banner 728x90

Pentas “Kisah Cinta dan Lain-Lain” Ayip Saepudin : Memanusiakan Hewan Menghewankan Manusia

Pentas “Kisah Cinta dan Lain-Lain” Ayip Saepudin :  Memanusiakan Hewan Menghewankan Manusia

Oleh : Irvan Achmad Fadila CJI

Menggelegarnya suara petir mengiringi pementasan teater “Kisah Cinta dan Lain-Lain” karya Arifin C noer yang dipentaskan oleh sanggar sastra Angkatan 2016 Universitas Pendidikan Indonesia yang menambah suasana mencekam amphitheater UPI yang mana anjing milik keluarga Manto sedang sekarat yang bernama Toni. Toni sekarat pada dua sesi pementasan yaitu pada pukul setengah dua siang dan tujuh malam pada hari Rabu (4/12). Sanggar sastra adalah sebuah peminatan yang mewadahi minat para mahasiswa Depdiksatrasia dalam bidang sastra dan pertunjukan drama. Pementasan Kisah Cinta dan Lain-Lain ini disutradarai oleh Ayip Saepudin, mahasiswa Depdiksatrasia. Pementasan Kisah Cinta dan Lain-Lain ini merupakan kali kedua Ayip Saepudin menjadi sutradara sebuah pementasan drama. Drama pertama yang disutradarai oleh Ayip Saepudin adalah drama Perihal Orang Miskin Yang Bahagia tahun 2018.

Lakon Kisah Cinta dan lain-lain ini menceritakan tentang kisah kecintaan seorang Ningrat (Nyonya) kepada Toni anjing peliharaannya melebihi segalanya, tetapi di satu sisi nasib anak pembantu rumah tangganya sendiri diterlantarkan. Dan drama ini merupakan sebuah pembelajaran tentang moral akan kasih sayang dan jalinan cinta pada setiap makhluk sekaligus tentang rasa kemanusiaan terhadap manusia yang terasa sudah hilang.

Pengarang menggambarkan nama beberapa tokoh dengan menggunakan simbol dan beberapa nama lainnya menggunakan nama-nama pada umumnya dan berikut nama para tokoh dalam naskah drama tersebut: Nyonya Manto, Tuan Manto, Dokter, Otong, Willem, Profesor, Dukun, Nyonya Situmorang, Euis, Wartawan, Nyonya Dewi, Pemuda.

Berawal dari obrolan serius Dokter bersama Nyonya dan Tuan mengenai anjingnya bernama Toni yang terbaring sakit dan harapan untuk hidupnya sangat tipis. Semua cara telah mereka lakukan, dengan mendatangkan Dokter, Profesor, bahkan Dukun sekalipun demi kesembuhan Toni.
Sang Nyonya merupakan orang yang sangat terkenal, dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat sekitar hanya disibukkan dengan Toni anjing kesayangannya itu. Tidak ada seorangpun bisa mengubah pendirian Nyonya pada kecintaan dan kesembuhan Toni, sekalipun suaminya sendiri. Nyonya dan Tuan seringkali beradu pendapat ketika sedang membicarakan kesembuhan Toni, meskipun seringkali Tuan yang mengalah dalam perdebatan tersebut dan menuruti kemauan sang Nyonya.

“Apa yang terjadi padamu, kamu sepertinya sudah berubah sekarang, kamu terlihat menyeramkan” Bentak sang Nyonya kepada suaminya.
Akhir dari perdebatan mereka ialah dengan matinya Toni anjing peliharaannya itu yang membuat Nyonya dan Tuan bersedih dan sangat terpukul.

Terlihat pada kutipan berikut “Ini bagaikan petir di siang hari”. Sang Nyonya meluapkan kesedihannya itu dengan tangisan yang tiada hentinya. Hingga sang Nyonya meminta Tuan untuk mengabarkan kesedihannya itu pada semua orang, bahkan meminta untuk mengadakan jumpa Pers. Orang-orang dan wartawan pun hadir untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya anjing kesayangannya itu.

Sementara dibalik kesedihan sang Nyonya dan Tuan ini, terdapat beberapa kisah menarik Otong dan Willem pembantunya itu yang ternyata menjalin kisah cinta dibalik kesedihan sang Nyonya dan Tuan padahal Otong telah memiliki istri. Keadaan semakin memuncak ketika seorang gadis yang meminta dinikahi Otong karena telah hamil muda. Dan yang lebih tragisnya lagi adalah ketika anak si Otong meninggal, tetapi tak seorangpun yang memperdulikan, semua orang sibuk dengan kematian Toni si anjing kesayangan Nyonya.

Pementasan drama ini bisa dibilang banyak sekali cela. Dimulai dari aktor-aktor yang kurang berlatih suara vokal. Pada umumnya, seorang aktor harus bisa mengeluarkan suara yang dapat terdengar hingga ke ujung gedung. Penonton yang duduk dibagian belakang tidak bisa mendengar suara-suara vokal yang disampaikan aktor terlebih pemeran dokter yang diperankan oleh Putri R.F. yang sangat tak terdengar suara dan artikulasinya.

Memang tidak semua aktor bervokal tidak jelas, aktor-aktor seperti Otong yang diperankan Faiz F., Euis oleh Clarisa dan tuan, nyonya Manto yang diperankan M. Hilwan dan Indah D.H. mengeluarkan suara nyaring saat pementasan.

Tokoh Otong pun walaupun nyaring suaranya, tetapi terasa dibuat-buat dalam intonasi yang dipakai oleh si aktor. Drama seharusnya menampilkan sebuah hal yang natural dan tidak dipaksa-paksakan. Komedi-komedi yang ditampilkan terkesan dipaksakan lucu padahal tidak lucu sama sekali. Terlebih pada tokoh professor yang berjalan dibungkuk-bungkukkan dan tidak terlihat seperti orang yang menderita penyakit bongkok. Tokoh professor ini dipaksa lucu oleh sutradara yang mana pemerannya ialah Ayip Saepudin, sang sutradara itu sendiri.

Tokoh Euis yang menarik perhatian penonton yang mana humornya ‘related’ dengan sebagian penonton yang berbahasa Sunda. Euis seorang yang sedang hamil sembilan bulan melontarkan kata-kata
“Gusti nu Agung, ari Agung nu saha?” sambil berteriak dengan histeris.
Kata-kata ini merupakan plesetan dari kata Agung yang bermakna ganda.
Kata Agung bisa bermakna Maha Besar pada Tuhan dan bisa juga nama seseorang.
Jadi tokoh Euis ini mengambil makna Agung ialah nama seseorang dan Agung ini milik siapa kata si Euis.

Dari sisi lighting, Rendi dkk sudah mampu menampilkan sebuah psychedelic show dengan sentuhan warna yang beragam. Psikologi warna yang dipilih pun menambah kuat dari psikologi tokoh yang sedang diperankan.

Dari sisi musik, Jundun dan kawan-kawan menampilkan musik-musik ringan yang menyesuaikan dengan psikologi tokoh. Saat tokoh marah, musik dengan beat tinggi 1/32 pun mengiringi dan saat tokoh dalam keadaan santai, maka musik pun bernada normal dengan beat 1/4.
plot yang digunakan sangat sederhana dan tidak terlalu rumit, tokoh yang memiliki karakter kuat berdasarkan kontras ialah tokoh Tuan dan Nyonya yang memiliki karakter paling kuat dalam naskah drama.
Setting naskah drama tersebut menggunakan setting yang biasa digunakan dalam naskah drama konvensional atau yang sering disebut drama meja kursi,

Lakon Kisah Cinta dan lain-Lain ini sangat erat dengan kehidupan di era sekarang dimana *memanusiakan hewan dan menghewankan manusia*. Toni yang hanya anjing sungguh dicemaskan dan diperhatikan oleh si nyonya sedangkan Otong si pembantu yang memiliki anak sakit dirumahnya diabaikan urgensinya oleh si nyonya karena berfokus pada kesehatan seekor anjing. Hal ini seperti halnya mahasiswa hari ini yang lebih mementingkan *game online* ketimbang dengan interaksi dengan orang tua, teman nyata bahkan perkuliahannya.

Mereka seakan-akan mewajibkan yang bukan wajib dan tidak mewajibkan yang tidak wajib. Lama-kelamaan menjadikan mahasiswa-mahasiswa ini susah berkomunikasi dengan dunia nyata dan mengakibatkan autisme pada akal dan pikirannya.

Banyak lulusan-lulusan sarjana game online yang setelah masuk ke dunia kerja jadi tidak kompeten dan berkualitas.
Hal ini menyebabkan sumber daya manusia di Indonesia tidak bisa berkembang karena banyaknya sarjana-sarjana ini.

Kisah Cinta dan Lain-Lain ini ialah sebuah kisah cinta buta, fanatisme yang mengakibatkan kesalahan nalar seorang hartawan.

Begitulah pentas Kisah Cinta dan Lain-Lain, sebuah pentas yang diharapkan menjadi sebuah pengingat dan penyadaran terhadap kita sebagai bagian dari ras manusia agar tidak melupakan rasa dharma atau kewajiban kita terhadap sesama manusia agar saling tolong-menolong, harga-menghargai dan mendahulukan kemanusiaan dibanding hal yang lain-lainnya. Pementasan ini memberikan kesan kepada penonton setelah pementasan ini selesai.

Dengan persiapan yang terbilang dini yaitu dua bulan, sanggar sastra 2016 terbilang sukses menampilkan drama ini dengan istimewa dan keren. Patut diacungi dua jempol kepada seluruh orang yang terlibat di pementasan ini.

Bravo!

Bandung, Sabtu, 1 Februari 2020

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan