banner 728x90

Pentas “Morito dan Dua Pelayan Rashomon” Zulfa Nasrullah : Moral Yang Bergeser

Pentas “Morito dan Dua Pelayan Rashomon” Zulfa Nasrullah : Moral Yang Bergeser

Oleh : Irvan Achmad Fadilah
CJI

Begitu mendengar kata Rashomon, untuk orang yang senang menonton film berdasarkan top rated movies di IMDB, Rashomon tidak asing karena film ini menempati peringkat 122 dari 250 film terbaik sepanjang masa dengan nilai 8,2, salah satu karya agung.
Rashomon disini arahan sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa.

Naskah drama yang berjudul “Morito dan Dua Pelayan di Rashomon” ini pun diakui oleh sang sutradara, Zulfa Nasrullah, meminjam gaya bercerita dari Akira Kurosawa dan mengadaptasi dua cerpen Akutagawa yang mengolah persoalan moral yakni cerpen Kesa dan Morito dan Rashomon.

Pementasan drama yang dilaksanakan di Institut Français d’Indonesie, Kota Bandung, Sabtu (19/10/2019) ini terisi penuh yang sebagian besar penontonnya mahasiswa Univesitas Pendidikan Indonesia.

Sungguh sebuah keunikan sendiri dimana pementasan drama yang berasal dari Jepang dengan segala kejepangannya dipentaskan di sebuah institusi dari negara Eropa. Seperti timur dan barat yang saling bahu membahu dalam sebuah kesenian yang indah.

Kisah ini bermula dari termenungnya seorang lelaki yaitu Morito di sebuah reruntuhan Rashomon yang diguyur hujan deras pada malam hari. Morito dihadapkan pada sebuah janji yang membuatnya sengsara. Ia harus membunuh seseorang yang tidak ia benci untuk seseorang yang tidak ia cinta, yaitu Kesa. Seseorang yang tidak ia benci itu pun ialah suami dari Kesa, yaitu Wataru.
Morito dan Kesa terlibat dalam sebuah hubungan gelap yang menjadi cikal bakal kengerian dari cerita ini.

Dalam bimbangnya Morito, datanglah dua pelayan yang membawa samurai yang tampak juga kebingungan dengan hal yang menimpanya, dipecat dan takut ditnggalkan keluarganya.
Ketiga orang ini ternyata terdapat hubungannya. Morito yang bimbang karena harus membunuh seseorang yang tidak ia benci, menyuruh dua pelayan ini untuk melakukan janjinya pada Kesa tersebut.

Setelah perbincangan yang panjang, ternyata dua pelayan ini ialah mantan pelayan dari orang yang harus dibunuh Morito, yaitu Wataru.
Akhir cerita, Morito yang seharusnya membunuh pun ternyata dibunuh oleh seorang dari dua pelayan tersebut.

Dalam pementasan ini, lighting atau pencahayaan lah yang patut diacungi dua jempol. Pencahayaan pada pementasan ini membuat cerita menjadi begitu estetis dan indah untuk ditonton. Pada adegan dimana ketiga tokoh membuat api unggun pun kerja lighting sangat cakap dengan memberikan efek lampu berwarna merah seperti betul-betul si ketiga tokoh ini sedang berjongkok dihadapan api unggun.

Eksplorasi batin yang dilakukan para aktor sangat memuaskan para penonton. Sosok Morito seperti aktor yang memang dari Jepang dengan vokal yang mirip orang Jepang ini adalah tokoh vital yang memberikan sentuhan kental yang membuat sangat Jepang. Walaupun pada beberapa dialog terjadi ‘slip of the tongue’ yang dilakukan pemeran Morito ini, tertutup oleh penampilan keseluruhan yang ciamik.

Pada kepemeranan tokoh Kesa, terdapat sebuah hal yang membuat kurang puas dalam melihatnya. Dimulai dari vokal yang kurang jepang karena lengkingan yang membuatnya kurang anggun sebagai seorang wanita Jepang. Walaupun ini tentu sebuah kebebasan dari sutradara dalam menginterpresentasikan tokoh-tokohnya akan seperti apa.

Properti yang digunakan pun sangat minim dan tidak menggambarkan jelas sebuah reruntuhan. Hanya terdapat kertas-kertas yang digantung yang mewakili semua reruntuhan itu. Mungkin sutradara ingin menampilkan sebuah latar yang surealis yang membuat penonton harus memikirkan sendiri bagaimana sebuah reruntuhan. Hal ini pun ditunjukkan dengan adegan dimana Morito ingin memberikan uang pada dua pelayan yang uang itu terbuat oleh kertas-kertas yang menggantung lalu disobek-sebek oleh si Morito, sungguh surealis.

Properti yang digunakan oleh dua pelayan, sebuah samurai pun sungguh sangat membuat heran.

Bagaimana sebuah samurai bisa bengkok karena diadukan dengan samurai yang lainnya ?

Samurai yang asli terbuat dari jenis Tamahagane (permata baja) yang menjadikan sebuah samurai sangat kuat. Sungguh sebuah cacat saat melihat sebuah samurai dapat bengkok. Logikanya, sebuah samurai tidak akan bengkok tetapi patah.

Terdapat juga kerusakan audio pada saat berjalannya pementasan yang membuat suasana yang intens pun menjadi sedikit renggang.

Tentu yang perlu diperhatikan dalam pementasan ini adalah harga tiketnya yang melambung tinggi. Bagian orang-orang menengah kebawah yang khususnya mahasiswa yang hidupnya serba harus mengirit, harga tiket Rashomon dan Dua Pelayan di Rashomon membuat dompet meradang.
Durasi pementasan yang dikabarkan hampir dua jam pun ternyata hanya satu jam kurang yang membuat kurang puasnya pementasan ini. Tak sedikit yang mengeluh dan mengumpat di depan parkiran IFI setelah pementasan selesai.

Sebuah kesadaran tidak hanya didapat dari nasehat orang tua atau cacian dari seorang guru, tetapi bisa dari mana saja.
Salah satunya ialah dengan menonton sebuah pementasan drama.

Bagi sutradara, drama ini berpusat pada sebuah moral yang telah bergeser karena bencana alam. Pada interpretasi saya, yang menjadi urgensitas dari cerita ini ialah hal-hal yang kerap terjadi di hidup kita, yaitu perselingkuhan. Secara tidak langsung, drama ini memberikan kita sebuah gambaran, jika kita melakukan sebuah hubungan terlarang yang mana akibatnya akan kita tanggung sendiri.

Terdapat sebuah teori yang dikemukakan oleh Edward Norton Lorenz, dimana sebuah kepakan kupu-kupu di kota A dapat menimbulkan angin topan di kota Z. Teori ini secara sederhananya ialah seperti pepatah orang tua kita, apa yang kamu tanam, apa yang kamu tuai. Kita harus siap dengan resiko apapun apa yang kita lakukan.
Begitupun si Morito ini yang berselingkuh dengan seorang wanita yang sudah bersuami. Nasib Morito pun harus mati karena ulah ia sendiri dan Kesa yang bunuh diri pun karena ia mengamini sebuah perselingkuhan tersebut. Apa yang terjadi jika Morito tidak selingkuh dengan Kesa ?
Bisa saja Morito baik-baik saja dan hidup damai di Jepang dan Kesa pun hidup bahagia dengan suaminya. Kurangnya rasa dharma jika kata Sujiwo Tejo pada bukunya Tuhan Maha Asyik. Rasa dharma ialah rasa wajib, kewajiban yang harus kita lakukan sebagai bagian dari kemanusiaan. Keaadaan pun terkadang memaksa kita akan perbuatan-perbuatan yang salah menurut kemanusiaan. Hal ini pun tergantung pada iman atau kepercayaan pada diri kita akan kebeneran yang ada. Drama ini sungguh menyentil moral kita.

Begitulah pementasan drama Morito dan Dua Pelayan di Rashomon yang diharapkan dapat menyentil dan menyadarkan diri kita akan moral-moral yang bergeser karena keadaan. Morito dan Kesa memberikan contoh konkret untuk memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita jalankan pada tiap-tiap kegiatan atau perbuatan yang akan dilakukan.

Pementasan drama ini sungguh sangat keren untuk dinikmati, hanya saja tiket yang mahal yang membuat penonton kecewa setelah menontonnya.

Bandung, Sabtu, 1 Februari 2020

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan