banner 728x90

Apa Kabar Pendidikan Indonesia Hari Ini ?

Apa Kabar Pendidikan Indonesia Hari Ini ?

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020. Dengan mengambil tema : Belajar dari Covid-19.

Pada mulanya, ditetapkannya tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional adalah mengingat kelahiran sang tokoh pendidikan nasional yakni yang biasa kita kenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara. Penetapan Hari Pendidikan Nasional tertuang dalam Keppres No 316 tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Dulu, pendidikan di Indonesia masih belum merata dan menyebarluas di Indonesia. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa yang akhirnya bakal menjadi cikal bakal bangkitnya pendidikan di Indonesia dan menjadi cikal bakal berdirinya lembaga pendidikan di Indonesia. Taman siswa didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 setelah pulang dari pengasingan di Belanda.

Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat yang layak. Karena pada zaman itu, untuk mendapatkan pendidikan formal sangatlah susah. Hanya kaum bangsawan dan orang Belanda yang bisa mengakses pendidikan dengan layak.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tertuang dalam pasal 1 Bab 1 yang berbunyi,
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”

Dalam UU No 20 Tahun 2003 juga tertuang jelas 3 jalur pendidikan yakni formal, nonformal dan informal yang ada dalam pasal 11,12 dan 13 berbunyi berikut ini:
Pasal 11
“Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi”

Pasal 12
“Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara struktur dan berjenjang”

Pasal 13
“Pendidikan informal adalah jalur pendidikan melalui keluarga dan lingkungan”

Lalu, apakabar pendidikan di Indonesia saat ini ?

Dari data yang dimiliki oleh TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) di 34 Provinsi masih ada sekitar 4,5 juta anak putus sekolah. 1.228.792 anak usia 7 – 12 tahun, 936.674 usia 13 – 15 tahun, 2.240.866 usia 16 – 18 tahun yang putus sekolah. Sehingga, total keseluruhan adalah 4.586.322.
Kabarnya, memang angka putus sekolah tiap tahunnya mengalami penurunan.

Menurut studi yang dilakukan oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik ada berbagai alasan dengan adanya angka putus sekolah. 2 diantaranya adalah kemiskinan dan pernikahan dini.

UU Perkawinan no 1 tahun 1974 telah menjelaskan bahwa batas minimum menikah adalah di usia 19 tahun. Tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya dunia pendidikan ini harus kita gaungkan dan tingkatkan.
Menjadi tugas pemerintah dan masyarakat guna memperbaiki kualitas pendidikan mereka. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa bantuan dan dukungan dari masyarakat.

Jika tahu sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” diceritakan bahwa Doel adalah satu-satunya orang Betawi yang mempunyai pendidikan hingga tingkat sarjana.
Dan di dalam cerita tersebut, Mak Nyak atau Ibunda dari Doel sendiri mengatakan bahwa anak perempuannya tidak perlu pendidikan tinggi, toh ujungnya ke dapur.
Ini bisa mewakili betapa pendidikan bisa saja di anggap remeh oleh sebagian orang dan mungkin masih saja ada pemikiran seperti itu di zaman kemajuan seperti saat ini.

[ yang perlu diubah adalah paradigma berfikir yang salah yang menganggap bahwa sekolah formal adalah satu-satunya tempat mendapat pendidikan ]

Survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme For International Student Assessment menempatkan Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara. Artinya bahwa Indonesia hanya unggul dari 5 negara. Hal ini juga yang membuat Indonesia bercokol di peringkat 6 dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Apa yang membuat Pendidikan Indonesia memburuk ?

  1. Sistem dan kompetensi guru yang membelenggu

Kualitas guru masih di bawah rata-rata. Dari hasil Uji Kompetensi Guru saja hasilnya masih juga rendah. Padahal, untuk menciptakan siswa yang cerdas adalah bermula dari guru. Guru tidak salah, tapi yang salah adalah kualitas guru yang harus di benahi.

  1. Sistem yang membelenggu

Di zaman 4.0 ini dalam mengakses pendidikan, guru sudah tidak menjadi narasumber utama lagi, melainkan menjadi fasilitator dan pendamping siswa saja. Sa’at ini kita masih menganut sistem pendidikan 2.0 atau yang biasa kita sebut dengan sekolah pabrik.
Memang sa’at ini kita sedang berusaha ke situ ke arah 4.0 dan mudah-mudahan saja berhasil.

  1. Lembaga pendidikan guru harus dibenahi

Sa’at ini kampus-kampus atau lembaga pendidikan guru masih banyak yang menganut model pembelajaran seperti di IKIP membuat guru sangat kekurangan ide, gagasan, inovasi dan kreasi.
Sehingga, hasilnya pun di Uji Kompetensi Guru masih sangat rendah. Hal ini juga perlu untuk dibenahi.

[ sekarang pendidikan menjadi ajang komersialisasi dan bisnis ]

Jangankan untuk semua hal di atas, tingkat membaca saja kita masih rendah dan kalah dengan negara-negara tetangga.

Maka dengan adanya Hari Pendidikan Nasional ini mari kita tingkatkan kualitas pendidikan kita melalui membaca sehingga bisa menciptakan ide, gagasan, inovasi dan kreasi yang baru untuk dunia pendidikan di Indonesia.

Jombang, Selasa, 5 Mei 2020

Manda CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan