banner 728x90

Suka Duka Menjadi Petani

Suka Duka Menjadi Petani

Menurut mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), Bangsa Indonesia adalah negara agraris. Artinya banyak warga negara Indonesia yang bisa bertani, minimal bercocok tanam. Dari berbagai komoditas pertanian di Indonesia, primadonanya adalah padi, sebab padi menghasilkan beras dimana beras merupakan makanan pokok lebih dari 50%  rakyat Indonesia.

Bercocok tanam padi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, banyak hal yang harus dipersiapkan, terlebih persiapannya dilakukan sendiri.  Informasi ini saya dapatkan langsung dari Kakek saya yang merupakan petani padi.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bulan (sirkulasi musim tanam). Bulan Desember merupakan musim tanam. Sebelum bulan Desember sampai pertengahan, lahan sawah harus diairi.
Di Desa Jatilaba, hujan datang terlambat sehingga untuk mengairi sawah menggunakan mesin diesel yang berbahan bakar solar.

Lahan diari siang dan malam. Lalu, pupuk disebar dan lahan dicangkul agar gembur. Setelah itu, penanaman dimulai. Jika hujan turun, maka petani tidak perlu menyirami padinya. Jika hujan tidak turun, maka petani harus mengairi padinya menggunakan mesin diesel. Jika hujan lebat hingga banjir, maka air harus dikeluarkan dari sawah menggunakan mesin diesel.

Perlu diingat semua pekerjaan ini dilakukan sendiri, sebenarnya bisa saja menggunakan buruh tani. Akan tetapi, biaya buruh tani relatif mahal, Rp 50.000 hanya membayar kerja dari pukul 8.00 pagi hingga jam 12.00 siang (istilah Sunda ‘ngabedug’).

Setengah hari pun tidak sampai. Petani menengok sawahnya setiap hari, setelah 4 bulan padi siap dipanen. Setelah dipanen, bulir padi harus dipisahkan dari batang utama (jerami), jadilah gabah.

Setelah jadi gabah, tidak langsung bisa dikonsumsi, harus diselip / digiling dulu di selipan padi. Sebelum diselip, padi harus dijemur terlebih dahulu. Perlu diketahui menggiling padi tidak gratis.
Setelah diselip, jadilah beras. Saat sudah jadi beras, lalu dijual.

Beras dibeli, maka dimasak jadilah nasi. Bisa diolah jadi berbagai varian.
Saat digoreng jadilah nasi goreng, kalo gosong namanya “intip”, jika direbus dengan air yang banyak sambil diaduk, jadi bubur dan masih banyak lagi olahan per-nasi-an di Indonesia.

Sawah Kakek saya luasnya setengah hektar (dulu 3 hektar, tetapi dijual untuk membayar ongkos hajji).

Pada bulan Desember digunakan untuk padi hingga April. Dari bulan Mei tanam padi lagi hingga Agustus. September baru menanam jagung.

Tahukah anda berapa harga bibit padi ?

BIbit padi 5 kg harganya Rp 70.000. Untuk lahan setengah hektar, butuh 20 kilo bibit artinya Rp 280.000. Untuk pupuk yang digunakan, dibutuhkan 2,5 kuintal (kebutuhan setengah hektar).
Sedang harga 1 kuintal pupuk adalah Rp 190.000 artinya untuk pupuk habis Rp 475.000.

Ada masalah dalam urusan pupuk yaitu distribusi kurang baik. Kakek saya kesulitan mendapatkan pupuk, bukan masalah harga, tetapi ketersediaan (pasokan). Seringkali pupuk sudah dibeli dalam jumlah besar (diborong) oleh petani yang memiliki modal besar, sehingga petani kesulitan mendapatkan pupuk. Pupuk yang kita bahas adalah pupuk bersubsidi, yang tidak bersubsidi harganya
Rp 250.000/kuintal.

Untuk harian, dibutuhkan solar untuk mesin diesel, sebab bagaimanapun juga hujan tidak turun setiap hari. Untuk kurun waktu 4 bulan, Kakek saya habis solar kurang lebih 100 liter, sedang harga seliternya
Rp 5.150.
Dari lahan setengah hektar, jika cuaca bagus, maka bisa dapat hasil panen (4 bulan) 2 ton.

Harga jual gabah ke tengkulak adalah
Rp 600.000/kuintal, bahkan kalau panen raya bisa turun harga menjadi Rp 450.000/kuintal. Kalo menjual ke tengkulak harus dalam bentuk gabah.

Jadi dengan luas lahan garapan setengah hektar, biaya total ngegarap 1 periode saja (4 bulan) habis Rp 280.000 (bibit) + Rp 475.000 (pupuk) + Rp 5.150.000 (bensin) =
Rp 5.905.000 .
Itu semua menghasilkan
2 ton = 20 kuintal.
20 kuintal x Rp 600.000 =
Rp 12.000.000.

Profit = Rp. 6.095.000 per 4 bulan. Artinya Rp 1.523.750 per bulan, itu belum termasuk resiko cuaca buruk, gagal panen, resiko hama dan fluktuasi harga.

Tidak heran orang lebih memilih jadi buruh pabrik dengan gaji UMR dibandingkan jadi petani. Jadi petani pemasukan kecil, capek pula. Benar benar hebat orang yang menjadi petani, mentalnya kuat (fisik apalagi), resiko tinggi, mandiri tingkat tinggi, pokoknya keren deh.

Sayang sekali, branding / image petani benar-benar menyedihkan. Anak kecil kalau ditanya cita-cita pasti banyak yang gamau jadi *petani*, kalaupun ada yang kepingin jadi petani pasti diketawain. Sungguh sedih nasib pahlawan pangan negara kita. Semoga pemerintah melalui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bisa membawa kesejahteraan bagi para petani, memberikan kejayaan dunia pertanian dan pangan hingga Indonesia bisa menjadi *lumbung pangan dunia.*

Tegal, Jum’at, 27 Desember 2019
-Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan