banner 728x90

UJIAN ONLINE ?

UJIAN ONLINE ?

Di tengah pandemi Covid-19, semua mahasiswa dan pelajar harus melakukan pembelajaran dengan belajar secara online di rumah. Bahkan, hingga ada yang ujian dilaksanakan di rumah secara online.

Lalu, apakah ini efektif ?

Kelebihan dari ujian online memang kita bisa mengikuti perkembangan zaman, lebih simpel dan sederhana.
Ujian Nasional saja sudah berbasis komputer.
Artinya bahwa soal-soal yang disediakan untuk pelaksanaan ujian sudah bisa diakses melalui laman browser atau aplikasi yang sudah terinstal dengan baik pada komputer tersebut.

Ujian online itu artinya ujian yang tidak menggunakan kertas yang mana kertas selama ini berfungsi sebagai media lembar soal dan jawaban. Tentu, jumlah kertas yang dibutuhkan memanglah tidak sedikit.
Ini bisa jadi untuk mengurangi resiko penebangan pohon yang semakin marak terjadi.

Ujian online juga lebih aman dibandingkan ujian menggunakan kertas, karena soal-soal tidak bisa bocor dengan sembarangan dan kunci pun bisa langsung di masukkan ke dalam sistem sehingga ketika ujian selesai langsung muncul nilai dan jawaban, tidak tahu mana jawaban yang salah dan mana yang benar.
Beda jika dibandingkan dengan ujian kertas dimana soal gampang sekali bocor mengingat media yang digunakan adalah kertas dan itu mudah didapatkan (digandakan) sekalipun ada pengawalan dari pihak kepolisian dan keamanan terkait.

Kunci jawaban pun bisa (mudah) bocor, karena memang sekali lagi media yang digunakan adalah media kertas.
Ini berarti, ketika soal ujian selesai dikerjakan lalu dikumpulkan. Nah dalam proses inilah yang sangat berpotensi sering terjadi kesalahan.
Soal-soal itu bisa saja jatuh di jalan tanpa sepengetahuan petugas keamanan.

Tapi ini dulu, sebelum masa pandemi Covid-19. bagaimana sekarang ?

Sekarang semua dikerjakan serba di rumah, termasuk ujian. Memang kelebihan ujian online seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Namun, jika dilaksanakan dengan berbeda soal dan di tempat yang sama oleh pelajar/mahasiswa tersebut. Masalahnya adalah semua pencernaan di rumah dan diberikan waktu sampai 24 jam, maka bisa menjadi indikator terjadinya tindak kecurangan yang sangat tinggi.

Bisa saja, para pelajar dan mahasiswa dengan mudahnya menggunakan teknologi digital seperti hp untuk mencari kunci jawaban yang ada di google atau bahkan tanya kepada teman mereka menggunakan fitur chattingan yang ada di masing-masing ponsel mereka.

Apalagi diberikan waktu 24 jam, bisa jadi mereka berleha-leha menunggu jawaban dari temannya yang jago mengerjakan soal untuk diberikan kunci jawabannya kepada teman-temannya. Mereka tinggal duduk manis, menunggu, copy paste dan jika sudah waktunya upload jawaban mereka di laman yang sudah disediakan oleh institusi pendidikan.

Kita tidak berbicara mengenai “kamu jangan berpikiran buruk seperti itu”, tetapi ini adalah kemungkinan terburuk hal yang bisa terjadi saat ini.

Efektifkah ?

Jika dilihat di saat ini, memang hal ini efektif untuk mengurangi siswa berkunjung ke sekolah dan bisa melaksanakan social distancing sesuai anjuran pemerintah.
Tetapi, mungkin saja kurang efektif jika digunakan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Pakai teknologi boleh, bahkan dipersilahkan. Tetapi, sebagus apapun teknologi ada hal yang tidak boleh kita lupakan.
Yakni kelemahan dari teknologi itu sendiri.

[ ini tantangan berat bagi dunia pendidikan nasional Indonesia, terutama bagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan – Dikti Nadiem Makarim ]

Apakah Mendikbud – Dikti mampu mengubah dan memanfa’atkan Covid-19 untuk melakukan Revolusi Pendidikan menuju percepatan kemajuan bangsa Indonesia ?

Jombang, Senin, 20 April 2020

Manda CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan