri Pondok Pesantren yang dinamakan dengan Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif di Desa Denanyar Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang Jawa Timur.
Sa’at itu, beliau merupakan Kiai pertama yang mendirikan kelas khusus santri-santri wanita di Pondok Pesantrennya.

Dalam pergerakan politiknya, K.H. Bisri Syamsuri pernah memimpin sidang DPR-RI pada tahun 1971. Ia bersama para Kiai sa’at itu diantaranya K.H. Abdul Wahab Chasbullah, K.H. Mas Mansyur, K.H. Dahlan Kebondalem dan K.H. Ridwan membentuk klub kajian yang diberikan nama Tafwirul Afkar dan sekolah dengan nama yang sama yakni Madrasah Tafwirul Afkar.

Beliau juga merupakan peserta aktif dalam musyawarah hukum agama, yang sering berlangsung di lingkungan Kiai pesantren, sehingga pada akhirnya terbentuklah organisasi Nahdlatul Ulama. Keterlibatannya dalam pengembangan organisasi Nahdlatul Ulama antara lain pendirian rumah-rumah yatim piatu dan pelayanan kesehatan dirintisnya di berbagai tempat.

Sa’at Indonesia masih dijajah oleh Jepang, Bisri Syamsuri memiliki peran penting dalam pertahanan bangsa waktu itu, dimana beliau menjabat sebagai Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur yang berkedudukan di Waru Sidoarjo, dekat Kota Surabaya.

Pada masa kemerdekaan, beliau juga terlibat dalam lembaga pemerintah.
Antara lain dalam Komite Nasional Indonesia Pusat, mewakili unsur Masyumi (tempat Nahdlatul Ulama bergabung secara politis).
Ia juga menjadi anggota Dewan Konstituante tahun 1956 hingga ke masa pemilihan umum 1971.

Setelah wafatnta K.H. Abdul Wahab Chasbullah pada tahun 1972, ia menggantikan posisi sebagai Ketua Rais ‘Aam Syuriah Nahdlatul Ulama.
Ketika Nahdlatul Ulama bergabung dengan partai politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) beliau menjadi Ketua Majelis Syuro partai ini. Ia juga terpilih menjadi anggota DPR hingga tahun 1980.

Jejak langkah K.H. Bisri Syamsuri terhenti setelah kesehatannya melemah. Pada tanggal 25 April 1980 atau 40 tahun silam beliau menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di makam Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang Jawa Timur.

Jombang, Rabu, 15 Juli 2020

Manda CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan