banner 728x90

Akhir Tahun 2019 Adalah Awal Tahun 2020

Akhir Tahun 2019 Adalah Awal Tahun 2020

Baru beberapa jam yang lalu, semua manusia yang hidup di alam dunia telah keluar dari tahun 2019 dan mulai memasuki rentetan 365 hari tahun 2020.

Berbagai hal menyertai selama perjalanan sejarah hidup 365 hari pada tahun 2019. Keberhasilan dan kegagalan silih berganti menyertai atas segala rencana, harapan, cita-cita dan upaya yang telah dilakukan dan diprogramkan.

Beberapa cacatan yang telah ditorehkan selama periode kurun waktu tahun 2019 menjadi jejak digital sulit dihapus dan dihilangkan dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia.

Salah satu hal yang menjadi perhatian paling fenomenal terutama yang menyangkut masalah dan kepentingan perawatan dan penjagaan lingkungan atas keberadaan tanah (bumi), air (darat dan laut) dan udara (oksigen) adalah Masalah Rusaknya *Sungai Citarum*.

Kenapa *Sungai Citarum* menjadi perhatian paling fenomenal dalam dua tahun terakhir ?

Minimal ada beberapa alasan logis yang tidak bisa dibantah oleh nalar manusia.

Pertama, 269 kilometer panjang Sungai Citarum telah memberikan dan menjadi urat nadi jalur air darat yang mengalir dari mulai Hulu Cisanti sampai Muara Gembong Bekasi.

Air Sungai Citarum telah menggerakkan tiga bendungan besar (Cirata, Saguling dan Jatiluhur) yang menghasilkan dan mensuplay tenaga listrik se Pulau Jawa dan Bali.
Matinya aliran listrik se Jawa dan Bali tentu mematikan segala perputaran roda ekonomi dan informasi yang sangat merugikan negara dan bangsa Indonesia.
Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi Negara terancam dan berakibat masyarakat dan warga negara Indonesia menderita secara permanen.

Air Sungai Citarum rusak karena kotor, sampah dan limbah beracun tentu berakibat sangat fatal yang menyebabkan ratusan ribu hektar sawah dan tanah dipaksa mengkonsumsi air kotor dan beracun sebagai nara sumber pangan yang jadi sandaran hidup lebih dari setengah penduduk Jawa Barat.
Tentu saja Ketahanan Pangan Regional dan Nasional Negara Indonesia terancam serius.

Terakhir, rusaknya Air Sungai Citarum yang telah, sedang dan akan dikonsumsi oleh 27,5 juta penduduk Jawa Barat dan lebih dari 80% penduduk DKI Jakarta selama puluhan tahun sangat pasti telah menginvestasikan bibit bencana dalam tubuh semua manusia yang berdampak dan konsumen/pemakai yang bersumber dari Air Sungai Citarum.
Bencana itu pasti datang, tidak bisa dihindari dan negara serta bangsa Indonesia harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk menanggulanginya.

Jadi, rusaknya Sungai Citarum adalah sungguh sebuah kejadian yang *Luar Biasa* membahayakan dan merugikan Ketahanan Air, Ketahanan Pangan dan Ketahanan Energi.
Terutama Fisik dan Mental jutaan Urang Sunda, Jawa Barat dan DKI Jakarta memasuki ranah bencana.

Berapa luasan *Lahan Kritis* yang ada di Indonesia dan Jawa Barat ?

Sejak tahun 2013 sampai 2018 bangsa Indonesia (pemerintah dan masyarakat) telah berhasil meng’Kritis’kan lahan seluas 14.006.450 hektar.
Sebuah pencapaian yang sungguh luar biasa, apapun alasannya.

Pemerintah dan masyarakat/penduduk Jawa Barat tidak kalah dahsyat, telah berhasil meng’Kritis’kan lahan seluas 911.192 hektar (selangkah lagi menuju 1 juta hektar).

Sebuah prestasi dan pencapaian negatif berkehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat buruk. Ancaman ril bagi keberlangsungan hidup masyarakat Jawa Barat dan Bangsa Indonesia ke depan.

Bagaimana dengan perilaku masyarakat dan pemerintah atas rusaknya lingkungan ?

Saruana (begitu Urang Sunda bilang), sama saja antara perilaku pemerintah dengan masyarakat terhadap kelestarian dan ekosistem lingkungan sangat buruk.

Hanya sebagian kecil saja dari (secara individu) pemerintah dan masyarakat yang benar-benar peduli apalagi secara ikhlas berjuang dan membela kepentingan air, tanah, udara dan pohon serta lingkungan.

Selebihnya dan mayoritas hanya sekadar menjalankan program dan tugas institusi/kelembagaan.

Tentu saja semua sangat bergantung pada anggaran/dana yang telah, sedang dan akan dikucurkan.

Tercatat, sekitar 200.000 hektar lahan kritis sepanjang DAS Citarum, mulai dari hulu sampai hilir.
Sekitar 78.000 hektar lahan kritis berada di Hulu Sungai Citarum.

“Ada Uang Program Jalan,
Tak Ada Uang Program Tanpa Jalan !”

Berapa kemampuan Satgas Citarum Harum atau Satgas PPPK DAS Citarum untuk menangani lahan kritis ?

Hanya 1.000 hektar per tahun lahan kritis yang bisa ditanami pohon.
Sungguh, sangat luar biasa lemahnya kemampuan pemulihan yang telah bisa dilakukan.

Simpulannya adalah Urang Sunda dan orang Jawa Barat beserta jajaran pemerintahan Provinsi Jawa Barat untuk bisa menghijaukan seluruh lahan kritis seluas 911.192 hektar butuh waktu 911 tahun.

[ Butuh sekitar 1.000 Pohon untuk hijaukan 1 hektar.
Jadi butuh 911.192.000 batang pohon hanya untuk Jawa Barat saja ]

Satgas Citarum Harum atau PPPK DAS Citarum dan masyarakat butuh waktu 200 tahun untuk menghijaukan seluruh lahan kritis sepanjang DAS Citarum.

Supaya Kawasan Hulu Sungai Citarum (Kawasan Bandung Utara dan Kawasan Bandung Selatan) hijau kembali butuh waktu 78 tahun.

Aduh Gusti, Upami Sang Kuriang masih aya,

Pasti Urang Sunda bakal minta tolong dan bantuan dia supaya menurunkan *bala tentara bangsa Jin* untuk menghijaukan kembali lahan kritis yang telah menginvasi tanah Syurga di Tatar Sunda ParaHyangan.

[ Masalah Air Sungai dan DAS Citarum adalah Masalah Luar Biasa,
Harus ditanggulangi dengan Program Luar Biasa, Kerja Keras Luar Biasa dan Dana Luar Biasa ]

Apakah pada tahun 2020 bangsa manusia yang hidup di Jawa Barat mampu mengembalikan Air Sungai Citarum kembali *’suci’* dan *’bersih’*
&
menghijaukan kembali lahan kritis yang ada di sepanjang DAS Citarum ?

Bandung, Rabu, 1 Januari 2020

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
Pengawal Perpres No 15 Tahun 2018
#PercepatanSebuahKeniscayaan

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan