banner 728x90

Pariwisata Era Pandemik : Wisata Virtual

Pariwisata Era Pandemik : Wisata Virtual

Dunia pariwisata adalah industri yang bertumbuh dan berkembang setiap waktu. Industri ini melibatkan banyak bidang usaha dan menyerap banyak tenaga kerja. Pariwisata meliputi industri perjalanan seperti transportasi baik darat, laut maupun udara, akomodasi dan perhotelan, restoran dan atraksi wisata.

Di Indonesia, pendapatan negara dari sektor pariwisata merupakan ranking kedua penghasil devisa negara. Tidak diragukan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi dan kekayaan alam serta budaya sebagai daya tarik utama.

Berkat pengembangan sektor pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat peringkat 9 dunia.
Menurut data World Travel & Tourism Council (WTTC), Indonesia termasuk dalam Top 30 ranking Travel & Tourism Country Power Ranking (absolute growth), diresumekan sebagai berikut :
Peringkat #9 di dunia
Peringkat #3 di Asia
Peringkat #1 di Asia Tenggara

Top 30 Ranking Travel & Tourism Country Power ranking didasarkan pada pertumbuhan absolut pada periode tahun 2011 dan 2017 untuk 4 indikator Perjalanan dan Pariwisata utama hasil pendataan dan kajian WTTC.

Keempat indikator tersebut adalah :

  1. Total PDB Perjalanan & Wisata
  2. Belanja Pengunjung Asing
  3. Belanja Domestik
  4. Investasi Modal pada sektor Perjalanan & Wisata

Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas Bidang Pariwisata di Istana Bogor pada 16 Februari 2015 pernah menyampaikan,
“ Pariwisata saya tetapkan sebagai leading sector. Pariwisata dijadikan sebagai ‘leading sector’ ini adalah kabar gembira dan seluruh kementerian lainnya wajib mendukung dan itu saya tetapkan. “

Sayangnya tahun 2020 bukan tahun yang begitu baik bagi industri pariwisata, setidaknya terhitung hingga tanggal 8 Mei 2020 yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19 di Indonesia. Pandemi ini mengakibatkan aktivitas perjalanan termasuk perjalanan wisata hampir terhenti sepenuhnya. Berbagai jalur transportasi dan perpindahan orang dilarang demi menekan laju penyebaran Covid-19, baik perjalanan darat, laut dan udara.
Banyak bidang usaha di bidang pariwisata yang mengalami dampaknya, biro perjalanan wisata, penginapan, atraksi wisata, restoran dan lain-lain.

Ini membuat semua pihak harus bisa memutar otak dan mencari solusi di tengah pandemi ini. Salah satu inovasi yang tercipta adalah ‘virtual tour’ menggunakan aplikasi Zoom.
‘Virtual tour’ adalah perjalanan wisata yang dilakukan secara daring di dunia digital, biasanya menggunakan aplikasi Zoom dan dipandu oleh seorang pemandu wisata.

Seperti yang dilakukan oleh Atourin, sebuah perusahaan perjalanan wisata yang menginisiasi perjalanan wisata virtual ke Sumba, Tana Marapu pada tanggal 8 Mei 2020 pukul 15.30 WIB. Pemandu wisata kami adalah Marthen Bira, seorang kepala desa di Sumba.

Perjalanan diceritakan selama 3 hari, diawali dengan dijemput di bandara Tambaloka dan menggunakan bus. Sebenarnya, perjalanan simulasi menggunakan bus dilakukan dengan menggunakan google earth, dimana kita bisa melihat gambar rumah, jalan yang dilewati dan pemandangan di kanan kiri jalan serta gambar destinasi wisata yang dituju. Pemandu memberikan informasi di perjalanan dan di destinasi.

Hari pertama tur virtual diawali dari Bandara Tambolaka menuju Laguna Waekuri. Laguna ini kaya akan mineral dan berwarna biru, mempunyai tiket masuk sebesar Rp 2.000.
Laguna ini terletak di pinggir laut, airnya ada yang tawar, asin dan payau di beberapa bagian laguna.
Lalu dilanjutkan ke Desa Adat Ranggenggaro. Sebuah kebudayaan Megalithikum yang masih terpelihara oleh masyarakat Sumba.
Terletak di bukit dengan rumah adat dan batu kubur (kuburan batu).

Lalu dilanjutkan ke Kampung Mbawana, pantai asri yang belum terjamah dan belum dikelola. Pantai ini memiliki banyak batu karang besar yang berhiaskan cangkang kerrang. Hal ini disebabkan karena Pulau Sumba adalah pulau yang terangkat naik dari dasar laut 10 sampai 12 juta tahun yang lalu. Terus dilanjutkan ke Bendungan Waikelo Sawah, sebuah bendungan irigasi di pinggir sawah dengan goa batu dan air terjun kecil. Dilanjutkan mengunjungi Kampung Adat Tarung dan menginap di Prai Ijing.

Mengapa desa adat di Sumba banyak terletak di bukit dan akses jalannya sulit ?

Untuk melindungi desa dan warga desa dari serangan musuh. Setiap desa adat diatur oleh satu Kabishu, atau biasa kita sebut suku/klan.
Kabishu mengatur pernikahan, Kabishu mana saja yang boleh menikah mana yang tidak, pengadilan, pemakaman dan lain-lain. Setiap desa mempunyai Kabishu dan aturan yang berbeda.

Perjalanan hari kedua dilanjutkan mengunjungi Arena Pasola Lamboya. Pasola adalah upacara adat pertarungan antar penunggang kuda. Pertarungan ini sungguhan, menghasilkan luka ringan sampai luka berat.
Lalu mengunjungi Pantai Nihiwatu, Air Terjun Matayangu dan Bukit Wairinding.

Hal yang menarik, objek wisata di Sumba banyak yang masih belum diolah dan tiket masuknya gratis. Ini merupakan tugas dari Pemerintah Daerah untuk mengelolanya secara profesional agar bisa menjadi manfa’at bagi masyarakat sekitar.

Hari Ketiga mengunjungi Pantai Walakiri, Air Terjun Marang, Pantai Watuparunu, Kampung Adat Raha Prailiu dan diakhiri dengan foto bersama di zoom sebelum ke Bandara Waingapu. Semua objek wisata di Sumba sangat indah dan masih asri.

Semua aktivitas pariwisata diatur dan diolah oleh Pokdarwis dan Bumdes.
Ada permasalahan serius tentang sampah, di Sumba tidak memiliki pengolahan sampah, masih menggunakan sistem open dumping.
Selain itu, Kades menyampaikan bahwa Corona berdampak besar pada pemasukan warga dari sektor pariwisata.

Untungnya, warga mempunyai sawah dan periode bulan ini sedang panen, sehingga stok pangan cukup untuk pulau Sumba hingga satu tahun.

Acara berlangsung kondusif dan tepat waktu. Ada tiga sesi tanya jawab langsung dengan Kepala Desa (pemandu wisata) terkait dengan Sumba.
Peserta total yang mengikuti acara ini berjumlah 109 orang dari lintas latar belakang, ada akademisi, Kemendes dan Bappeda.

Semoga, setelah pandemi ini reda, aktivitas pariwisata bisa kembali menggeliat. Wisatawan virtual bisa merealisasikan kunjungan wisata dan menjadi wisatawan faktual.

Bandung, Sabtu, 9 Mei 2020

-Rizal CJI
‘The First Men’

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan