banner 728x90

Belanda dan Summarecon Apa Persamaannya?

Belanda dan Summarecon Apa Persamaannya?

Do you know?

Belanda yang telah “menjajah” dan “mengeksploitasi” Nusantara yang kaya akan Sumber Daya Alam sejak ratusan tahun lalu meninggalkan peristiwa sejarah yang berulang dengan Summarecon di masa kini?

Mari kita belajar kebelakang!! JAS MERAH “Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah”

Eropa telah bercokol di kepulauan Nusantara sejak abad 16 di wilayah timur tepatnya Maluku.
Dikuasainya Pelabuhan Konstantinopel oleh Islam mengharuskan bangsa Eropa mencari pasar perdagangan baru nun jauh disana, pelayaran yang dilakukan oleh para pelaut Spanyol atas perintah Ratu Isabel melalui Magelhaens menyusuri jalur pelayaran para pelaut sebelumnya menuju pulau emas di wilayah timur membuahkan hasil.

Christopher Columbus yang hanya berlayar hingga Tanjung Harapan di wilayah Afrika Selatan mendorong para pelaut lain berambisi untuk menemukan pulau emas tersebut.
Disisi lain, Portugis yang “kepanasan” melihat hal tersebut sama-sama melakukan perjalanan mencari wilayah jajahan yang nampaknya membawa permasalahan antara dua negara yang berdampingan ini.

Diputuskannya Perjanjian Saragosa membuat keduanya berakhir pada pertemuan di wilayah Nusantara tepatnya Mollucen (Maluku).
Wilayah Indonesia yang kaya akan rempah-rempah ini menjadi tanah rebutan bagi keduanya dengan cara mengadu domba antara penguasa pribumi yaitu Kesultanan Ternate dan Tidore yang pada saat itu sedang berkuasa.

Imperialisme kuno dengan semboyan (3G)
“Gold, Glory, Gospel” mendorong bangsa-bangsa Eropa lain melakukan hal yang sama, terlebih jalur pelayaran telah terbuka lebar dan menjadi celah untuk menemukan pulau-pulau baru yang kaya akan Sumberdaya Alamnya.

Kehadiran Belanda, Inggris, Perancis sebagai pendatang baru, menjadikan bumi ini seakan jadi “tanah rebutan” diantara mereka. Hadirnya Kongsi Dagang
VOC Belanda dan EIC Inggris yang kuat menjadikan kedua negara bersaing untuk mendapatkan bekas jajahan bangsa terdahulunya (Portugis dan Spanyol) di wilayah Asia.

Singkat cerita,
Belanda yang telah menjajah dan menguasai Nusantara sejak ratusan tahun lalu melalui Kongsi Dagang ‘VOC’ dan monopoli perdagangan membuat negara kincir angin ini menjadi kaya raya dan mampu membayar hutang-hutangnya dengan penghasilan 300 juta gulden lebih.

Sungguh angka yang fantastis!!
Coba saja hitung,
berapa keuntungan yang didapatkan ??

Hal yang sama juga terjadi pada masa setelah kemerdekaan RI, selama 32 tahun berkuasa, Soeharto dan ‘Gank’ Cendana memiliki harta yang berlimpah dengan memanfaatkan program-program yang dijalankan sang bapak pembangunan tersebut melalui Repelitanya.

Lalu, bangsa Belanda ketika sudah kaya pasti akan berpikir kepada hal-hal yang berhubungan debgan estetika dan tempat “paniisan”.

Coba saja lihat,
Kantor Rektorat UPI di depannya terdapat Kolam Besar yang dikelilingi pohon rindang.
Lalu ada Taman Maluku yang dekat dengan Kantor Kodam III Siliwangi.
Juga Gedung Balai Kota yang memiliki taman dan pohon rindang.

Semua itu telah didesign sedemikian rupa oleh Belanda agar terlihat estetis.
Apalagi setelah dibangunnya Kebun Binatang Bandung (Derenten) yang merupakan gabungan antara kebun binatang di Cimindi dan Dago Atas melalui tangan Traffes dengan wilayah yang strategis dekat pusat akademik ITB dan tempat paniisan “Dago”.

Bagaimana dengan kekinian ?

Hal sama juga terlihat dari Summarecon yang secara tidak langsung mengikuti jejak langkah Belanda dahulu kala dengan membangun Kawasan Pemukiman dan Bisnis yang telah mengusik habitat Burung Belekok yang mendiami wilayah Rancabayawak.
Pembangunan danau buatan serta penanaman pohon-pohon yang telah didesign sedemikian rupa membuat Burung Kuntul atau dengan nama latin Ardeolla Speciosa dipaksa pindah dari habitat aslinya.
Dari Kampung Belekok sebagai tempat Konservasi ke daerah danau buatan.

Lantas akan dikemanakan tempat konservasi Burung Belekok ?

Akan dikemanakan Ruang Terbuka Hijau di tengah pusaran kota teknopolis tersebut jika Belekok-belekok akan pindah ?

Begitu Ruang Terbuka Hijau tidak ada, masihkah ada Burung-Burung Belekok itu ?

Bandung, Kamis, 5 September 2019

By : Rizki Karami CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan