banner 728x90

Pisau Supaya Tajam, Harus Sesalu Diasah

Pisau Supaya Tajam, Harus Sesalu Diasah

Seperti dikatakan pepatah lama, pisau yang tidak digunakan lama kelamaan akan tumpul juga. Hal ini juga berlaku pada berbagai benda tajam lainnya, termasuk pikiran.
Pikiran, sebaik apapun itu, jika jarang digunakan, maka akan menjadi tumpul juga. Untuk membuatnya tajam, tidak cukup hanya dengan berfikir saja, sebab pikiran manusia memiliki batasan tertentu dalam memperoleh, menyimpan dan mengolah informasi.
Ada ancaman lupa yang bisa datang kapan saja. Salah satu cara untuk meng-counter lupa adalah dengan menajamkan pikiran, salah satunya dengan cara menulis.

Saya, Rizal Ul Fikri mengakui sudah lama tidak menulis dalam waktu yang lama. Baik menulis artikel, maupun menulis biasa diatas kertas, alhasil tulisan saya relatif payah dan tidak rapih.
Artikel terakhir yang saya tulis berjudul “Curiosity Headline” pada tanggal 23 Juni 2020.

Menulis merupakan perwujudan ide yang merupakan hasil dari pemikiran atau ‘product of knowledge’.
Lebih jauh, terdapat pemikiran teologis dan filsafat dalam level pikiran yang lebih tinggi. Entah mengapa filsafat selalu menjadi topik yang menarik sekaligus tidak menarik bagi saya. Di satu sisi sangat menarik mempelajari ilmu filsafat, ilmu pemikiran tingkat tinggi yang sering disebut sebagai ‘mother of science’.
Di sisi lain, mempelajari filsafat dibutuhkan fokus dan kemampuan berfikir tingkat tinggi, suatu keahlian yang belum saya miliki.

Pada tanggal 10 Juli 2020, diadakan Kelas Filsafat India komunitas ATMA menggunakan aplikasi google meet. Tema dari acara tersebut adalah Potensi Kesempurnaan Hakikat Manusia.
Pembicara dari acara ini adalah Stanley Khu, alumni Center for The Study of Social System Jawaharal Nehru University.
Beliau adalah pemerhati isu klasik dan kontemporer India. Topik yang menjadi bahasan selama acara tersebut adalah perihal filsafat dan Psikologi barat, Tradisi Yudeo-Kristen, Psikologi Yoga, Hinduisme dan Buddhisme.

Saya percaya, untuk belajar apapun, dibutuhkan kondisi fisik yang sehat dan pikiran yang tajam untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari suatu pembelajaran. Kebetulan pada hari itu, kegiatan saya relatif padat, saya harus mengurus daftar ulang SMA adik saya di pagi hari, menyelesaikan revisi tugas akhir dan membantu kolega saya mengerjakan perhitungan SPT Pajak tahunan.
Hal ini menyebabkan kondisi saya relatif lelah untuk belajar, terutama untuk mengikuti Kelas Filsafat, sehingga saya mengakui bahwa saya tidak benar-benar mengikuti kelas dengan maksimal.

Kelas Filsafat India diselenggarkan pukul 19.30, diawali dengan pertanyaan
” Apakah manusia merupakan makhluk yang sempurna atau tidak ? “
Ada suatu konsep pemikiran yang beredar di masyarakat bahwa manusia hanyalah makhluk biasa yang tidak sempurna, pendapat lain mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan Tuhan secara sempurna atau minimal manusia berpotensi untuk menjadi sempurna.
Jujur pertanyaan ini relatif berat bagi saya yang awam terkait dunia filsafat dan pemikiran tingkat tinggi.

Pemaparan lalu dilanjutkan dengan mengutip argumen Plato terkait kesempurnaan. Plato beranggapan bahwa kesempurnaan dapat dikategorikan menjadi kesempurnaan teknis dan kesempurnaan hakikat manusia.
Kesempurnaan teknis adalah kesempurnaan dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Semua orang berpotensi untuk memiliki kesempurnaan teknis. Kesempurnaan teknis menciptakan standar yang menunjukan keahlian dan keterampilan dalam menjalankan tugas. Sedangkan kesempurnaan hakikat manusia merupakan rasionalitas dan keluruhan jiwa.

Lalu dilanjutkan dengan pendapat Aristoteles. Aristoteles berpendapat bahwa kesempurnaan bersifat teleologis. Teleologis artinya segala sesuatu pada hakekatnya mempunyai tujuan untuk mencapai tujuan alamiahnya.
Kesempurnaan teleologis mengarahkan bahwa manusia mempunyai tujuan alamiah yaitu kebahagiaan, kita hidup untuk mencapai sesuatu yang dinamakan kebahagiaan.

Aquinas, sejalan dengan Aristoteles menambahkan bahwa kesempurnaan teleologis dilengkapi dengan visi Tuhan/god vision. Aliran filsafat ini sejalan dengan berkembangnya agama Nasrani. Bahwa tujuan sejati dari kesempurnaan manusia adalah untuk menjalankan perjalanan teleologis mencari kebahagiaan dengan visi Tuhan.

Kant, berpendapat bahwa kesempurnaan adalah aktualisasi potensi positif yang inheren dalam diri.
Jadi kita menjalankan perjalanan teleologis untuk mencapai tujuan alamiah kita yaitu dengan aktualisasi potensi positif.

Lalu dilanjutkan dengan pendapat Agustinus yang menyatakan bahwa kejahatan adalah tiada kebaikan. Kegiatan seperti berbohong dapat dikategorikan sebagai ketiadaan kebaikan.

Saya tidak mengikuti kelas sampai akhir sebab saya sedang tidak dalam kondisi prima untuk menyimak dan berfikir.
Salah satu keunggulan dari media teleconference seperti zoom atau google meet adalah kita bisa pergi meninggalkan kegiatan dengan atau tanpa sepengetahuan panitia penyelenggara tanpa mengganggu jalannya acara.

Alhasil saya tidak mengikuti acara hingga selesai. Saya tidak memikirkan terlalu dalam terkait manusia, potensi manusia dan kesempurnaan. Sebab saya berpendapat bahwa manusia sempurna dan tidak sempurna pada sa’at bersamaan dan saya bukan filsuf yang memiliki kemampuan pemikiran tingkat tinggi untuk mencapai pemikiran tersebut.

Satu hal yang saya ketahui, saya percayai dan saya imani bahwa yang sempurna dalam semesta ini hanyalah Allooh Subhanahu Wata’alaa zat Yang Maha Sempurna Maha Mengatur dan mengurus dunia dan seluruh isinya.

[ Islam satu-satunya agama di dunia yang mengajarkan bahwa “Seluruh individu manusia adalah pemimpin” ]

Bandung, Sabtu, 11 Juli 2020

Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan