banner 728x90

Perpres No 15 Tahun 2018, PerGub, PerWal&PerBup VS Peraturan Aki “Kade Jang, Ulah Nga Remeh !”

Perpres No 15 Tahun 2018, PerGub, PerWal&PerBup VS Peraturan Aki “Kade Jang, Ulah Nga Remeh !”

Penyakit kronis dari ‘stag’ dan ‘mandeg’ serta tidak jalannya sebuah atau banyak
PerPres, PerMen, PerGub, PerWal dan PerBup adalah anggaran.

Kenapa semua Per-Peran itu tidak jalan sampai hari ini ?
[Kurang sosialisasi, tidak ada SDMnya dan tidak ada anggarannya]

Sungai Citarum bermasalah puluhan tahun terutama sejak tahun 1990 an sampai sa’at ini.
Kerusakan lingkungan, Sampah dan Limbah jadi pokok bahasan tak berujung.
Manfa’atnya hanya gundul, longsor, banjir, air dan makanan beracun, kekeringan dan masyarakat hidupnya miskin dan penyakitan (lahir batin).

Hari ini semua orang berlomba jadi ahli dan pakar di bidang apapun.
Nyatanya, tidak ada seorangpun yang bertindak sebagai ahli dan pakar.

Semua orang di’nina-bobo’kan oleh jargon dan semboyan
“Serahkanlah semua (urusan) pada ahlinya !”

Hasilnya, seperti dan layaknya siklus dunia pendidikan formal kita yang penuh dengan formalitas dan aturan yang hanya ‘membunuh’ potensi dasar manusia dan menghabiskan waktu belaka.

[Seseorang tidak bisa jadi Doktor (S3) sebelum lewati Master (S2), pun tidak bisa jadi Master (S2) sebelum lewati Sarjana (S1)… keburu habis masa dan pensiun, ilmu apapun tidak bisa diterapkan]

Ke’arifan Lokal dan Kesalehan Sosial tidak perlu waktu lama dan tidak perlu formalitas untuk dilakukan.

Siklus sosial dan lingkungan setiap sa’at bergerak dan berputar.
Hasil akhirnya adalah semuanya berubah setiap sa’at.

Sang Aki tidak perlu sekolah dulu atau harus jadi pejabat dulu supaya bisa buat aturan
[ Peraturan Aki layaknya ‘Per-Per’ lainnya]

Cukup dengan satu kalimat sederhana pada waktu yang sangat tepat, ketika semua anggota keluarga sedang ngariung ngumpul sa’at makan

“Kade Jang, Ulah Nga Remeh !”

[Begitu kalimat singkat dan sederhana Sang Aki kepada ‘incu’ cucunya.
Efektif dan sangat humanis]

Efek budayanya adalah seorang anak manusia setelah mendengar ‘Peraturan Aki’ yang hanya dilakukan secara verbal, pada alas atau media makan (piring) tidak ada satupun nasi yang tersisa.
Bersih !

Apakah ‘Remeh’ itu sebenarnya ?

Remeh adalah satu atau beberapa butir nasi yang tersisa (atau disisakan) pada alas makan (wajan atau piring) setelah selesai prosesi makan.

Ah, pira oge remeh !
Ya, sangat benar alasan itu,
tapi mari kita kaji dan analisis.

Satu orang meninggalkan satu ‘remeh’, ya benar hanya satu saja.

Think about it !
Penduduk Jawa Barat ada sekitar 50 juta jiwa.
Setiap orang membuang satu ‘remeh’, maka

Satu (1) ‘remeh’ X 50 juta jiwa = 50 juta ‘remeh’.
50 juta ‘remeh’ X 3 kali waktu makan X 30 hari
= 4.500 juta ‘remeh’
4.500 juta ‘remeh’ X 12 bulan
= 54.000 juta ‘remeh’

Selama 30 tahun
54.000 juta ‘remeh’ X 30 tahun
= 162.000 juta ‘remeh’

[ Hitung ! Ketika bukan hanya satu (1) ‘remeh’, tapi
satu sendok/ piring/ ember/ ting bahkan kontainer…

Juga, bukan hanya satu (1) ‘remeh’, tapi
keresek/ plastik apapun/ dsb

Coba hitung sendiri ! ]

Hari ini ‘remeh’ telah keluar dari habitatnya, maka beranak pinak lah menjadi
sebuah kata yang banyak sekali dipake orang untuk memberi stigma sangat negatif dan sangat menggerus ke’muliaan’ dan kesempurnaan manusia.

Remeh dikembangkan jadi
Diremehkan
Meremehkan
Teremehkan

Semua itu merupakan suasana batin yang sangat memilukan.

Itulah penyebab utama kenapa sebagus dan sekumplit apapun
PerPres, PerMen, PerGub, PerWal dan PerBup
tidak pernah berefek guna dan tuntas di lapangan.

Yang berlaku bukan hanya sekedar buat aturan, sosialisasi dan anggaran.

Namun, semua ini harus dikembalikan pada kodratnya yaitu kebutuhan dasar setiap manusia adalah tentang rasa kemanusiaan.
Rasa itu hanya ada pada fikiran, mind set.

” Kade Jang, Ulah Nga Remeh ! ”

Kalimat mumpuni yang menyentuh ‘mind set’, cikal bakal kebiasaan dan budaya.

Sampah, Limbah & Tebang Pohon adalah ‘Remeh’.

Yang utama adalah
Jadikan setiap individu/insan/pribadi masyarakat Sunda dan semua yang hidup di Jawa Barat sebagai seorang manusia pilihan dan sangat penting.

[Bukan hanya sebagai seorang Sampah, Limbah dan Racun belaka]

Bandung, Senin, 2 September 2019

Muhammad Zaki Mubarrok Citizen Journalism Interdependen
CJI

 

sumber gambar : http://buyung101.blogspot.com/2013/11/piring-kotor.html

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan