banner 728x90

Super Sunday

Super Sunday

“Hujan turun lagi…. Temani, temani aku…. Deraslah, Deras…… Semakin Derass, agar ku tak merasa….. Kesepiann.”
Mungkin potongan lirik dari lagu “Hujan Turun Lagi” karya M. Akbar Fachrulrozi adalah rangkaian kata-kata yang dapat mendeskripsikan bagaimana hari Minggu tanggal 29 Maret 2020.

Hari ini tepat hari ke 7 dari total 14 hari Karantina dan ‘Work From Home’ (WFH) Bekerja Dari Rumah atas instruksi dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Hal ini terjadi karena wabah yang disebabkan oleh suatu virus dan menjadi pandemi yang menyerang sistem pernapasan bernama Covid-19 atau virus Corona.

Virus ini berhasil membuat Negara Indonesia berstatus Darurat Bencana, membuat beberapa tempat melakukan ‘lockdown’ yaitu karantina wilayah dan ‘social distancing’ atau jaga jarak. Semua orang diharapkan tetap diam di rumah masing-masing hingga waktu yang tidak ditentukan.

Jakarta menjadi zona merah sebab lebih dari 500 orang sudah terjangkit virus ini per 29 Maret 2020. Bertahun-tahun Jakarta mencari solusi kemacetan dan akhirnya bisa diselesaikan oleh Covid-19 yang membuat jalan raya tidak seramai biasanya.

Dari berbagai dampak dari wabah Covid-19, salah satunya saya rasakan. Saya Rizal Ul Fikri, mahasiswa semester 6 Politeknik Negeri Bandung yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan di PT Tama Putra Wisata harus mengakhiri musim pkl lebih awal. Terhitung sejak 23 Maret 2020, saya dirumahkan oleh perusahaan demi alasan keamanan, hal ini sejalan dengan surat edaran dari Polban tentang Penarikan Mahasiswa PKL dari tempat PKL. Secara teknis, instruksi dari kantor adalah ‘Work From Home’, tetapi tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan oleh pegawai Biro Perjalanan WIsata di tengah Pandemi ini, artinya liburan untuk saya. Dalam libur dan karantina, seharusnya saya sudah bisa menggarap laporan PKL dan mempersiapkan diri untuk sidang PKL. Tetapi, laptop saya rusak dan baru selesai diperbaiki pada tanggal 26 Maret 2020, alhasil saya memulai start lebih lambat dibandingkan kawan-kawan saya yang sudah mencapai Bab 3.

Liburan yang lebih awal berhasil membuat otak saya bekerja lebih lambat, kebodohan saya (muncul) karena tidak melatih diri untuk menggunakan kemampuan berfikir otak secara maksimal.
Alhasil saya benar-benar kesulitan dalam merangkai kata dan memparafrase kalimat dari teori-teori yang saya baca dari jurnal.

Hal ini juga diperparah dengan panduan penulisan Laporan PKL yang panjang dan bertele-tele dari jurusan, sudah membuat malas untuk dibaca dengan bahasa yang rancu dan kalimat yang sukar dimengerti.
Ahh iya, mungkin salah saya sendiri malas baca.
“Iqro Mileaa” salah satu dialog yang terkenal dari Film Dilan 1990.

Jadi, pada Minggu tanggal 29 Maret 2020, saya menggarap laporan PKL saya yang start-nya terlambat. Amboiii… Sulit kali menemukan motivasi untuk menggarapnya, ditambah lagi oleh hujan deras seharian di Cibeureum, Cimahi Selatan di rumah yang saya gunakan untuk bernaung dan menyusun laporan.

Hujan membuat cuaca dingin dan membangkitkan magnet yang luar biasa di kasur dan selimut ditambah daya tarik dari dunia maya yang memanggil manggil tiada henti, seakan dunia di dalam sana lebih nikmat untuk dinikmati daripada dunia yang sebenarnya.

Pada akhirnya, saya terkena demotivasi. Demotivasi adalah sebuah perasaan lelah, menyerah, ingin berhenti yang menetralkan emosi, semangat, gairah dan passion dalam hal apapun yang dikerjakan.
Demotivasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah tujuan.
Bukan seberapa bagus mobil apa yang kamu gunakan, tetapi kemana lokasi yang akan dituju.

Orang yang tidak punya tujuan akan rentan terserang demotivasi, karena tidak punya hal untuk diperjuangkan. Ini mengingatkan saya akan Buku 7 Habbit karya Steven R Covey.

Dalam Habbit kedua, “Mulai dari akhir”. Mulailah segala sesuatu dari tujuan yang ingin dicapai. Dalam bukunya ada test untuk mengetahui tujuan hidup seseorang, caranya bayangkan hari kematian anda.

Di hari pemakaman, apa yang anda ingin orang-orang kenang dari diri anda ?

Maka, jika sudah tahu anda ingin dikenang seperti apa, maka akan memudahkan anda menyusun rencana dan mencari jalan untuk mencapai tujuan tersebut.

Saya sa’at ini relatif stress tanpa tujuan yang pasti atas laporan PKL saya, otak saya sangat ahli membuat alasan, stress lah efek social distancing,
Lelah ‘laahh’ habis bertarung dengan rasa malas, muak lah mengingat betapa bencinya saya akan dunia akademik yang rumit dan bertele-tele dan ‘lalalala’ lainnya.

Hal yang membuat stress adalah sesuatu yang berjalan tidak seperti bagaimana kita kehendaki. Saya menghendaki laporan PKL saya bisa beres atau minimal ada progress, maka yaa solusinya simpel saja saya harus mulai mengerjakannya.

Cukup mudah kan ?

Kita tidak mengambil keputusan atau menentukan pilihan, kadang pilihan sudah dibuat dan terjadi bahkan sebelum kita melakukan pertimbangan. Kita menyusun cerita atau eksplanasi yang masuk akal atas pilihan yang terjadi. Jadi pada akhirnya, setinggi apapun level demotivasi yang terjadi, saya hanya punya satu pilihan yaitu menyelesaikannya.

Simpel, seperti saat main kausalitas sebab akibat. Rizal stress karena laporan belum selesai dan berlindung dengan alasan demotivasi.

Mulai dari akhir, apa akhir yang diharapkan agar stressnya bisa hilang ?

Laporan harus selesai, maka niscaya beban hilang.

Bagaimana laporan bisa selesai ?

Ya, dikerjakan.
JIka memilih untuk tidak dikerjakan bisa saja, tetapi harus siap atas resiko apapun yang terjadi dari keputusan tersebut.
Simpel, semuanya hanya permainan sebab akibat,

“You are free to do everything you want to do, but in the end you have to responsible for everything you have done.“

Ini, hari Mingguku ? Bagaimana hari minggumu ?

Cimahi, Minggu, 29 Maret 2020

  • Rizal CJI
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan