banner 728x90

CO2, Menggantung di Atmosfer !

CO2, Menggantung di Atmosfer !

Terdapat berbagai gas yang mendiami bumi, salah satunya gas karbondioksida (CO2). Seluruh dunia sa’at ini sedang berfokus dalam penanganan pandemik Covid-19, hingga kurang mempedulikan hal lain yang ada di bumi, termasuk tentang gas CO2.

Para peneliti menyampaikan kabar terbaru tentang gas CO2 dan pengaruhnya di bumi. Ternyata, di tahun 2020 tingkat gas CO2 di atmosfer mencapai rekor tertinggi baru berdasarkan laporan baru dari para ilmuan yang mempelajari tren. Sebagai gas rumah kaca, CO2 memerangkap panas, lalu secara bertahap menghangatkan bumi dan memicu sejumlah perubahan serius pada bumi yang kita tinggali. Pemanasan air laut, terumbu karang yang sekarat, badai besar dan bencana iklim lainnya telah dikaitkan dengan menghangatnya bumi.

[ hanya satu cara untuk mendinginkan suhu bumi yaitu tanam sebanyak-banyaknya pohon dan tanaman ]

Di tengah kiris kesehatan di seluruh dunia, mudah untuk melupakan bahwa manusia menghadapi ancaman eksistensial dari berbagai sudut. Cepat atau lambat pandemik Covid-19 akan berlalu, baik ketika mengambil langkah-langkah untuk secara dramatis mengurangi penyebarannya (lockdown, karantina wilayah, PSBB) atau melalui vaksin atau jenis pengobatan lain.
Ketika itu terjadi, harap jangan dilupakan bahwa planet kita masih dalam bahaya. Bagian terburuknya adalah sebagaian besar disebabkan oleh kesalahan kita (manusia).

Dilansir dari physc.org, para peneliti mengungkapkan bahwa pada 2020, pembacaan CO2 atmosfer menunjukan angka tertinggi yang pernah terjadi baru-baru ini.
Pembacaan dilakukan pada bulan April 2020. Pengukuran tersebut menunjukan konsentrasi 417,1 PPM CO2. Itu, 2,4 PPM lebih tinggi dibandingkan pembacaan di tahun sebelumnya. Meningkatkatnya tingkat konsentrasi CO2 di atmosfer disebabkan oleh aktivitas manusia (pembakaran bahan bakar fosil).
Sangat jelas bahwa kita (manusia) tidak melakukan hal yang cukup untuk mencegah bencana yang akan terjadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas rumah kaca. Ketika gas rumah kaca terbentuk di atmosfer, mereka memerangkap panas, secara bertahap menghangatkan planet ini. Itu tidak terjadi sekaligus, kadang-kadang ada penurunan dalam jumlah gas rumah kaca yang terdeteksi di atmosfer.

Tetapi, secara umum gambararan besarnya menunjukan bahwa levelnya cenderung naik tajam dari waktu ke waktu.

Hal ini sangat berdampak pada planet kita. Hal ini menyebabkan kenaikan suhu pada lautan yang mematikan banyak terumbu karang yang memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem di lautan. Terumbu karang juga berperan untuk melindungi masyarakat pesisir dari tergenang oleh gelombang badai dan ombak yang berisfat destruktif. Rusaknya terumbu karang mempengaruhi cuaca, memicu badai yang lebih besar dan lebih kuat.

[ siapakah atau makhkuk apa yang bisa menjaga Terumbu Karang ? ]

Para peneliti memiliki banyak bukti untuk menunjukan bahwa semakin panas planet ini, semakin banyak badai topan dan badai besar lainnya akan terjadi.

Perubahan iklim juga mempengaruhi kehidupan di darat. Kekeringan yang terjadi disebabkan oleh perubahan iklim, mendukung kebakaran hutan yang menumbangkan seluruh ekosistem dan keberlangsungan hidup.
Dan tentu saja, hal ini mempengaruhi rantai makanan, yang sepenuhnya dapat ditumbangkan sebab beberapa spesies tertentu didorong pada kepunahan oleh kondisi iklim yang tak tertahankan di laut dan di darat.

Sederhananya, kita benar-benar mengacaukannya.

“ Ini menggambarkan betapa sulitnya, betapa besar pekerjaan itu, untuk menurunkan emisi karbon, ” kata ilmuan senior NOAA Pieter Tans dalam sebuah pernyataan.

“ Kita benar-benar membuat Bumi melakukan pemanasan yang sangat besar untuk waktu yang besar. ”

Data historis untuk tingkat karbondioksida ditarik kembali ke akhir 1950-an. Dengan membandingkan pembacaan tingkat CO2 pada saat itu dengan pembacaan yang diambil sekarang (2020) menghasilkan hasil yang cukup mengkhawatirkan. Hasil itu menyatakan bahwa jumlah karbondioksida di atmosfer kita telah meningkat 31% hanya dalam jangka waktu yang singkat.

Fakta bahwa CO2 cenderung menggantung di atmosfer untuk waktu yang sangat lama jelas menambah masalah.

Jadi, What’s Next ??

Sumber : phys.org

[ siapakah atau apakah yang dapat menyerap C02 ? ]

Bandung, Rabu, 10 Juni 2020

-Rizal CJI
‘The First Men’

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan