banner 728x90

Barudakan Lapang Liar, Menuju Lapang Digital

Barudakan Lapang Liar, Menuju Lapang Digital

Raja, yaa, saya pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi raja meskipun belum pernah hidup dalam sistem pemerintahan monarki. Kerajaannya tidak besar, hanya sepetak lapangan rumput berukuran 20 meter x 10 meter.
Terletak di komplek KPAD Pusdik Bek Ang Cibeureum, kerajaan itu adalah tempat saya merasakan masa kecil.

Jadi di masa lalu, ada beberapa lapangan yang menjadi tempat bermain. Di areal Cibeureum, ada beberapa lapangan yang saya ketahui. Ada Lapang Komplek, Lapang Pasir Merah, Lapang PLN dan Lapang Batas Kota (areal parkiran toko yang relatif besar, hanya berfungsi sebagai lapang pada pagi dan sore hari).
Lapangan, merupakan asset yang sangat penting di masa itu. Sebab itu adalah kerajaan kecil tempat untuk bermain.

Jika ada lapangan, maka ada juga ‘barudakan’.
‘Barudakan’ adalah sejenis gangster yang terdiri dari anak-anak. Biasanya suatu ‘barudakan’ dipimpin oleh anak yang paling besar atau anak yang paling tua. Biasanya suatu ‘barudakan’ mempunyai nama dan reputasi, entah penamaan dari nama pemimpinnya atau daerah yang dikuasainya.

Di Cibeureum pada era saya, ada beberapa ‘barudakan’ yang dikenal diantaranya Barudakan Komplek (barudakan saya), Barudakan Hareup, Barudakan Silva Oon, Barudakan Mutiara (dari SMP Mutiara), Barudakan Aldi Bulldog, Barudakan Jange, Barudakan Gang Penjahit, Barudakan PLN, Barudakan Batas Kota dan masih banyak lagi.

Tidak ada yang salah dalam hubungan antara ‘barudakan’ dengan lapangan, hanya saja dalam perkara jumlah, jumlah ‘barudakan’ yang ada jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah lapangan yang tersedia. Ini menyebabkan adanya keinginan untuk menguasai suatu lapangan.

Ada yang berhasil menguasai suatu lapangan dan ada yang menjadi ‘barudakan’ pengembara. ‘Barudakan’ pengembara berjalan setiap hari dari suatu lapang ke lapang lain, menantang satu per satu ‘barudakan’ penguasa lapang. Tidak pernah ada kontrak tertulis tentang ‘barudakan’ mana yang menguasai lapangan mana, itu semua dibuktikan dengan pertandingan sepak bola.

Pertandingan sepak bola, dilaksanakan di suatu lapangan. Penantang cukup mengucapkan satu kata untuk memulai pertandingan, “diadu ?”. Tidak ada alasan untuk melakukan penolakan, menolak dianggap pengecut. Jadi, di masa kecil saya tiada hari tanpa sepak bola, kecuali sakit, hujan besar atau masa ujian dimana kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk pergi ke lapang.

Pertandingan biasanya terdiri dari 5 orang melawan 5 orang, jumlah pemain bisa kurang atau bisa lebih tergantung dari luas lapangan.
Jika satu tim kekurangan pemain, maka tim yang mempunyai kelebihan pemain bisa meminjamkan pemainnya.

Lapangan terbuka, garis ‘out’ imajiner dan gawang imajiner tentunya. Gawang imajiner, tetapi hampir semua pemain dapat melihat dan menentukan apakah bola masuk, tiang, out, ketinggian atau bahkan corner kick.

[ penanda tiang gawang hanya pake batu atau bata, bahkan cukup pake sandal saja ]

Anak-anak besar selalu menjadi striker dan anak-anak yang kecil menjadi bek, anak yang gendut dan paling muda biasanya dijadikan ‘kipper’. Tidak ada yang bisa menolak. Mengalir begitu saja.
Gol yang terjadi dalam satu pertandingan bisa mencapai 12 sampai 13 gol.

Tidak jarang, yang bertanding di satu lapang ada lebih dari 2 ‘barudakan’ (kelompok).
Untuk menyelesaikan permasalahan itu, maka ada suatu sistem yang disebut “rarajaan”. Siapa menang, maka menjadi raja, menjadi raja artinya main terus hingga kalah.
Itulah salah satu alasan dulu saya dan ‘barudakan’ pernah mengalami menjadi raja, karena menang terus secara konsisten dan intensif melawan ‘barudakan’ manapun.

Pertandingan tidak selalu berjalan baik, ada beberapa pertandingan yang menggiring ‘barudakan’ ke arah baku hantam. Pemainan yang kasar, ejekan yang menghina, beberapa kali ‘barudakan’ saya terlibat dengan perkelahian.
Salah satunya melibatkan Kantor Polisi, sebab menjadi konflik yang berkepanjangan.

Salah satu anggota ‘barudakan’ saya berkelahi dengan Bori Johnson karena dikasari saat bermain bola. Mereka berkelahi hingga babak belur, ayah dari teman saya datang dan ikut terkena pukul hingga pingsan. Sesudah perkelahian, teman saya pergi ke rumah Bori Johnson untuk melempar rumahnya dengan batu dan memecahkan kaca.

Alhasil, keluarga Bori Johnson memanggil Polisi atas pengrusakan tersebut dan beberapa anak dipanggil ke Kantor Polisi untuk menjadi saksi.

Yaa, itu hanya urusan anak-anak, memang sedikit membahayakan, tetapi merupakan hal yang menyenangkan.
Sa’at bermain, kita selalu bisa merasa menjadi Christiano Ronaldo, Messi, atau seperti orang kebanyakan, menjadi pemain Persib.

Yaa, disadari atau tidak olahraga merupakan kegiatan yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh dan lagi di setiap pertandingan tidak menggunakan sendal (sebab sendal dijadikan gawang). Jadi, dahulu kami punya waktu dan sarana prasarana untuk berolahraga setiap hari.

Di Cibeureum, lapangan yang masih bisa digunakan untuk olah raga tinggal sedikit. Entah bagaimana generasi muda ke depan bisa berolah raga kalau lapangan semakin sedikit, jikalau ingin bermain sepakbola pun harus sewa lapang, juga tidak ada waktu dan mereka mempunyai kegiatan yang nampaknya lebih menyenangkan di dunia digital.

Jadi, what’s next ?

Bandung, Sabtu, 1 Mei 2020

-Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan