banner 728x90

Deadliner Mahasiswa dan Manajemen Waktu

Deadliner Mahasiswa dan Manajemen Waktu

Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk belajar. Dari berbagai pembelajaran, ada tugas didalamnya. Entah tugas yang dilaksanakan di kampus ataupun di rumah, baik praktek maupun tulisan. Semakin tinggi tingkat (strata) pendidikan, maka intensitas tugas semakin banyak dan tingkat kesulitan tugas pun semakin tinggi.

Tidak terkecuali bagi mahasiswa, terutama yang sudah berada di Semester 5. Di masa ini, tugas datang silih berganti bagai badai dan hujan. “Gugur satu tumbuh seribu”, mungkin adalah ungkapan yang cocok untuk mendeskripsikan bagaimana intensitas dan kesulitan tugas mahasiswa Semester 5.

Semester 5 memang berat, semester 5 berkuliah di Politeknik lebih berat lagi. 70% materi pembelajaran dan tugasnya merupakan praktek. Dengan jam perkuliahan yang lebih pabrik daripada pabrik, yaitu masuk jam 7.00 pagi pulang jam 17.30 (belum ditambah kelas bengkel atau lab).

Kenapa lebih pabrik dari pabrik ?

Ayah saya adalah buruh pabrik, beliau masuk jam 8.00 dan beres jam 17.00 . Dengan jam yang padat, masih pula diperberat dengan aturan bahwa jika ada mata kuliah yang mendapat nilai E maka ‘auto drop out’.

Jadi kuliah di Politeknik tidak boleh bodoh apalagi malas. Kami dididik dengan disiplin tingkat tinggi, dimana terlambat 1 menit, maka dianggap tidak hadir selama 1 jam perkuliahan.
1 jam perkuliahan tidak hadir, maka harus mengganti jam tersebut dengan bekerja di Kampus selama 5 jam. Mulai dari pekerjaan mencabut rumput, mengecat gedung, membersihkan lab, filing, tugas administratif hingga tugas ekstrem seperti membersihkan toilet.

Seperti sudah dikatakan menjadi mahasiswa semester 5 berat, kuliah di Politeknik lebih berat, apalagi aktif organisasi, lebih berat lagi. Entah apa yang aneh, dikampus saya meskipun jadwal kuliah sudah cukup berat, mahasiswa masih lebih memberatkan dirinya dengan ikut berperan aktif berorganisasi baik tingkat jurusan maupun pusat. Mereka menganggap tidak berat karena menjadi anggota organisasi kampus merupakan kebanggaan.

Bayangkan saja, beres perkuliahan masih melakukan kumpul organisasi, bahkan hingga malam. Setelah pulang ke rumah atau kosan masih disibukan oleh tugas, baik tugas akademik maupun tugas organisasi.

Dengan semua kegilaan kegiatan di kehidupan kampus Politeknik, segala hal tersebut bukan masalah jika mengerti manajemen waktu. Permasalahannya, lebih dari 50 % mahasiswa merupakan ‘deadliner’ atau pekerja tenggat waktu. Mereka banyak yang baru serius mengerjakan sesuatu jikalau sudah dekat dengan tenggat waktu.

Mungkin mereka terlalu banyak mengidolakan sosok *Sangkuriang* (harus buat perahu dalam semalam) atau Bandung Bondowoso. “Seribu candi aja bisa selesai H-1, masa iya laporan PBL harus selesai H-7”.

Begitulah yang pada akhirnya banyak membuat mahasiswa stress, terkena mental ‘illness’, jam tidur tidak teratur, makan tidak teratur sebab sudah salah sejak dalam pikiran.

Masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh, ini bahkan belum separuhnya beban dunia nyata. Sadarlah intinya adalah tentang manajemen waktu.
Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah *belajar menulis* dan membuat agenda harian. Dengan ini, maka kita mempunyai perencanaan tentang hal yang harus dilakukan, orang yang harus ditemui dan janji untuk ditepati.
Semua ini akan melatih kemampuan menulis dan merencanakan.

Ingatlah, gagal merencanakan sama dengan merencanakan gagal. Selain perencanaan, agenda harian akan membuat seseorang tampak lebih professional, (pang pang na mah asa gaya we mun nyatat agenda harian, siga nu heueuh, tapi da bener).

Jadi, tidak ada hal yang tidak bisa diubah sebelum dihadapi. Evaluasilah kegiatan, apa benar sibuk atau pura-pura sibuk, jangan jadi stress gara-gara deadline.

Jadilah profesional, minimal dengan membuat agenda harian.

Cimahi, Sabtu, 14 Desember 2019
-Rizal CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan