banner 728x90

Bisakah Pemerintah Ng-Asih Makan Warga Miskin/Dhu’afa ?

Bisakah Pemerintah Ng-Asih Makan Warga Miskin/Dhu’afa ?

Pertanyaan itu saya ajukan kepada Amien Rais Ketua MPR RI semasa Presiden Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid dan Megawati, pada suatu acara diskusi yang dihadiri oleh lebih dari 500 orang.

[ persis tahunnya lupa, setelah ia berhenti, pada periode SBY ]

Jawabannya sangat mengecewakan saya pada sa’at itu, karena dia menjawab,
” Tidak bisa ! “

Spontan saya respon dan berkata dalam hati,
” Ya, kalau jawaban ‘tidak bisa’ mah, tukang beca oge bisaeun ! “

Ada peristiwa menarik waktu, setelah acara selesai beberapa orang teman saya yang jadi pengidola berat Amien Rais, salah seorangnya bilang,
” Ki, meuni kitu ? “
Maksudnya membela idolanya.

Saya jawab (pake basa Sunda) yang intinya,
” Ya, kalau hanya jawab ‘tidak bisa’, seorang tukang beca juga bisa.

Sebagai mantan Ketua MPR RI dan tokoh nasional, tidak sepantasnya menjawab seperti itu.

Minimal ngasih solusi lah ! “

Semenjak itu saya sudah tidak pernah bergairah bertanya itu lagi.

Emang benar geus kolot, itu keyakinan saya sampai hari ini.

Ini fakta bahwa bangsa dan negara Indonesia selain hutang yang melilit tidak pernah lunas, dunia atau sektor ril yang sengaja beralih ke sektor jasa dan keuangan (finansial), mentalnya juga sudah benar-benar parah dan rusak.

Sekelas tokoh nasional dan mantan Ketua MPR RI (menurut saya) ‘haram’ menjawab tidak bisa, apalagi rakyat dan masyarakat kecil yang tidak pernah ‘makan bangku’ sekolah dan kuliah.

Sebenarnya saya ingin sekali bisa bertanya langsung kepada Presiden yang sedang menjabat, namun tidak pernah ada saluran yang terbuka untuk itu.

Alhamdulillaah pada era Presiden Joko Widodo menjabat, sampai hari ini, siapapun bisa curhat dan menyampaikan langsung deritanya kepada Presiden dengan mudah sekali, hanya lewat medsos.

Virus Corona hari ini telah memberi satu pelajaran penting bagi seluruh manusia se jagad raya bahwa makhluk lemah yang secara kodratinya lebih rendah segalanya dari makhluk hidup ciptaan Allooh Tuhan YME paling mulia bisa mengalahkan seluruh ummat manusia.

Kedua, seluruh ahli lintas disiplin sepakat bahwa virus corona hanyalah makhluk kecil tidak kasat mata (ghaib/halus) yang hanya bisa hidup dengan menikahi (menyatu) sel yang ada pada saluran pernafasan manusia.

Pesan dari bangsa/komunitas virus corona adalah sebagai makhluk lemah harus jujur, hanya bisa hidup dengan bersinergi dan berkolaborasi dengan makhluk lain.

Kita sadar dan melihat dimanapun manusia sampai tahun 2019 begitu sombong dan angkuh, seolah apapun yang dilakukan hanya demi kebaikan dan kemajuan.

Sudah tidak perduli lagi, berapa juta manusia yang sudah tidak bisa makan lagi alias kelaparan permanen.

Sengaja menutup mata dan membiarkan tanpa rasa salah dan berdosa membuat udara kotor beracun lewat polusi individu, kelompok dan korporasi.

Air sengaja jadi media pembuangan limbah, sampah, kotoran dan najis, bahan kimia dan racun mematikan.
Sungai pun dijadikan ‘septic tank’ raksasa dan saluran air limbah yang gratis.

Gunung ditebas rata, pohon hutan ditebang dan dibakar, lembah direndam air sementara bukit dan lereng dijadikan villa dan pemukiman.
Sawah dan ladang subur dengan sengaja di’kritis’kan atas nama pembangunan dan investasi.

Perbaikan Lingkungan dan Pemuliaan Lahan hanya ada dalam kampanye jelang ‘Pilpres’, ‘Pileg’ dan ‘Pilkada’.

Kepada nasib manusia saja sudah tidak bisa peduli,
mau hidup silahkan
mau mati juga mangga,
apalagi pada nasib pohon dan binatang serta alam lingkungan.

Apakah alam dunia sepakat kita ‘kiamat’kan dan percepatan penghancuran ?

Andai semua pejabat mulai Menteri, Panglima TNI dan Kapolri, Jaksa Agung dan Hakim Agung, MPR RI – DPR & DPD RI, PNS/ASN, Tentara dan Polisi.
Gubernur, Bupati dan Walikota, Camat dan Lurah serta Kepala Desa.

Seluruh Pemilik Partai Politik, Ketua Umum Ormas dan seluruh elemen masyarakat.

Andai semuanya menurut, ta’at dan patuh pada salah satunya
Perpres No 15 Tahun 2018
tentang Percepatan Revitalisasi Sungai Citarum dan DAS-nya

Maka mulai awal tahun 2020 seluruh Kawasan Daerah.Aliran Sungai Citarum beserta anak, cucu dan cicitnya
bulan Januari Air dan Udara sudah bersih dan suci.

Sawah, ladang, bukit dan hutan di seluruh Daerah Aliran Sungai Citarum sudah bisa memberi makanan bergizi dan ber-vitamin yang bersumber dari pohon/tanaman pangan dan rempah-rempah.

50 juta jiwa penduduk Jawa Barat dan juga DKI Jakarta sudah bisa dan mampu dikasih makan oleh
Tanah dan Air Sungai Citarum.

Presiden sudah memerintahkan untuk melakukan percepatan.
Menterinya sebagian ‘sami’na wa atho’na’ ta’at dan patuh, sebagian lagi ‘sami’na (kami dengar) wa fikirna (masih mikir)’.

Bahkan ada PNS/ASN, TNI dan Polri di wilayah Jawa Barat, di 12 Kota dan Kabupaten terdampak
‘laa sami’na wa laa atho’na’
“Tidak pernah mendengar dan Tidak pernah ta’at/patuh”

Hasilnya, gubernur gonta ganti plus kepala dinas touring jabatan, pangdam 3 berganti beserta dansektornya, kapolda roling dikuti jajarannya, kajatipun berotasi, satgas bring ka ditu bring ka dieu untuk bersihkan sampah dan limbah pagi dan sore begitu siang dan malam kotor kembali.

Sampai hari ini ;
Sampah
Limbah tetap mengotori dan mencemari Air dan Sungai Citarum.
Masyarakat butuh hidup, pemilik pabrik butuh lebih dari hidup dan pemerintah butuh asupan ‘pajak’ untuk ‘pad’.

911.152 hektar sekitar Daerah Aliran Sungai Citarum masih jadi lahan kritis.
Berita dan catatan pohon yang telah terbibitkan ada.
Pohon tidak ada dan tidak tertanam di tanah.
Pohon dan tanaman perlu dan butuh hidup.
Para pemulia pohon dan pembibit pohon butuh asupan dana dan biaya untuk mempertahankan hidup.

Menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota sudah punya gaji tetap, popularitas permanen selama membabat dan ‘pendapatan asli pribadi’ sesuai undang-undang.

Anggota DPR RI dan DPRD Provinsi, Kota/Kabupaten sudah punya gaji dan fasilitas.

Anggota TNI sudah punya gaji plus uang harian bagi yang jadi Satgas PPPK Citarum.
Anggota Polisi sudah punya gaji.
PNS/ASN sudah pasti punya gaji dan tunjangan lain.

Bagaimana dengan nasib orang kecil, rakyat kecil, orang kecil yang tidak punya pendapatan dan penghasilan yang peduli pada nasib Sungai Citarum ?

Bagaimana nasib para pelajar dan mahasiswa yang tidak punya dana dan biaya serta para generasi muda yang tidak punya penghasilan berkeinginan memelihara, menjaga dan merawat Sungai Citarum dan DAS-nya ?

Apakah Lurah, Camat, Kepala Dinas, Bupati dan Walikota, Dansektor, Gubernur dan Pangdam dan Polda, Menteri dan Presiden bisa memberi dan ng-Asih semua orang yang terdampak Pencemaran dan Kerusakan Sungai Citarum yang Mewabah di Jawa Barat makan dan minum gratis minimal selama 2 tahun ?

[ Wabah Virus Corona atau Covid-19 telah mengharuskan Presiden sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan pusat mengucurkan dana lebih dari 401 triliun untuk atasi dampak serangan Covid-19 ]

Anti Virus Corona hanya satu Manusia harus cukup makan asupan nutrisi yang bergizi dan ber-vitamin.

Dan bahagia selalu !

Bandung, Rabu, 22 April 2020

Muhammad Zaki Mubarrok
UTeuK InterD

#HariPertamaBandungRayaSumedang-LockDown

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan