banner 728x90

Minyak Sawit: Komoditi Selangit, Alam Menjerit

Minyak Sawit: Komoditi Selangit, Alam Menjerit

Minyak goreng sebagai salah satu dari sembilan bahan pokok yang wajib dipenuhi oleh setiap rumah tangga di Indonesia untuk urusan dapur terutama memasak menjadi barang yang tak terlupakan dalam komoditas utama saat belanja, ketersediaan minyak goreng dengan harga yang terjangkau menjadi hal yang penting bagi kestabilan perekonomian Indonesia.

Berdasarkan Keputusan Kementerian Perdagangan Nomor 27/M-DAG/PER/5/2017 mengenai sembilan bahan pokok yang terdiri dari beras, gula pasir, minyak goreng dan mentega, daging sapi dan ayam, telur ayam, susu, jagung, minyak tanah, serta garam beryodium yang menggantikan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 115/MPP/Kep/2/1998 (Kemendag.go.id) sebagai acuan dalam penetapan harga pembelian dan penjualan bagi konsumen.

Maka tak heran jika saat ini begitu banyak jenis dan ‘merk’ (brand) terkenal penghasil minyak goreng yang berasal dari kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) di pasaran, mulai dari minyak curah atau eceran hingga yang dikemas menggunakan botol atau plastik dengan harga yang tentunya bervariasi pula.

Besarnya prospek yang menguntungkan akan produksi minyak goreng ini begitu menggiurkan bagi setiap pengusaha dan juga pemerintah.

Sebagai penentu kebijakan (regulasi), pemerintah mengandalkan produksi minyak kelapa sawit ‘crude palm oil’ ini menjadi salah satu komoditi andalan ekspor Indonesia sebagai produsen terbesar dan pangsa pasar di dunia (Hafizah, 2011, Hlm. 154).

Penyebaran perkebunan kelapa sawit yang tersebar luas di Sumatera dan Kalimantan menjadikan produksinya terus bertambah setiap tahun, pertambahan jumlah penduduk dan permintaan yang besar akan minyak goreng yang berasal dari kelapa sawit membuat pemerintah terus menggenjot komoditi ini sebagai pemasukan negara dengan menambah luas lahan perkebunan yang ada.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, lahan sawit Indonesia mencapai 14,23 juta hektare (ha) yang terdiri atas 5,8 juta ha perkebunan rakyat, 635 ribu ha perkebunan besar negara dan 7,88 juta ha perkebunan besar swasta, dengan wilayah Riau sebagai pemasok terbesar sebanyak 19% kebutuhan minyak sawit negara (Kusnandar, 2019).

Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi yang ada di lapangan, bak jauh panggang dari api, Jawa Barat misalnya, sebagai wilayah yang memiliki lahan cukup luas dengan jumlah penduduk yang banyak, Jabar justru berperan sebagai konsumen terbesar minyak sawit di Indonesia.

Dikutip dari (Kompas.com) saat konferensi di Bandung, Ahmad Heryawan selaku Gubernur Jawa Barat saat itu menyebutkan bahwa:
“Konferensi ini cukup beralasan dilaksanakan di Bandung karena Jawa Barat merupakan pangsa pasar kelapa sawit terbesar di Indonesia”, ucap Aher.
Jumlah penduduk yang banyak di Jawa Barat menjadi suatu alasan logis mengapa wilayah ini menjadi konsumen terbesar minyak sawit, selanjutnya Aher menyebutkan bahwa Jawa Barat tidak mungkin untuk mengembangkan produksi minyak sawit karena lahan yang tidak ada dan tidak seluas di Sumatera ataupun Kalimantan.

Perbedaan pendapat antara Ahmad Heryawan dengan Deddy Mizwar selaku Wakil Gubernur mengenai potensi Jawa Barat sebagai produsen kelapa sawit terlihat saat beliau menyebutkan bahwa:
“Jumlah produksi dari semua komoditas perkebunan di Jawa Barat mencapai 540 ribu ton lebih, tiga komoditas tertinggi ada di kelapa sawit sekitar 175 ribu ton, teh 92 ribu ton dan kelapa 88 ribu ton.” Ucap Deddy saat rakor pembangunan perkebunan Jabar di Bandung, 7 Maret 2017 (Pikiran Rakyat.com).

Lalu, mengapa bisa Jabar yang begitu luas wilayahnya serta memiliki pangsa pasar yang begitu banyak tidak mampu dalam mengoptimalkan lahan potensial milik pemerintah Jawa Barat untuk pengembangan minyak sawit yang justru ada di dalam kehidupan sehari-hari kita ?

Minyak sawit sendiri diambil dari daging buah kelapa sawit spesies Elaeis Guneensis (Departemen perindustrian, 2007, Hlm. 1) yang berasal dari Afrika dan digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit.

Daging dari buah kelapa sawit menghasilkan jenis minyak yang berbeda yaitu CPO dan CPKO, minyak goreng yang berada di pasaran pada umumnya berasal dari buah kelapa hasil turunan crude palm oil (CPO) yang kaya akan asam oleat (asam lemak tidak jenuh) 40%, asam linoleate (asam lemak tidak jenuh ganda) 10%, asam palmitat (asam lemak jenuh) 44%, dan asam stearat (asam lemak jenuh) 4,5%
(Hariyadi, 2014, Hlm. 12) yang dapat bermanfaat bagi kebutuhan tubuh manusia karena proporsi asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang seimbang.

Pangsa pasar yang luas dengan harga yang menggiurkan menjadikan produksi minyak kelapa sawit CPO terus bertambah dengan menambah jumlah pohon dan luas lahan kelapa sawit.

Jawa Barat sendiri sebenarnya memiliki potensi dalam pengembangan minyak kelapa sawit.

Menurut data dari (Dinas Perkebunan Jawa Barat, 2017) wilayah yang potensial dalam menanam kelapa sawit yaitu Bogor, Cianjur, Garut, Sukabumi, Subang dan Kabupaten Bandung Barat dengan jumlah sekitar 14.035 hektar.

Namun pada pelaksanaanya pengembangan produksi kelapa sawit menimbulkan reaksi pro dan kontra di kalangan masyarakat, dampak utama yang menjadi permasalahan ekspansi kelapa sawit adalah lingkungan.

Isu lingkungan yang menjadi sorotan utama diantaranya:

  1. Land Use Changes:
    alih fungsi lahan. Berdasarkan data dari Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO) oleh Agus dkk (2011) menyatakan bahwa dari tahun 1990 hingga 2010 ekspansi kelapa sawit berasal dari hutan primer sebesar 5,3%, shrubland 21% dan sisanya lahan terdegradasi (degraded land).
  2. Global Warming: konsumsi energi yang mengakibatkan meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor pertanian menyumbang sebesar 14%, dimana pada tahun 2010 Indonesia berkontribusi terhadap emisi CO2 sebesar 1,3% atau (410 juta ton/tahun) jauh di bawah Tiongkok, USA, India, Rusia, Jepang, Jerman, Iran, Kanada, Korea Selatan dan Inggris di atas 500 juta ton/tahun (www.iea.org.)
  3. Subsiden Lahan Gambut: Berdasarkan data dari Wosten (1997, Hlm. 25-36) kehilangan karbon tanah gambut karena faktor konsolidasi (pemadatan mekanik lapisan gambut jenuh secara permanen di bawah permukaan air tanah), oksidasi (hilangnya bahan organik tanah karena dekomposisi), dan shrinkage (pengurangan volume tanah gambut di atas permukaan air tanah akibat kekeringan).

Hal inilah yang menyebabkan wilayah di Sumatera maupun Kalimantan sangat rawan terjadinya kebakaran karena emisi gas rumah kaca di lahan gambut setiap tahunnya terus meningkat seiring dengan umur tanaman yang disebabkan karena adanya faktor respirasi akar tanaman kelapa sawit, menurut Winarama (2015) memaparkan bahwa kontribusi emisi CO2 dari respirasi akar adalah sebesar 33%.

  1. Terjadinya Pencemaran Air Tanah (pengurangan kuantitas air): dimana masyarakat harus menggali lebih dalam sumur mereka disaat kekeringan, ekspansi perkebunan kelapa sawit mengakibatkan semakin banyak penggunaan pupuk serta obat-obatan dalam menunjang kesuburan pohon yang berakibat pada proses pembuangan ke sungai ataupun kolam yang menyebabkan pencemaran.
  2. Berkurangnya populasi makhluk hidup:
    Menurut data dari Henson (2003) menyebutkan bahwa ekspansi kelapa sawit dan pengolahannya mengakibatkan berkurangnya populasi hewan yang ada disekitar, seperti ikan, mamalia, serangga, burung, reptil, dan mikrooraganisme tanah yang terancam punah. Berkurangnya spesies tanaman pun terjadi karena adanya penurunan vegetasi tanah akibat dari peningkatan tutupan yang dihasilkan langsung dari tumpang tindih daun.
  3. Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL):
    Kapasitas IPAL yang banyak dan tidak mampu ditampung akhirnya terbuang ke sungai dan mengalami eksternalitas lingkungan seperti gangguan kesehatan, pencemaran air, berkurangnya populasi makhluk hidup, bau yang tidak sedap akibat limbah bahan kimia beracun dan berbahaya (B3) (Utami, 2017, Hlm. 123).

Maka, dapat kita tarik benang merah mengapa Jawa Barat sebagai konsumen terbesar minyak kelapa sawit tidak mampu ditunjang dengan pengembangan produksi pengolahan Crude Palm Oil (CPO).

Besarnya dampak yang ditimbulkan walaupun harga yang menggiurkan membuat para pengusaha di Jawa Barat enggan untuk melakukan ekspansi perkebunan kelapa sawit, selain membutuhkan lahan yang luas juga modal yang besar belum lagi pro dan kontra dari kalangan penggiat lingkungan.

Sebuah solusi sekaligus pengurangan dampak yang begitu signifikan atas hasil dari produksi CPO adalah dengan melakukan pembudidayaan larva yang mana dapat mengurangi jumlah limbah organik maupun organik plastik.

Larva seperti Black Soldier Fly sebagai biokonversi sampah organik Nayar (dalam Fahmi, dkk, 2010, Hlm. 126) yang mampu mendegradasikan sampah tipe polystyrene baik dalam bentuk Styrofoam piring, gelas dan kemasan elektronik dengan jumlah produksi 25%-30% pada tempat pembuangan sampah (Widayat, 2009).

Selain dua larva diatas, terdapat larva Zophobas Mario, yang memiliki kandungan protein 19,06%, lemak 14,19%, kalsium 174 ppm, dan serat kasar 2,60% (Munadi, 2015) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penghasil minyak goreng dari larva tanpa melakukan ekspansi besar-besaran terhadap lingkungan yang dapat menggangu ekosistem alam.

Perlunya kolaborasi/sinergitas antar Akademisi, Business, Community, Government dan Media (ABCGM) dapat mendorong percepatan sekaligus kontribusi kelapa sawit yang berkelanjutan, aman dan ramah lingkungan demi menunjang SDGs 2030 maupun Indonesia Emas 2045.

Bandung, Kamis, 27 Februari 2020

M Karami CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan