banner 728x90

Sky War, Perang Satelit !

Sky War, Perang Satelit !

Perang ?
Tidak terima kasih, kata perang nampaknya menjadi suatu kata yang ditakuti dan tidak diinginkan di dunia. Kita manusia, mempunyai sejarah yang panjang tentang perang. Dari perang mulai menggunakan senjata batu dan kayu, berkembang menjadi pedang dan perisai dari besi, senjata api, tank, rudal balistik hingga pertempuran data di dunia digital.

Dunia sudah mengakhiri peperangan yang terjadi di dunia dengan konvensi Den Haag 1899 yang menjadi cikal bakal lahirnya pengadilan dunia untuk menyelesaikan perkara dan sengketa international.
Jadi, dunia sudah mengharapkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi dan negara-negara yang beradab dengan memyelesaikan sengketa dengan diplomasi, bukan dengan mengangkat senjata.

Meski begitu, dunia nampaknya masih dihantui oleh bayang-bayang perang, maka dari itu setiap negara mendirikan Angkatan Bersenjata (tentara/militer) untuk melindungi negara dari berbagai macam marabahaya. Setiap negara mempunyai Angkatan Bersenjata dan hampir semuanya melakukan riset dan pengembangan untuk persenjataan mereka. Meski tidak digunakan, tinju besi harus disiapkan kalau-kalau dibutuhkan.

Dahulu, secara matematis, pihak manapun yang mempunyai tentara paling banyak dan senjata terhebat bisa memenangkan perang. Perang berkembang, berbagai strategi baru berkembang, begitupun dengan senjata.

Pada tahun 2020 ini, Angkatan Udara AS baru-baru ini memperoleh persenjataan baru :
Senjata yang mampu memblokir komunikasi satelit, membuat satelit yang sedang mengorbit berhenti berfungsi untuk sementara waktu. Teknologi semacam ini, yang mampu menyerang sistem komunikasi sudah ada sejak lama, tetapi baru pada bulan Maret 2020 teknologi ini dikirimkan ke militer AS.
Sekarang, AS dapat menonaktifkan satelit musuh dari tanah.

Senjata baru ini dinamakan Counter Communications System (CCS) Blok 10.2. Senjata ini dikirimkan ke
4th Space Control Squadron, pasukan antariksa yang baru dibuat.

Dilansir dari interestingengineering.com, Manajer Program untuk sistem senjata baru, Mayor Seth Horner dari Angkatan Udara AS menjelaskan bahwa CCS merupakan rangkaian sistem komunikasi satelit yang dapat diangkut.
CCS menyediakan kemampuan berbasis darat untuk membalikan dan memotong komunikasi satelit musuh. CCS telah mengalami peningkatan bertahap sejak awal 2000an.

Hal ini meliputi memasukan pita frekuensi baru, penyegaran teknologi, peningkatan kemampuan blok dibandingkan versi sebelumnya dan pembaharuan perangkat lunak untuk melawan ancaman musuh baru.

Mengapa menyerang satelit ?

Satelit, seperti yang sudah kita ketahui, merupakan bagian vital dalam komunikasi pasukan militer modern. Lebih jauh, satelit adalah dasar dari sistem komunikasi dunia. Orang mungkin berfikir, sederhananya untuk menyerang satelit musuh cukup ditembak jatuh saja.

Kenyataanya tidak sesederhana itu. Menembak jatuh satelit dapat menyebabkan masalah besar terkait dengan puing. Puing-puing ini dapat mengenai satelit-satelit lain di orbit luar angkasa, bisa saja menabrak satelit milik kita sendiri. Belum lagi biaya untuk menembak satelit cukup mahal.

Masalah lain dengan menembak jatuh satelit militer adalah apakah tembakan yang diluncurkan dapat benar-benar menjangkau satelit musuh. Dibandingkan dengan satelit standar, satelit militer mengorbit lebih jauh untuk memungkinkan satu satelit tunggal dapat mencapai bagian bumi yang lebih besar. Ini berarti akan dibutuhkan sejumlah rudal roket untuk mencapai satelit ini dan menjatuhkannya.

Mengacak sinyal akhirnya menjadi solusi yang lebih efisien. Dengan senjata CCS memungkinkan Angkatan Luar Angkasa AS memblokir komunikasi dengan cara yang lebih efektif dan mudah dikelola untuk menghasilkan efek yang sama.

Meskipun sistem komunikasi tidak benar-benar merusak satelit yang ditargetkan, tetap saja menimbulkan ancaman besar bagi militer dan jaringan komunikasi lainnya yang bergantung pada satelit untuk menyampaikan pesan.
Hal ini berarti tentara dapat terputus dari jaringan komunikasi saat sedang dalam misi.
Dalam skenario yang lebih drastis, sistem peringatan rudal secara tiba-tiba dapat dinonaktifkan. Membuat negara manapun yang satelitnya diserang rentan terhadap serangan dahsyat. Mereka tidak akan tahu saat ada rudal atau misil yang menyerang.

[ Bayangkan, awalnya rudal berhulu ledak sedang menuju Kota New York, satelit di-error-kan, arah berbelok menuju Ibikota Jakarta…
Hal ini bisa dan sangat mungkin terjadi ]

Waspadalah dan Bersiaplah !!!

Bandung, Kamis, 30 April 2020

-Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan