banner 728x90

“Debat”

“Debat”

Apa yang pertama kali tersirat di benak anda saat mendengar kata “debat” ?

Debat Capres ?
Yaa, kadang kala dalam pemilu debat digunakan untuk menguji wawasan dan kemampuan ‘public speaking’ seorang Calon Presiden. Meskipun pada akhirnya ada tujuan marketing dan branding dari debat tersebut yang memang merupakan bagian dari drama negara demokrasi.

Coba lagi,

Debat Kusir ?
Okee, debat kusir adalah suatu ungkapan atas salah satu jenis perdebatan yang terjadi di masyarakat. Debat tersebut bisa berbobot bisa tidak (seringnya tidak), mungkin di dalamnya terdapat perang data, mungkin juga tidak. Hal yang menjadikannya seru adalah adanya pelibatan emosi yang berlebih, lebih-lebih dengan menggunakan data tidak valid bahkan tanpa data, bisa sampai ngotot-ngototan mempertahankan argumen masing-masing.
Puncaknya,… yaa kadang-kadang bisa menjurus ke baku hantam.

Jadi sebenarnya debat itu apa ?

Debat adalah salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan oleh dua pihak yang saling bertentangan dengan mengadu argumentasi.
Dalam pemerintahan disebut sebagai debat parlementer, biasanya digunakan untuk menentukan kebijakan yang akan diberlakukan di masyarakat. Jiwa (kandungan) debat adalah tentang kebijakan dan proporsi pemikiran, baik atau buruk, efektif atau tidak efektif dan berguna atau tidak bermanfaat.

Ada pepatah dalam debat “Who should the loudest does not win”,
artinya siapa yang paling keras tidak akan menang.
Dalam dunia pendidikan dan perguruan tinggi, debat biasanya dipertandingkan sebagai ajang pengembangan diri.
Banyak pertandingan debat baik di level regional, nasional sampai internasional.
Biasanya dalam pertandingan, pihak yang berdebat dinamakan kubu pemerintah dan kubu oposisi.

Dalam kompetisi, hal yang menjiwainya adalah bagaimana setiap tim bisa saling bersaing memperebutkan supremasi.

Dalam debat, ada beberapa format yang bisa dimainkan. Ada Royal Malaysian atau dikenal dengan Asian Parlimentary dan British Parlimentary atau world debate. Inti dari debatnya tetap sama, pemerintah melawan oposisi. Hal yang membedakan adalah jumlah tim dan pemain dalam satu ronde serta mekanisme.

Asian Parlimentary (AP) dimainkan oleh 2 tim, pemerintah dan oposisi. Satu tim terdiri dari 3 orang. Sedangkan British Parlimentary (BP) dimainkan oleh 4 tim, Opening Gov. , Opening Opp. , Clossing Gov. dan Closing Opp. Satu tim terdiri dari 2 orang. Meskipun tim Opening dan Closing berada dalam tim yang sama, tetapi tetap bersaing merebutkan posisi pertama dari 4 tim.

Jadi 4 tim semuanya merupakan musuh, yang berat adalah ‘role fulfilment’ atau pemenuhan peran.
Tim opening bertugas untuk membuat argument yang menentukan jalannya debat dari memberikan definisi dan membuat arena.
Tim Clossing diuntungkan dengan informasi yang sudah dipaparkan dan arena yang dibuat oleh opening. Tetapi tim Closing harus bekerja keras dengan membuat argument baru atau melihat argument yang ada dari sisi yang lain, tetapi harus tetap masuk dalam indikator dan argumen yang ada.

Teknisnya, setiap orang maju satu persatu dari pembicara pertama hingga pembicara terakhir untuk memaparkan argumennya. Sebelum dimulai, kedua tim diberikan waktu untuk melakukan case building atau penyusunan bahan. Saat sudah mulai, satu orang diberikan waktu 7 menit 20 detik untuk menyampaikan argumennya.
Satu menit pertama tidak boleh diinterupsi, setelah itu boleh. Satu menit terakhir tidak bisa diinterupsi, sebelum itu boleh.

Jadi apa sih yang dipertentangkan ?

Mosi.
Mosi adalah topik yang diperdebatkan. Biasanya menentukan kebijakan yang menantang status quo atau suatu saran baru demi kemaslahatan bersama. Setiap tim dituntut untuk menyampaikan argumen yang mendukung tugasnya masing-masing, ada yang mempertahankan status quo atau menentang status quo.

Contoh “Pemerintah akan melarang peredaran alkohol”.
Maka pemerintah menentang status quo dengan melarang peredaran alkohol seluruhnya dan oposisi mempertahankan status quo untuk tidak melarang peredaran alkohol. Pihak yang bisa menjelaskan alasan, latar belakang, mekanisme, manfaat dan bahaya dari suatu mosi menang.

Jam terbang akan menunjukan kualitas pemaparan dari setiap pembicara. Semakin sederhana dan mudah dimengerti semakin baik.

Mendapatkan kemenangan sama dengan mendapatkan supremasi dan itu menyenangkan, entahlah mungkin karena pada dasarnya kita semua senang untuk menguasai.
Untuk menang dibutuhkan argumen yang bagus, argumen yang bagus harus disampaikan dengan bagus juga dengan lancar dan tidak terbata-bata.

Untuk membuat argument yang bagus, maka harus bisa berfikir kritis dan mempunyai wawasan yang luas (jangan malas baca yaa).
Untuk menyampaikan argument secara bagus, beberapa orang punya keahlian bawaan atau trah, tetapi kunci sebenarnya adalah di kemampuan menulis.
Kemampuan otak manusia rata-rata sangat terbatas.

Di ‘debat’ kemampuan otak digunakan untuk mengingat informasi yang banyak, mengolahnya dan menyampaikannya dalam waktu yang singkat. Sulit jika tidak ditulis, tulisan membantu kita merapikan alur berfikir kita dan membantu kita menyampaikan informasi secara masif, terstruktur dan sistematis.

Kesimpulannya, debat adalah seni berfikir kritis dan seni berbicara di depan umum.
Bagaimana kita menggunakan akal kita, wawasan kita dan alur berfikir otak kita untuk mengolah informasi dan menyampaikannya dengan baik sehingga bisa dimengerti.
Debat adalah adu argumen yang konstruktif dan solutif.

Last but not least, Debaters are not born, they are made.

Cimahi, Sabtu, 11 April 2020

-Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan