banner 728x90

Capsula Mundi : [ Pemakaman Ala Kepompong ]

Capsula Mundi : [ Pemakaman Ala Kepompong ]

Jejak Karbon yang Anda Hasilkan Selama Hidup, Tidak Berakhir di Kuburan bahkan Setelah Anda Meninggal, Capsula Mundi Solusinya.

Bagi orang-orang di belahan dunia barat, sangat lazim untuk menguburkan orang yang sudah meninggal bersama dengan peti mati. Selama sang jenazah sedang beristirahat dengan tenang di alam kubur, maka kayu, bantalan sintetis dan logam yang biasa digunakan dalam peti mati tradisional serta beton yang terpancang di sekitar kuburan yang diperkuat terus mengotori bumi.

“ Banyak energi dan sumber daya yang digunakan untuk memproduksi bahan-bahan ini, yang digunakan untuk waktu yang singkat dan kemudian dikuburkan ke tanah. Mereka tidak akan rusak dengan cepat, ” ujar Jennifer DeBruyen, salah seorang dari Asosiasi Professor Teknik Biosistem dan Ilmu Tanah di University of Tennessee.

Jadi, menurut DeBruyen penggunaan peti mati untuk membungkus jenazah adalah suatu pemborosan dan malah mongotori bumi dengan bahan-bahan yang tidak mudah untuk dicerna oleh tanah.

Desainer Italia, Raoul Bretzel dan Anna Citeli mungkin mempunyai solusi atas permasalahan peti mati. Mereka menyebutnya
“ Capsula Mundi ”, berasal dari bahasa latin yang artinya kapsul dunia. Capsula Mundi adalah peti mati berbentuk telur yang melaluinya mayat atau abu jenazah dapat memberikan nutrisi bagi pohon yang ditanam diatasnya.

“ Setelah dikubur, cangkang plastic biodegradable akan rusak dan segala yang tersisa akan menyediakan nutrisi untuk pohon yang ditanam tepat diatasnya, ” ujar Bretzel dan Citeli.

Mereka percaya bahwa kematian sangat berkaitan dengan konsumerisme dan kehidupan. Tujuan dari dibuatnya Capsula Mundi adalah untuk membuat kuburan yang dipenuhi oleh pohon, bukan batu nisan, juga untuk mengurangi sampah dan menciptakan kehidupan baru (pohon) dari kematian.

[ masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa di setiap area pemakaman pasti ditanam pepohonan terutama jenis bunga ]

Ide pembuatan Capsula Mundi datang pada tahun 2003, ketika Bretzel dan Citeli melihat berton-ton furniture hancur di akhir acara pekan raya desain terkenal di Milan,
“ Salone Del Mobile ”.

“ Itu adalah kompetisi besar untuk merancang hal-hal baru, tetapi hampir tidak ada yang peduli tentang dampak di masa depan atau apakah ada orang yang benar-benar akan menggunakan hal-hal ini ? ” kata Bretzel.

“ Kami memulai memikirkan proyek-proyek yang dapat memiliki aspek lingkungan. Kematian adalah bagian dari kehidupan kami, tetapi di pameran desain tidak ada yang peduli tentang itu karena kematian merupakan satu sisi dari hidup yang tidak ingin dilihat. Banyak orang tidak ingin menganggap kematian sebagai bagian dari kehidupan. ”

Ilmu di balik Pembuatan Capsula Mundi :
Para desainer meluncurkan versi pertama dari produk mereka yang hanya diperuntukan abu jenazah. Lalu dilakukan pengembangan lebih lanjut sehingga di model berikutnya cocok untuk tubuh (jenazah) dan dikemas dalam posisi janin.
Bakteri di dalam tanah akan memecah bioplastic, kemudian abu secara bertahap akan bersentuhan dengan tanah tanpa merubah keseimbangan kimianya. Untuk sementara penguburan abu memang relatif ramah lingkungan, meski begitu, proses kremasi memiliki kritik.

“ Ini adalah proses yang sangat menuntut energi, ” ujar DeBruyen.

Selain itu, tambalan gigi yang lebih tua dalam jenazah dapat melepaskan senyawa merkuri yang berpolusi. Itulah sebabnya beberapa crematorium memasang filter merkuri.

Jacqueline Aitekenhead Peterson, Professor di Departemen Ilmu Tanah dan Tanaman di Texas A&M University menyarankan penggunaan pohon besar,
“ Tubuh akan dibersihkan dalam waktu satu tahun di lingkungan yang terkubur, sehingga nutrisi dilepaskan ke dalam tanah relatif cepat, jadi pohon besar yang ditanam di atas makam menjadi kunci. Menangkap nutrisi ini juga penting untuk melindungi air tanah. ”

“ Ada masalah dengan penguburan tradisional yaitu bahwa proses tersebut benar-benar anaerob. Sisa-sisa dari jenazah terkubur dan tersegel di peti mati. Ada banyak degradasi yang tidak lengkap, ” ujar DeBruyen.

[ ini cara pemakaman tradisional di eropa yang memakai peti mati.
Indonesia lebih baik dan sangat ramah lingkungan karena hanya terbungkus kain kafan ]

Capsula Mundi dapat membantu mempertahankan aliran oksigen ke dalam sistem dalam proses penguraian. Hal positif lain dari Capsula Mundi adalah karbon dari bioplastic berbasis pati. Salah satu alasan penggunaan bioplastic berbasis pati adalah untuk membantu mikroba dalam proses penguraian tubuh manusia.
Tubuh manusia sangat kaya akan nitrogen, sehingga mikroba yang mencoba memecah nitrogen itu membutuhkan karbon untuk menyeimbangkannya.

Jadi, Capsula Mundi merupakan konsep yang bagus untuk menciptakan kehidupan setelah kematian. Salah satu kendala dari penemuan ini adalah permasalahan hukum.

Di Canada dan Amerika Utara tidak ada larangan untuk metode pemakaman menggunakan Capsula Mundi, tetapi di Italia dan sebagaian besar negara metode pemakaman menggunakan Capsula Mundi belum diizinkan dan belum dianggap legal.

Jadi, apakah anda tertarik untuk memberikan kontribusi setelah anda meninggal ?

[ Pemakaman di Indonesia lebih baik dari eropa ]

Sumber : https://www.google.com/amp/s/amp.cnn.com/cnn/2017/05/03/world/eco-solutions-capsula-mundi/index.html

Bandung, Minggu, 31 Mei 2020

-Rizal CJI
‘The First Men’

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan