banner 728x90

Peran Hadratusysyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dalam Pendirian NKRI yang Juga Salah Satu Tokoh Pendiri Organisasi Islam Terbesar di Indonesia Yakni Nahdlatul Ulama

Peran Hadratusysyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dalam Pendirian NKRI yang Juga Salah Satu Tokoh Pendiri Organisasi Islam Terbesar di Indonesia Yakni Nahdlatul Ulama

Pada tanggal 1 Juni setiap tahunnya selalu ¹¹ sebagai “Hari Lahirnya Pancasila” Yang dicetuskan oleh Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia ke-1. Pancasila yang hingga kini kita gunakan sebagai tatanan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara muncul pertama kali pada sidang BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Dari sekian banyak tokoh yang ikut berkontribusi dalam mencetuskan ide-ide dasar negara, ada salah seorang Kiai Besar Indonesia yang berperan dalam pendirian NKRI.

Siapakah dia ?

Hadratusysyeikh K.H. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh Pahlawan Nasional Indonesia.
Beliau merupakan tokoh pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama.
Lahir di Kabupaten Jombang Jawa Timur pada tanggal 14 Februari 1871 dari pasangan suami istri, Ayahnya bernama Asy’ari dan Ibunya bernama Halimah.

Mari kita lihat kontribusi beliau dalam perjuangan kebangsaan, karena itu jauh lebih penting untuk dipahami oleh generasi selanjutnya. Seperti yang dipahami bersama bahwa beliau memiliki semangat berjuang sejak usia muda.

Sewaktu masih di Mekkah, dengan beberapa sahabatnya dari berbagai negara Islam yang kebetulan belum merdeka, Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy’ari berikrar di depan Multazam untuk meninggikam Islam dan memperjuangkan negara untuk merdeka dari penjajahan.

Ketika sudah kembali dari Mekkah, lalu mendirikan Pesantren Tebuireng yang berada di Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Jawa Timur. Memang beliau telah terlihat menentang Belanda secara terang-terangan.
Apa yang beliau lakukan memang untuk membangun komunikasi diantara para ulama yang kemudian menjadi jaringan kekuatan, termasuk membantu beberapa santri senior yang mumpuni guna mendirikan Pesantren baru di berbagai wilayah.

Jaringan inilah yang membentuk dan memprakarsai berdirinya Jam’yyah NU (Nahdlatul Ulama) untuk menjadi sarana pengembangan.
Atas usaha itu, dalam waktu singkat organisasi NU berkembang hingga ke pelosok-pelosok daerah di Jawa Timur, bahkan kemudian menjalar ke seluruh Nusantara.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan jaringan internasional, beliau tetap menjaganya, termasuk dengan sahabat-sahabat beliau selama belajar di Kota Mekkah.
Mengenai hubungan erat beliau dengan beberapa sahabatnya dari berbagai negara, dapat dibaca dari buku yang ditulis oleh seorang penulis biografi tokoh-tokoh besar dari Lebanon bernama Syaikh As’ad Syihab yang mengabadikan sosok K.H. Hasyim Asy’ari berjudul “Al Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Awwalu Waadli’i Labanati Istiqlaal Indonesia”.

Dalam kisah yang lain Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy’ari membentuk pasukan-pasukan yang memiliki kemampuan tempur pada zaman penjajahan Jepang seperti Hizbullah, Sabillah dan lain-lain.

Dari beberapa fakta sejarah tentang sebuah perjuangan dan jalinan komunikasi yang tetap terjaga dengan teman-teman beliau di luar negeri membuktikan bahwa sosok Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy’ari sudah memiliki wawasan kebangsaan secara luas termasuk bentuk negara Indonesia.

Pada sa’at posisi Jepang semakin melemah, mereka berencana untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Sa’at itu juga, Jepang meminta Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy’ari untuk berkenan ditunjuk sebagai Presiden Indonesia.
Akan tetapi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menolak secara halus dan mengarahkan Kusno (Ir. Soekarno) yang menurut beliau lebih cocok.

Setelah itu, beberapa utusan datang ke Pesantren Tebuireng untuk berdiskusi mengenai persiapan kemerdekaan, termasuk kedatangan Tan Malaka sebagai utusan Bung Karno untuk dapat berdiskusi dengan Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy’ari dari ‘Isya sampai Shubuh.

Dari beberapa pertemuan dengan utusan yang datang ke Pesantren Tebuireng, pasti banyak pembicaraan penting seputar kebangsaan. Yakin sebenarnya apa yang beliau lakukan jauh lebih besar. Beliau sangat akomodatif terhadap semua golongan.

Asasi tersebut tercermin di dalam Qanun Asasi (Peraturan Dasar) NU. Pada sa’at yang bersamaan beliau lebih memilih tinggal di Pesantren Tebuireng, tetapi tetap memikirkan bangsa ini dengan menyalurkan ide-ide pemikirannya melalui putranya yaitu K.H. A. Wahid Hasyim sa’at berusia 31 tahun yang juga merupakan anggota BPUPKI dan PPKI.

Kiai Wahid inilah yang berhasil ikut menyusun UUD 1945 dan Pancasila yang dapat diterima oleh semua golongan pada waktu itu.

Selanjutnya, sejak awal 50-an banyak sejarah yang bisa dibaca, Indonesia dengan UUD Sementara, pada tahun 1950, disepakati guna disusun ulang. Karena banyaknya kepentingan. Akhirnya Konstituante gagal lalu dibubarkan dan kembali pada UUD 1945 dan Pancasila.

[ isi perjalanan NU mulai jadi Partai politik dan ikut pemilu ]

Pada tahun 1984 NU menggelar Muktamar di Situbondo lalu menyepakati untuk menerima Pancasila.

Sa’at itu pula NU menyatakan bahwa Pancasila adalah harga mati.

Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy’ari telah mengajarkan kepada kita semua bahwa dengan berkegiatan keorganisasian terutama pada keagamaan berarti kita telah ikut berjuang demi Indonesia yang lebih baik lagi ke depannya.

Beliau wafat di Jombang pada tanggal 25 Juli 1947 pada usia ke 76 tahun. Beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Keluarga di Area Pondok Putra Pondok Pesantren Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Jawa Timur.

Beliau termasuk Pahlawan Nasional Indonesia dan Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jombang, Sabtu, 13 Juni 2020

Manda CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan