banner 728x90

Pedagang Itu Bernama Nasi Goreng !

Pedagang Itu Bernama Nasi Goreng !

Pagi hari Senin, 9 Maret 2020 saya berjalan menyusuri udara dingin di Jalan Cikapundung Kota Bandung, tepatnya di area perdagangan koran dan majalah.

Berkesempatan bicara dan bincang-bincang nyantai bersama seorang tukang nasi goreng yang menurut cerita sudah berjualan sejak tahun 1992.

Apa perbedaan dagang nasi goreng pada tahun 1992, moneter (reformasi) dan era sejarang ?

Tahun 1992 kondisi ekonomi seperti penuturan si tukang nasi goreng kepada penulis adalah …

Harga jual nasi goreng berkisar Rp. 1.000 per porsi, dimana dia bisa menjual sampai 124 porsi/piring.
Artinya dia bisa peroleh uang sampai Rp. 124.000 sekali dagang (sehari/semalam).
Sedangkan modal yang dia keluarkan cukup Rp. 50.000, sehingga sehari bisa dapat untung sampai Rp. 74.000.

Harga beras waktu itu Rp. 800 per kilogram, telur Rp. 1.200 per kilogram.
Harga rokok jarum super (?) Rp. 450 per bungkus.

[ hari ini katanya harga rokok sekitar Rp. 25.000 ]

Apa yang luar biasa dari si tukang goreng ini ?

Hanya dalam tempo dua (2) tahun saja dari hasil usaha ‘kuliner jalanan’ nasi goreng, dia bisa membeli rumah (dari bilik bambu sa’at itu) seharga Rp. 4,5 juta.
Juga bisa membangun rumah dua lantai menghabiskan dana Rp. 8 juta an.

[ hari ini harga pasaran rumah itu lebih dari Rp. 200 juta ]

Semua sendi dan pola hidup terutama bidang ekonomi dan kesejahteraan ber-ubah total sejak krisis ekonomi atau moneter melanda Indonesia, Asia Tenggara dan Asia.

Sejak 1997 krisis ekonomi menerpa dan menjangkiti seluruh sendi ekonomi bangsa dan negara Indonesia.
Bangsa dan Negara Republik Indonesia jatuh ambruk terpuruk sampai sa’at ini tidak bisa bangkit lagi.

Sedang bangsa dan negara Asia Tenggara (tetangga NKRI) bisa cepat pulih dan kembali berdiri ajeg.

Kenapa bangsa dan negara Indonesia sangat sulit sekali bisa pulih dan bangkit dari keterpurukan khususnya ekonomi yang imbas utamanya adalah masalah kesejahteraan rakyat terkoyak ?

Presiden Soeharto selama 32 tahun berkuasa telah sukses berhasil gemilang lewat RePeLiTa yang berkesinambungan menampilkan Kesejahteraan Semu artinya pura-pura sejahtera dan manipulatif.

Hanya keluarga dia, kroni dan kolega, para bankir dan pengusaha serta korporat asing saja yang bisa kebagian dan menikmati kueh dana pinjaman besar-besaran dari bank dunia dan negara maju untuk dan demi kemajuan diri dan kepentingannya.

Ingat, semua dana yang pemerintah Soeharto dapat itu adalah hutang pinjaman lunak jangka panjang.
Soft Loan

Semua hutang wajib dibayar dan ada waktu jatuh temponya.

Kapan jatuh tempo hutang pinjaman luar negeri tersebut ?

Pada tahun 1997 semua hutang besar dari IMF jatuh tempo.
Pemerintah Republik Indonesia harus membayar hutang,
Faktanya pemerintah tidak bisa bayar hutang karena uangnya sudah habis.

Sebagian besar pemerintah Soeharto berikan kepada para pengusaha swasta yang dikenal sekarang dengan “Sembilan Naga”.

Yang harus bayar siapa ?

Seluruh warga negara Indonesia.

Edan kan ?

Bandung, Senin, 9 Maret 2020

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan