banner 728x90

Perjalanan; Pergi Untuk Kembali

Perjalanan; Pergi Untuk Kembali

Tinggal di Indonesia dimana toleransi dijunjung tinggi, maka ada banyak tanggal merah Nasional untuk memperingati berbagai perayaan hari besar keagamaan dari berbagai agama di Indonesia.

Pada tanggal 25 Desember 2019 Indonesia memiliki tanggal merah dalam rangka hari Natal. Saya Rizal Ul Fikri, memanfaatkan libur Natal yang berbarengan dengan libur semester untuk pulang kampung. Entah bagaimana saya mendefinisikan kampung halaman, Bapak saya berasal dari Semarang sedang Ibu saya berasal dari Tegal. Saya sendiri lahir di Bandung. Entah asas apa yang dianut dalam menentukan entitas suku. Sebab secara ‘ius sanguinis’ (keturunan), darah saya adalah Jawa. Sayangnya meskipun berdarah Jawa saya tidak bisa berbicara Bahasa Jawa.

Secara ‘ius soli’ (tempat kelahiran) saya adalah putra Jawa Barat, saya adalah Sunda (Ideologis), saya fasih berbicara Bahasa Sunda, saya lahir dan tumbuh besar di Tatar Sunda Jawa Barat.

Tanpa memandang ‘ius soli’ dan ‘ius sanguinis’, saya menganggap Semarang, Tegal dan Bandung sebagai kampung halaman saya, bahasa kerennya *“lemah cai”*.

Pada tanggal 25 Desember 2019 saya berangkat ke Tegal untuk menengok Kakek dan Nenek saya dari Ibu. Saya berangkat pukul 7.00 pagi dari Bandung. Saya melewati Jalur buatan Daendels (Gubernur Hindia-Belanda di masa lalu) melalui Bandung Timur ke Sumedang melewati Cadas Pangeran.

Cadas Pangeran sangat menyenangkan, udara pagi yang sejuk, pepohonan yang rindang, tebing di kiri dan jurang di kanan, ditambah jalan yang berkelok serasa naik simulator. Saya menggunakan kendaraan sepeda motor matik, honda beat tahun 2019.

Perbuatan menyalip kendaraan, (perilaku) bodoh yang berbahaya. Namun, ragu-ragu lebih berbahaya dari bodoh.
Ragu-ragu + bodoh = celaka. Dibutuhkan keberanian dan ketepatan waktu dalam menyalip kendaraan. Terutama saat di Cadas Pangeran, perhitungan harus tepat karena banyak berurusan dengan (mobil) elf balap.

Dari Sumedang, lanjut ke Kadipaten, bagian dari Kabupaten Majalengka. Disini sangat sepi, jalan kosong, saya mengendarai motor saya hingga kecepatan 80 km/jam.

Dari Kadipaten, saya melewati Cirebon, udara panas ala lautan sangat terasa disini. Setelah Cirebon, lalu Losari, sampailah saya di Jalur Legendaris “Pantura”.

Ini adalah jalur di sepanjang Pantai Utara Pulau Jawa. Disini saya bersaing dengan Bus Antar Kota Antar Provinsi yang sangat cepat, Truk Gandeng, Trailer, Tanker dan Kontainer. Saya memacu kendaraan hingga 90km/jam. Sangat kelelahan bertarung dengan tiupan angin lautan, saya berusaha keras agar tidak oleng saat tertiup hembusan angin laut Utara Pulau Jawa.

Hal yang membuat saya sedih adalah sawah-sawah yang saya kenal di masa lalu banyak yang sudah beralih fungsi menjadi pabrik dan bangunan.

Saya tidak melewati jalur utama melewati Tegal Kota, saya berbelok di Brebes dan menggunakan jalan kampung untuk mencapai rumah Kakek saya. Melewati jalur Jatibarang, saya melewati hamparan sawah dan hutan jati milik Perhutani. Saya akhirnya sampai di Desa Jatilaba Tegal (rumah kakek saya) pada pukul 1 siang.

Perjalanan pergi untuk kembali, bahasa kerennya “Pulkam”.
Itu cerita pulkam saya, mana cerita anda ?

Tegal, Kamis, 26 Desember 2019
-Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan