banner 728x90

Belajar, Belajar dan Belajar !

Belajar, Belajar dan Belajar !

Manusia adalah makhluk yang selalu belajar dan harus senantiasa belajar.

Dikalahkan, dihempas, dihadang dan ditaklukan oleh alam selama bertahun-tahun, tetapi selalu berhasil menaklukannya. Cuaca buruk, wabah, kelaparan, kelangkaan sumber daya, serangan hewan buas, sudah tidak terhitung lagi berbagai ancaman yang sudah mengisi kisah peradaban manusia dari milenium satu ke milenium lainnya dan kita masih bertahan hingga hari ini.

Meneruskan peradaban yang sudah sejak lama dibentuk, diwariskan dan diubah. Mungkin mengikuti konsep trimurti hindu.

Trimurti Hindu adalah tiga dewa utama dalam agama Hindu yang mempunyai peran dalam keberlangsungan semesta. Brahma yang menciptakan, Wisnu yang memelihara dan Siwa yang menghancurkan. Begitulah peradaban manusia, selalu berputar dari penciptaan, pemeliharaan dan kehancuran.

Kita selalu mempunyai hal untuk mengisi sejarah dan masa lalu kita serta membangun dari setiap kehancuran. Lalu dipelihara, hingga pada waktunya untuk hancur kembali.

Jadi, apa sebenarnya yang membuat kita masih bertahan hingga hari ini ?

Kemampuan otak kita untuk berfikir dan menggunakan akal kita.
Yaa, alam memang kejam, hanya yang kuat yang bisa bertahan. Kuat yang dimiliki manusia tidak hanya sekedar kuat secara fisik, tetapi juga psikis, kejiwaan dan mental.
Kita belajar, itulah jawabannya.

Kita selalu menghadapi masalah bahkan sejak zaman nenek moyang kita, tetapi kemampuan kita untuk menggunakan akal dan belajarlah yang membantu kita menemukan jawaban dari setiap permasalahan yang ada di dunia.
Apa yang kita pelajari kita sebut sebagai ilmu dan pengetahuan.

Perkembangan ilmu pengetahuan masih berlangsung hari ini. Dimulai dari rumah saat seorang anak diajarkan oleh orang tuanya untuk berbicara, berdiri dan berjalaan.
Lalu ketika sudah berusia cukup dimasukan ke Taman Kanak Kanak untuk belajar bersosialisasi dan hidup dengan sesamanya.
Setelah itu dimasukan ke SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun dan SMA atau SMK selama 3 tahun.

Semua ini pendidikan dasar yang merupakan program pemerintah bernama wajib belajar. Setelah ini, anak diberikan pilihan. Apakah akan langsung kerja atau masuk perguruan tinggi.

Jika memilih masuk perguruan tinggi, disuruh memilih lagi apakah akan masuk kuliah kedinasan, akademi kedinasan, universitas, politeknik, sekolah tinggi atau institut. Setelah itu disuruh memilih lagi apakah swasta atau negeri, lalu memilih jurusan. Semua rangkaian kegiatan belajar ini disebut dunia akademik.

Mengapa dinamakan akademik ?

Akademik berasal dari nama Academus, Pahlawan di Era Yunani Kuno pada zaman Attic yang berperan dalam perang Troya.
Nama Academus akhirnya dijadikan sebuah nama Plaza di Yunani Barat untuk menghormati jasanya.

Para Filusuf masa lalu, seperti Plato dan Socrates sering berkumpul dan membicarakan persoalan-persoalan di masa itu dengan berbagai lapisan masyarakat.
Plaza tersebut kemudian dilembagakan oleh Plato menjadi tempat berdialog dan mempelajari masalah-masalah filsafat.
Orang-orang yang terlibat di dalamnya kemudian disebut Academist.

Plaza Academia memang memiliki spirit untuk dialog yang bebas, jujur dan transparan tanpa kepentingan apapun kecuali untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan.
Hal ini sejalan dengan misi utama para filsuf yang bertujuan untuk mendidik masyarakat dengan mencari kebenaran melalui dialog.

Saat ini, penggunaaan kata Akademik, Akademia dan Akademisi lebih merujuk kepada dunia pendidikan perguruan tinggi. Ada kesan eksklusifitas antara kaum akademik dan kaum non akademik. Hal ini membuat seperti adanya arogansi di dunia kampus yang disebabkan oleh (merasa) Kaum Akademik mempunyai pengetahuan yang lebih dibandingkan non akademik dan dunia akademik.
Hal ini menciptakan dunia akademik seperti dunia anak tangga. Harus naik tingkat tetlebih dahulu untuk mempelajari suatu ilmu.

Ilmu tersebut dikomersialiasi pula, semakin membuat (seolah) seleksi alam siapa yang bisa terpilih menjadi kaum akademik.

Lain di atas lain di bawah.
Di dunia pendidikan biasa/menengah (bukan perguruan tinggi), akademik lebih berorientasi pada nilai dan prestasi belajar siswa.
Siswa yang memiliki nilai yang bagus dianggap memiliki prestasi akademik yang bagus. Alhasil, semua pembelajaran bukan lagi untuk menemukan kebenaran dan kebijaksanaan, tetapi hanya persaingan mendapatkan nilai.

[ sudah tidak perdulikan lagi apakah nilai bagus tersebut hasil dari kejujuran atau nyontek ]

Yaa, ilmu dan pengetahuan berhasil membawa kita, manusia dari masa lalu hingga sampai ke hari ini. Bijaklah dalam menuntut ilmu, carilah kebenaran dan kebijaksanaan, bukan sekedar nilai yang semu.

Menuntut ilmu itu seperti menguras (air) dengan apapun bisa, tidak perlu muluk-muluk.
Asal sabar saja, lama-lama ilmu itu juga habis juga.

[ Ilmu itu laksana air di lautan yang luas ]

Ibarat menguras lautan dengan batok kelapa, seperti itulah menuntut ilmu.

Bandung, Kamis, 2 April 2020

  • Rizal CJI
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan